Friday, April 9, 2010

Yusuf Muhammad Shalda

Nama itu masih sering terngiang di benakku. tiap mengingat namanya, tak terasa titik bening meleleh dari sudut mataku. semua berawal dari tanggal 13 Desember 2009 lalu. ketika jawaban atas segala doa kurasa telah dijawab oleh-Nya. dua strip merah tampak nyata pada sebuah alat pengukur kehamilan yang kupegang dengan tangan tak henti bergetar... bahagia rasanya ada makhluk yang kini berdiam di rahimku.

Hadiah akhir tahun, mungkin juga hadiah ulang tahun untuk suami dan ayahku yang merayakan hari jadi di bulan Desember. Bagiku itu adalah anugrah terindah yang kudapatkan dari penantianku yang tidak sebentar (menurutku sih...tapi sebentar itu relatif, memang)

Karena tidak percaya dengan hasil test pack, aku memilih untuk cek langsung ke dokter kandungan, namun karena kantong kehamilan belum terlihat, kami menunda untuk memberitahu siapapun sampai dokter mampu menunjukkan bukti bahwa aku benar-benar sudah mengandung.

2 minggu kemudian kami pergi ke dokter untuk melihat apakah sudah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan gejala positif kehamilanku. kata dokter, kantongnya sudah ada, tapi janinnya belum kelihatan. Setidaknya kami bisa sampaikan pada orangtua kami bahwa mereka akan segera punya cucu.

Di awal kehamilanku sering sekali aku merasa mual dan nafsu makan yang melonjak gila-gilaan. Tiap 3 jam harus ada makanan yang masuk untuk ku kunyah, jika tidak aku akan kelabakan mencari apa saja (i mean it...apa saja) yang bisa kumakan. Tubuhku bertambah lebar dan bajuku kian sesak... tapi aku tidak peduli, selama aku tau Yusuf tumbuh sehat di dalam sana.

Rasa mual memang sering kurasakan, namun aku tidak pernah muntah-muntah ataupun mengalami morning sickness seperti yang banyak orang keluhkan. aku juga tidak punya permintaan aneh-aneh (yang orang kebanyakan bilang sebagai "ngidam") Aku bersyukur, dan banyak yang memuji kalau Yusuf sangat pengertian pada bundanya. Dia tahu kalau bundanya tiap pagi harus mengajar, jadi mual hanya terjadi setelah aku pulang kantor dan tidak pernah sampai muntah.

Minggu ke 10 kami mengunjungi dokter lagi untuk cek keadaan Yusuf. Dari hasil USG terlihat Yusuf tumbuh sehat dengan panjang 3 cm. karena begitu senangnya, kami minta print-out foto Yusuf (yang tidak kami sangka bahwa itu adalah foto pertama dan terakhirnya).

Minggu ke 13, aku mengalami flek, namun aku tidak langsung ke dokter dan menunggu jadwal periksaku 3 hari setelahnya. Senin, 8 Februari 2010 aku cek ke dokter Ivanna sekaligus menanyakan gangguan-gangguan yang kurasakan seperti pegal-pegal di bagian tulang belakang bagian bawah. Dokter memintaku untuk USG lagi. Tak seperti biasanya, Dokter Ivanna tampak kesulitan menemukan posisi janin dan mengernyit sambil meminta asistennya memeriksa berkas-berkasku.

Dokter Ivanna menanyakan apakah benar kehamilanku sudah mencapai usia 14 minggu, beliau kembali menghitung dengan kalender miliknya dan tampak tidak yakin. Kata beliau, di usia itu, janin sudah menunjukkan pergerakan dan detak jantung sudah terdeteksi. Tapi Yusuf tidak bergerak dan detak jantungnya belum terdeteksi. Ia memintaku untuk istirahat total seminggu dan jika dalam minggu yang sama terjadi perdarahan, aku harus segera ke Rumah Sakit.Yang sedikit mengherankan, Dr Ivanna juga bilang kalau janinku mengecil dari 3 minggu sebelumnya, perasaanku sudah semakin tidak nyaman apalagi saat beliau memberikan obat penguat kandungan dosis tinggi untukku.

sampai di rumah, aku tak kuasa menahan tangis, yang bisa kulakukan hanya berdoa semoga Yusuf baik-baik saja di dalam sana.

Rabu, 10 Februari 2010 jam 3 sore, aku pendarahan lagi, segera kuminta sahabatku untuk mengantarkan ke Rumah Sakit. kata dokter jaga, jalan lahirnya belum terbuka, jadi janin kemungkinan masih bisa selamat, aku boleh pulang lagi tanpa diberi obat tambahan.

Kamis pagi, perdarahanku berhenti total, tapi seusai maghrib, aku perdarahan lagi (dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya). Aku segera diantarkan ke dokter dan dimita untuk cek urin. Kata dokter jaga, kandungan HCG dalam urinku tidak mampu memberi hasil positif untuk uji kehamilan dengan test pack, segera infusku dipasang dan darahku diambil untuk test lab.

Jam 9 malam dokter Ivanna datang untuk memeriksa jalan lahirnya. "Masih tertutup" kata beliau. "Besok pagi kita cek lagi dengan USG ya Bu, jika ada pergerakan atau detak jantung janin, kemungkin kehamilan Ibu bisa dipertahankan" karena sampai jam 8 malam, Yusuf belum menunjukkan pergerakan atau detak jantungnya.

Malam itu aku tidak mampu memejamkan mata, diiringi suamiku yang membacakan surat Yusuf, aku terus berdoa dan berharap Yusuf bangun dari tidurnya dan menunjukkan tanda-tanda bahwa ia "hidup". Kami masih merasa bahwa Yusuf pasti mendengar apa yang kami bisikkan padanya.

Pagi jam 9, aku dibawa ke ruang USG. Kami menunggu cukup lama untuk memastikan pergerakan Yusuf. ternyata ia tidak juga bergerak ataupun berdetak. setelah di cek, panjang Yusuf tidak mencapai 3 cm, yang berarti berkurang dari panjang terukurnya yang terakhir. bahkan, panjang Yusuf yang sekarang adalah ukuran janin usia 8 minggu, padahal usianya sudah 14 minggu.

Dokter memberi pilihan, jika kami berniat mempertahankan, kemungkinan yang terjadi ada 2, perdarahan lebih hebat dan janin akan keluar sendiri, atau janin tak akan keluar selamanya, namun akan membatu dan mengganggu kehamilah selanjutnya. Namun jika kami mengikhlaskan, Yusuf harus dipaksa dikeluarkan dengan kuret.

Dengan pertimbangan bahwa jalan ini adalah jalan terbaik untuk Yusuf dan untukku, kami menandatangani surat persetujuan pemasangan alat pembuka jalan lahir dan persetujuan pelaksanaan kuret.

Jam 9.30 alat pembuka jalan lahir dipasang. Rasanya sungguh sakit luar biasa, tapi yang lebih menyakitkan rasa sakit yang ada di dalam hatiku. Aku bersyukur suamiku menemaniku di saat-saat tersulit itu dan selalu mengingatkan aku untuk istighfar dan menyebut nama Allah.

Selesai pembukaan jalan lahir, aku harus menunggu jam 13.00 (setelah sholat Jumat) untuk pelaksanaan kuret. Beruntung bapak dan ibu datang dari Jogja, begitu juga teman-teman kerja tercintaku yang datang memberi semangat. mereka membawa surat berisi doa yang dibuat oleh anak-anak didikku di TK.

Jam 12.15, aku disiapkan di ruang operasi. tidak ada yang boleh menemaniku masuk ruang operasi. Dokter anestesi memintaku untuk berdoa terlebih dahulu, selanjutnya aku sudah tak ingat apa-apa.

Sayup-sayup kudengar suara Adzan yang dikumandangkan suamiku, namun aku masih belum mampu bicara atau membuka mata. saat akhirnya aku sadar, aku langsung menanyakan dimana Yusuf. Antara sadar dan masih dalam pengaruh obat bius, aku melihat Yusuf. Tak ada airmata, hanya senyap...

Untuk Yusufku yang kini sudah tenang disana, Bunda cuma ingin bilang "Bunda sayang Yusuf, Allah pasti sudah menyiapkan tempat terindah untukmu di sisi-Nya nak...Doa kami senantiasa menyertaimu"

Maaf ya sayang, Bunda belum bisa tengok Yusuf di Jogja, kalau Bunda sudah kuat, Bunda pasti tengok Yusuf. Yusuf dijagain Eyang dan uncle kok di sana. Baru 2 hari berpisah darimu, Bunda sudah rindu kamu sayang...

"Dan aku beruntung, sempat memilikimu..."

No comments:

Post a Comment