Thursday, May 13, 2010

hitting children

Baru kemaren pagi saya dilapori sama salah seorang teman saya siswa KGE A. Dia datang tergopoh-gopoh sambil setengah berteriak..."Miss Aya...Andre (bukan nama sebenarnya) nangis!" Saya yang saat itu sedang asik menemani anak browsing buku jadi memusatkan konsetrasi saya pada ceritanya. "Itu lho Miss, Andre sama Londi (bukan nama sebenarnya juga :p) nangis bareng.

Saya segera menuju TKT (tempat kejadian tangis menangis * eh seharusnya TKTM yawh?* dan meminta penjelasan kepada dua anak yang menangis tersedu-sedu.
Saya: What happen?
Andre (sambil menangis juga): Huhu... I hit Londi Miss
*batin saya, nah lho yang mukul die kok die nyang nangis???*
Saya: Why??? (tanpa menunjukkan wajah interogatif dan melotot tentunya :p)
Andre: He's not making a line. He stand on my line...
Saya: Was it Londi?
Londi : yes Miss...

Owhhh... jadi yang satu menangis karena dipukul, dan yang satu menangis karena sebenarnya tidak tega melihat teman yang dipukulnya menangis.

Parents, terkadang anak usia dini terkesan impulsif dengan melakukan hal yang tidak dikehendakinya (bukannya kita juga begitu yawh???) Mereka melakukan itu bukan karena benar-benar ingin menyakiti teman kok, dan kita cenderung mengatakan "Tuhh.. kan nakal lagi, makanya temennya nangis..." Padahal parents, kata 'nakal' sebenernya adalah kata yang abstract buat anak-anak. cukupah kita tanya alasannya mengapa anak berbuat demikian, biasanya mereka punya alesan yang reasonable kok :) misalnya : karena gak boleh ikut main, gak boleh pinjam mainan, bilang kalau rambutnya jelek, bilang kalo hasil gambarannya jelek, atau menyerobot antrian untuk sikat gigi.

Menurut parents, apakah alasan anak2 itu alasan yang terlalu sederhana? saya rasa tidak. bagi mereka dunianya adalah 'bermain' dan jika tidak bisa 'bermain' itu adalah hal yang sangat sensitif untuk mereka.

Ada juga anak yang memukul karena terbiasa melihat aktivitas "pukul-pukulan" baik itu di TV atau di lingkungan rumah. biasanya anak sangat pandai meng-imitasi orang dewasa, karenanya orang dewasa di sekitar anak (parents tentu amat sangat diidolakan oleh anak) sebaiknya memberikan model yang baik. Kalo pengen anaknya rajin baca buku, orang tua harus kasih contoh. Kalo ingin anak gak memukul, pastinya orang tua juga jangan sampe melakukan hal itu. 

Intinya kalau mereka 'bermasalah', usahkan cari tau masalahnya dan bantu mereka mencari solusi untuk kebaikan kedua belah pihak. Jadi kata-kata "Habis kamu nakal sih...." itu buang aja ke laut ya....

Next saya pengen membahas hal-hal lain yang membuat anak jadi "tukang pukul" Semoga segera :)

Tetap semangat!!!

Friday, May 7, 2010

Penipuan model baru??

Dear Parents, baru tadi nih saya dapet cerita.Postingan saya kali ini agak menyimpang dari dunia anak, tapi semoga berguna untuk parents dan keluarga. Pulang kerja, suami saya cerita kalo temennya di kantor hampir aja kena penipuan model baru. "Penipuan model baru??? soal bobol ATM ato gundam nih (eh Gundam itu pilm anak-anak jaman baheula denk yah?????)" cerocos saya.

Jadi gini ceritanya, suaminya temen suami saya (sebut saja namanya mbak Lia) itu dapet telepon di kantor dari suaminya yang memberitakan kalo suaminya kecelakaan dan dalam kondisi parah sehingga gak bisa ngomong dengan jelas (kata mbak Lia sih suara penelpon itu mirip dengan suara suaminya). Sang penipu (yang ngaku jadi suami mbak Lia) bilang kalo dia lagi dalam keadaan muntah darah dan sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia bilang dia nabrak 2 orang yang langsung meniggal di tempat dan keluarga korban minta ganti rugi sejumlah 75 juta (kalo gak salah).

Mbak Lia segera aja kepikiran buat transfer sejumlah uang yang diminta lha wong beliaunya udah panik, tapi segera dicegah sama temen-temen kantor yang lain. Mbak Lia juga curiga coz suaminya biasanya telepon ke HP dan gak pernah telepon ke kantor. selidik punya selidik (karena diprovokasi temen-temen kantor), mbak Lia langsung telepon ke HP suaminya, dan jawaban di seberang adalah "Eh, Li... ngapain telpon? lagi makan siang nih..."

Terang aja mbak Lia langsung 'plong' ngedengernya. Lega karena gak jadi kena tipu dan lebih lega lagi karena ternyata suaminya baik-baik aja.

 Parents, berbagi informasi terlalu detail di jejaring pertemanan atau apapun di dunia maya ternyata bisa memberi kesempatan orang tak dikenal dengan mudah masuk ke dunia nyata kita lho. Mbak Lia tadinya sempat percaya karena sang penipu juga tau kalau keadaan rumah sudah kosong, bahwa anak mereka sudah pulang dari sekolah, dan hal ini yang sempat buat mbak Lia merasa yang menelponnya itu benar suaminya.

Jadi buat parents, selalu ingat untuk cross check segala macam informasi yang diterima yah. berhati-hati juga untuk selalu melindungi keluarga dari ancama yang kian jahat di luar sana.

Tetap semangat dan kita pasti bisa!!!