Saturday, May 31, 2014

...dan keajaiban itu bernama SPEECH DELAY


Hai Bundas,

Sebenarnya saya sudah ingiiin sekali menulis tentang ini sejak lama. Sejak saya yang mulai menyadari bahwa checklist kompetensi 2-3 tahun bagian linguistik banyak yang tidak saya temukan di Shoji. Sebelum Shoji punya adik, ia sudah mastering words sekitar 10 an kata dan mampu disebutkan dengan jelas, seperti "ayah", tak" (buka), tup (tutup) us (haus), num(minum), mam (makan), namun setelah kelahiran Rey, Shoji lebih banyak diam qdan menarik narik tangan ayah bundanya jika ingin sesuatu. Awalnya kami ikuti karena menurut kami itu cara shoji mengingkapkan keinginananya.

Tapi lama lama kok Shoji jadi merasa "nyaman" menarik tangan dan tidak mau berusaa untuk mengucapkan kata kata, bahkan untuk kata sederhana yang sudah pernah dikuasainya. Beberapa kali juga kalau kami panggil tidak menengok secara langsung.

akhirnya kami membawa Shoji ke psikolog dan konsultasi apakah ada hal hal yang perlu kami berikan sebagai stimulus. Setelah mendapat banyak usulan mengenai memasukkan Shoji ke PAUD akhirnya Shoji officially kami daftarkan ke PAUD dekat rumah eyang kakung dan utinya. Niat kami sih hanya supaya Shoji bersosialisasi saja.


Beberapa waktu berlalu ternyata kok tidak menunjukkan progress ya, kami kembali konsultasi lagi, dan psikolognya mulai menyarankan untuk tesBERA, mengecek organ auditorynya.


tes BERA adalah tes dengan menidurkan anak lalu melihat respon syaraf pendengarannya terhadap suara. Hasil tes BERA Shoji bagus, dari frekuensi tertimggi sampe terendah batasan pendengaran normal baik baik saja, jadi secarakeseluruhan pemeriksaan dokterTHT mengatakan organ pendengaran Shoji tidak ada masalah.




Apa sih BERA itu?

Informasi berikut saya ambil dari brosur klinik Pramita 


BERA (brainsteem Evoked Response Auditory) 

Merupakan alat elektrodiagnostic yang digunakan untuk mengevaluasi organ atau syaraf pendengaran mulai dari perifer di telinga tengah sampai dengan batang otak. 

Apa istilah yang sering digunakan? 

BAEP (Brainsteem Auditory Evoked Potential), BAE (Brainstem Auditory Evoked Response Audiometry) BERA berbeda dengan audiometry. Alat ini bisa digunakan untuk memeriksa pasien yang kooperatif maupun non kooperatif seperti pada anak baru lahir, anak kecil, pasien koma maupun stroke, sehingga hasilnya lebih obyektif karena tidak memerlukan jawaban dari pasien. 

Indikasi klinis apa saja yang bisa diperiksa BERA 

1. Seorang yang mengalami gangguan pendengaranatau tiitus atau ketulian 
2. Seseorang dengan keluhan sering nggliyer, atau pusing berputar / vertigo 
3.Seseorang dengan kasus stroke yang melibatkan batang otak 
4. Seseorang dalam kondisi koma, untuk penentuan kerusakan batang otak 
5. Seseorang yang mengalami gangguan keseimbangan (meniere disease) 
6. Seorang anak dengan keterlambatan bicara (Shoji masuk yang ini) atau anak dengan autisme 
7. Seseorang dengan kecurigaan tumor batang otak 
8. Seseorang dengan kecurigaan Multiple Sclerosis Disease. 

Kapan kita perlu screening BERA untuk anak yang baru lahir?
1. Jika ada riwayat keluarga yang mengalami gangguan / penurunan pendengaran
2. Jika belum ada pre dan post natal (infeksi sebelum dan sesudah persalinan) terutama kasus TORCH
3. Jika anak kita lahir dengan berat badan rendah (shoji juga BBLR waktu lahir dulu)
4. Jika anak mengalami hiperbiliruinemia (Shoji juga kuning saat lahir)
5. Jika ada cacat bawaan misalnya mikrochepalus atau cranio facial deformities lain
6. Jika terjadi cidera kepala pada saat persalinan atau sesudahnya
7. Jika terjadi radang telinga menetap (presistent Otitis Media)
8. Jima menggunakan obat obatan dengan kategori ototoxic drug (Obat yang mempunyai efek erhadap telinga)
9. Anak anak pasca menderita meningitis atau encefalitis

Untuk apa sih tes BERA itu?
1. Penentuan lesi nervus acusticus dari perifer di telinga tengah sampai dengan batang otak.
2. Untuk menentukan sumber gangguan pendengaran apakah di cochlea atau retro cochlearis
3. Untuk mengevaluasi Barinstem (batang otak)
4. Untuk menentukan apakah gangguan pendengaran disebabkan karena psikologis atau fisik

Persiapan sebelum tes BERA
Secara umum kondisi kepala dan rambut kita besih. berbeda dengan orang dewasa, untuk anak anak selain rambut dibersihkan, perlu pre medikasi dulu, agar anak tenang dan tidur, karena pemeriksaan BERA membutuhkan ketenangan saat pemeriksaan. 

Lepas dari tes BERA, kami konsultasi lagi, kali ini mengenai bagaimana perilaku Shoji di rumah baik terhadap ayah bunda, dan adiknya. Melewati berbagai macam screening dan hasil sementara, Shoji tingkat konsentrasinya bagus, secara kognitif juga baik, untuk motorik kasardan motorik halus juga tidak ada masalah, kalau ke arah autis atau keterbelakangan mental juga tidak, karena Shoji masih bisa berinteraksi dengan orang disekitarnya.


Saat ini kami sedang menjalankan test test dan berbagai konsultasi untuk Shoji, mohon doanya semoga semua berjalan lancar ya


Salam Hangat,

/Aya

Tuesday, May 27, 2014

Berkunjung ke dokter THT

Dear Bundas,
Mengikuti saran dari psikolog, saya dan ayah Shoji sepakat untuk mengunjungi dokter THT. Dokter ini adalah rekomendasi dari sahabat kami. Beruntung Ayah Shoji bekerja di instansi yang waktu kerjanya cukup fleksibel. Kami janjian dulu dengan dokter wanita ini, dan tanpa menunggu lama, Shoji bisa diperiksa.

Perjumpaan Shoji dengan orang baru selalu membuat Shoji terlihat resah. Namun, rasa ingintahu Shoji sering membuat kami kewalahan. Di ruang periksa THT begitu banyak benda baru. Pegang ini, pegamg itu, mau lihat ini dan itu. Saat mau diperiksa, Shoji enggan didudukkan di kursi periksa, alhasil Ayah yang memegangi Shoji selama pemeriksaan. Hari itu Shoji kurang kooperatif, dia tidak mau diam dan selalu mau berontak. Dipanggil tidak menyahut dan selalu minta turun dari gendongan. Saat bu dokter mengetukkan pulpennya ke meja, shoji tidak refleks menengok mencari sumber bunyi. Menurut dokter, secara fisik organ pendengaran Shoji tidak bermasalah, namun beliau merujuk Shoji melaksanakan tes yang namanya test BERA.

...bersambung ke postingan berikutnya...




Anakku diduga tunarungu?



Kemarin saya sempat bebersih lemari dan menemukan buku lama. Buku ini pemberian seorang wali murid yang putrinya tuna rungu. Saya ingat, Ariel nama gadis mungil itu. Anaknya manis, cerdas dan sangat mandiri. Dia juga ceria dan penuh semangat.

Namun ada yang istimewa dari gadis kecil ini, dia jarang sekali menyahut jika kami (saat itu saya bekerja di salah satu daycare edukatif di Jogja) panggil. Ekspresi binarbinarnya selalu terlihat setiap kami bicara padanya, tapi memang,hingga usia 3 tahun ia tidak mengucap sepatah kata.

Belakangan baru kami tau bahwa Ariel memangmemiliki masalah pendengaran. Hal ini yang membuat progress belajar bicaranya terhambat.

Hmmm...angan saya jadi melayang juga pada sosok Lingga. Jagoan kecil ganteng berusia 2 tahun. Saat Lingga masuk sekolah, ia sudah menggunakan alat bantu dengar. Untuk mendengar, Lingga jauh lebih tanggap daripada Ariel yang memang tidak diberi alat bantu dengar oleh bundanya.

Satu hal yang saya ingat dari ucapan bunda Ariel saat saya mau resign waktu itu.
"Miss... jangan salah paham ya saya kasih CD ini. Saya muslim dan saya percaya Allah, percaya Tuhan. Implementasi dari "magnet semesta" ini adalah Allah. Tempat kita bisa meminta segalanya dan berprasangka baik kepadaNya."

Sewaktu akhirnya saya tonton video itu, saya belum sepenuhnya memahami apa maksud yang Bunda Ariel berisaha sampaikan saat itu. Tapi kini saya sepenuhnya mengerti...ya, saat saya dikaruniai seorang anak laki laki berusia 20 bulan yang belum juga bisa bicara.

Sebenarnya sejak 12 bulan Shoji kami sedikit curiga, mendapati ia tidak babling seperti kebanyakan anak seusianya. Shoji lebih banyak diam, meskipun untuk beberapa kata iacukup mampu menyebut dengan benar. "Ayah" adalah kata kata terjelas yang pernah diucapkan Shoji. Untuk menyebut cicak, tup tup, tak tak (buka), juga sudah bisa di usianya yang 18 bulan.

namun ketika menginjak 22 bulan, setelah kelahiran Rey, kata kata itu tak lagi terucap. Mengucap "Ayah" saja tidak lagi. Shoji diam seribu bahasa. Karena merasa khawatir, kami membawanya ke klinik tumbuh kembang. Berdasarkan skrining awal, ada beberapa hal yang memang membuat kami cukup shock. Shoji tidak merespon panggilan, bunyi musik yang diperdengarkan dibelakangnya, bahkan bunyi balon meletus.

observasi sementara merujuk pada adanya gangguan pendengaran pada shoji dan Shoji perlu periksa ke dokter THT. Rasa takut, cemas, khawatir selalu campur aduk setiap kaliada konsultasi dengan psikolog Shoji. Saat itulah saya mulai memahami perasaan Bunda Ariel maupun Bunda Lingga yang sangat lapang dada menerima keistimewaan putra putrinya, namun tetap punya keyakinan bahwa Allah memiliki skenario terindah. Selama kita percaya bahwa anak kita akan baik baik saja, tak ada yang tak mungkin bagi Nya

.... bersambung ke postingan berikutnya...

Roti Manis Panggang HappyCall

rotimanis panggang happycall


Hai Bundas,

Setelah cukup lama vakum posting resep, ini hari ini saya mulai bereksperimen  lagi. Awalan niatnya si mau bikin donat, tapi ternyata minyak goreng abis, jadilah pake plan B


Ini saya pake resep donat punya ibu saya
500 gr tepung terigu
150 gr gula pasir halus
1 bungkus fermipan
1 gelas air es
sedikit garam
1 sdm mentega
1 butir telur ambil kuningnya saja

olesan
1 butir telur
UHT secukupnya



Cara Buat:
1. Larutkan fermipan di air dingin
2. Ayak tepung terigu, masukkan sejimpit garam
3. Tuang air larutan fermipan sambil diuleni, masukkan kuning telur
4. Jika mulai kalis, masukkan mentega
5. Diamkan adonan selama 30 menit sambil ditutup kain lembab
6. Setelah 30 menit, kempiskan adonan, bagi menjadi bulatan bulatan kecil
7. Proofing kedua 60menit (saya nggak kasih isi roti. Alternayif bisa pake abon, keju, atau butter beku
8. Panaskan happycall (saya belom punya oven hihihi) kurang lebuh 5 menit api kecil
9.Olesi adonan siap panggang dengan bahan olesan yang dikocok ringan.
10. Panggang selama 15 menit




siap dinikmati, paling enak saat baru keluar dari panggangan empuuukk dan hangat

selamat mencoba

Salam Sehat,
/Aya