Friday, September 23, 2016

Bertumbuh Dengan Merangkul Internet Baik

Photo courtesy: www.tamasyaku.com
Bundas,

Berapa banyak dari kita yang geleng geleng lihat anak anak jaman sekarang? Karena mereka tumbuh dan berkembang bersama teknologi, kayanya sudah bukan hal aneh lagi ketika melihat balita bermain gadget. Yes or yes? *yes laaah yaaa*

Buka konten YouTube udah bukan hal asing. Bahkan menyalakan gadget dari posisi off hingga bertemu dengan icon berwarna merah itu sudah mahir sekali dilakukan oleh anak anak. Ya, setidaknya Shoji pun sudah melakukannya saat dapat jatah kesempatan main gadget mingguan.

Sudah benar belum sih pola didik kita saat ini? Ada yang merasa masih salah? Enggak? Jadi salah siapa doong? Salah gue?
Salah temen temen gue?
*abaikan intermezo minim manfaat tadi yaaa *LOL*

Nah, kemarin saya berkesempatan ikutan pelatihan Internet BAIK bersama Ima Satrianto (blogger www.tamasyaku.com) dan mak Siti Hairul (blogger www.catatansiemak.com)

BAIK? Kenapa internet baik? Suka traktir traktir gitu? Hahaha...enggak siih...BAIK-nya ini ada udang dibalik bakwan, eh ada kepanjangannya maksudnya
B = Bertanggung Jawab; dengan ini diharapkan kita memanfaatkan media sosial dengan menjunjung tinggi etika dan norma yang ada. Jadi nggak akan terjadi lagi tuh kasus bullying atau hacking hingga pelanggaran privasi pribadi atau hak cipta.
A = Aman; bisa membedakan mana dunia nyata dan dunia Maya, jadi lebih berhati hati melindungi dirinya.
I = Inspiratif; menjadi sumber inspirasi positif yang akan membawa manfaat untuk orang lain.
K = Kreatif; memantikkan ide ide segar yang akan makin mengambangkan daya cipta dan bisa dinikmati oleh lebih banyak pengguna internet.

Seperti kita ketahui bersama bahwa kulit manggis ada ekstraknya #eh, bahwa internet itu nggak bisa lepas dari kehidupan kita kan ya? Sesuai dari sumber APJII & Puskakom UI/2015, rentang usia netizen Indonesia terbesar adalah digital natives yaitu sebesar 49% dari total pengguna internet dalam range usia 18-25 tahun, yah seusia saya sih (sekitar 10 tahun yang lalu tapi).
Pengguna internet kian bertambah seiring bertambahnya penduduk Indonesia. Maka itu, bekal untuk hidup bersama internet mau gak mau, suka nggak suka kudu kita pahami. Ini supaya kita bisa menggunakan internet sesuai dengan porsinya.

Lewat survey terhadap 2064 anak usia 9 hingga 12 tahun (YKBH, 2015), internet dipakai sebagai sarana belajar (21%), bermain games (20%), menonton video (16%) dan berjejaring sosial (14%). Sisanya penggunaan internet untuk anak usia ini adalah untuk jual beli, membaca berita, download dan mendengarkan lagu. Tambahan info juga bahwa anak anak dibawah 2 tahun seharusnya tidak dikenalkan pada gadget #owowow

Kalau dilihat prosentase diatas, penggunaan internet anak untuk belajar ternyata gak signifikan dengan penggunaan internet untuk bermain games, nah ini nih yang bikin para orangtua ketar ketir, khawatir, berpikir, lalu nyengir nyengir.

Orangtua takut anaknya kecanduan games, padahal bermain games (terutama online) sangat menyenangkan untuk anak anak yang notabene memang usianya adalah usia bermain.

Photo courtesy : Instagram @indahjuli

Jadi sebenarnya gak perlu perlu juga sih antipati sama internet. Orang tua penyayang akan membangun tembok setinggi tingginya jika punya rumah di tepi sungai; tapi orang tua yang bijak adalah orang tua yang mengajarkan anaknya berenang. Quote ini langsung menghentak seiring mak Irul membuka presentasinya *tsaaah (mak Irul kibas Hoodie Telkomsel :D) Selama ini saya termasuk orang tua penyayang (so sweet ya) tapi belum cukup bijak :D

Jadi dari presentasi mak Irul ini saya jadi ngerti bahwa aplikasi aplikasi yang punya potensi memunculkan konten dewasa (nggak sesuai usia anak) bisa diatur sedemikian rupa sehingga bisa tetap diakses oleh anak anak.

Contohnya beberapa aplikasi ini

1. Google : aktifkan telusur aman; mengaktifkan pencarian terbatas
2. YouTube  filtering : perhatikan balon balon yang ada di bagian atas buat memulai pengaturan, masuk ke restricted mode
3. Playstore filter: masukkan ke mode parental control
4. Pengawasan oleh orangtua secara berkala.

Dan ada beberapa aplikasi yang memang dikhususkan untuk anak, seperti kakatu; aplikasi yang memang dibuat untuk memproteksi anak supaya nggak kecanduan gadget ataupun konten porno. Must try nih! Jadi yaa...pas anak anak berselancar di dunia maya kita bisa ngupi ngupi cantik. Siapa yang mau bikinin kopiiiii? *Jessica wongso ngacung* *lalu kemudian hening*

Tapi kenapa sih kita perlu mengajarkan anak "berenang"? Karena kalau tidak dibatasi, internet akan menyebabkan kecanduan. Bagi anak anak kecanduan games ini akan merusak bagian PFC otak mereka. Kronologinya begini, dibuat singkat supaya nggak nyaingi episode sinetron tersanjung bo! *ketauan angkatan berapa deh eik*

Jika terlalu sering main games, otak bagian emosi menjadi overstimulasi. Dan kemudian akan dibanjiri oleh dopamin (zat yang menimbulkan rasa senang). Hal ini kalau terus menerus akan membuat PRe Frontal Cortex (bagian yang mengatur emosi, kontrol diri, mengambil keputusan, merencanakan masa depan, dan menganalisa) bisa kurang terstimulasi dan sampai pada kondisi rusak. Jadi bisa dibilang kalau udah kecanduan games, masa depan bhaayyy.....

Nah, setelah tau bahayanya games, sebagai orangtua kita wajib ngerti rating rating panduan yang memang dibuat untuk melindungi anak anak kita dari paparan game online yang membanjiri playstore. Selain itu, beberapa tips ini bisa dipakai untuk meminimalisir hal negatif di internet, yang merupakan visi dari internet baik. Diantaranya adalah:

1. Merangkul anak sebagai teman sehingga bisa berdiskusi dan menjelaskan dengan hati, tentunya akan membuat anak merasa dihargai pikiran dan perasaannya.
2. Memahami bahwa anak anak kita adalah digital native yang masih punya semangat tinggi dan rasa ingin tau yang besar. Dengan digital literasi dan memperkenalkan rating kepada anak, diharapkan mereka juga dapat membatasi dirinya sendiri.
3. Punya kesepakatan bersama mengenai porsi internet serta gadget dan berikan alasan kenapa dilakukan pembatasan penggunaannya. Dengan aturan, maka konsekuensi bisa diberlakukan jika anak anak mulai melanggar kesepakatan tersebut.

Internet baik
Yes, begitu yah kira kira hasil meguru elmu sama pakar pakar internet baik kemarin, silakan ya bunda yang punya cerita tentang bagaimana suka duka menerapkan internet baik di rumah boleh sharing di kolom komentar :)

Salam
/Aya

10 comments:

  1. Bener banget mak aya...
    Aku juga seneng, kemaren bisa gabung ikutan arisan ilmu -member baru-
    Bener2 dapat pencerahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan ketemu temen temen baru ya mak, ilmunya mantep ya mak :)

      Delete
  2. Makasih sharing ilmuny mak aya. Itu kalo buat menon aktifkan iklan2 kalo lagi buka aplikasi pake apa ya. Kadang lagi buka murotal anak aja toba2 muncul iklan saru, kan sebel. Hikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kayanya masuk pengaturan gak keluar pop up gitu. Aku juga masih belajar nih Mak Irvi hiks. Saling berkabar kalau nemu yaaa :)

      Delete
  3. Duh kemarin ga bisa ikut ngobrol cantik internet baik..
    Tapi untung mak Aya ngasih bocoran nih internet baiknya..
    Mksh ya mak Aya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samisami, semoga manfaat ya sharing ilmunya. Ayo, next kopdar jangan sampai absen yak hihihi

      Delete
  4. Internet Baik ini klo diterapkan bener hasilnya memang sangat baik..yuk bersatu melawan pornografi dg internet baik mak :)

    ReplyDelete
  5. Ilmu kopdar cantiknya tentang etika berinternet sangat menambah wawasan ya mbk Aya😊salam kenal (@cputriarty)

    ReplyDelete
  6. Suka banget sama foto yg barengan krucils itu. Pengin meluk semua :))

    ReplyDelete