Tentang Kesehatan Jiwa dan BPD



Hai Bunds
Postingan kali ini saya curcol lagi. Setelah sekian lama gak curcol disini ya. Beberapa hari terakhir saya mulai mellow. Ada banyak sekali barang di rumah, tapi saya masih tak sampai hati juga untuk melepas. Padahal ya, saya udah berusaha memotivasi dengan nonton video video decluttering dan bagaimana memanajemen emosi dengan baik.

Saat ini, menghadapi problematika hidup yang ditambah efek dari pandemi Corona ini sungguhlah jadi tantangan ya. Banyak hal yang kemudian tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Beberapa diantara kita cukup bisa melewati dengan baik, tapi tidak semua. Ada beberapa orang yang tampaknya sedikit merasa "terbebani" dengan perubahan dan keharusan beradaptasi dengan kondisi "new normal" seperti sekarang ini.


Sedikit banyak, hal mengenai emosi, kenangan, psikologis ternyata bisa menyentuh tanah medis. Yak betul. Karena sakit tak semata mata secara fisik, namun juga secara psikis.
Untuk sakit yang kasat mata, bisa dirasa secara fisik, tentulah kita langsung bisa mengidentifikasi bahwa tubuh kita memang sedang sakit. Namun pernahkah kita menyadari saat jiwa kita sedang sakit?

Ketidakstabilan emosional, perasaan tidak berharga, rasa tidak aman, impulsif, dan hubungan sosial yang terganggu ternyata merupakan gejala adanya BPD atau Borderline Personality Disorder.

Borderline personality disorder (BPD) 


BPD Borderline Personality Disorder atau gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta adanya pola tingkah laku abnormal. Jadi kalau kita udah mulai sering gusar dengan kondisi kita saat ini, merasa insecure dan impulsif, kita harus memastikan kondisi kita memang baik baik saja atau ada gangguan.

Anak numpahin minum aja bikin kita marah berlebihan. Kalau ada yang ribut dikit kita jadi histeris sendiri. Ini tentunya akan memberi dampak besar terhadap keharmonisan keluarga, sekaligus penghargaan kita terhadap diri sendiri juga.

Secara kuantitas, kasus ini cukup umum. Ada lebih dari 2 juta kasus pertahun di Indonesia. Memang kasus ini memerlukan perawatan, namun tidak juga serta merta hilang atau tidak dapat disembuhkan. BPD dapat bertahan selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Penanganan berupa terapi bicara, atau pada sebagian kasus, obat-obatan juga bisa dilakukan. Jika ada gejala yang parah, pasien bisa dipantau dan diobservasi dengan rawat inap. Meski tidak memerlukan uji atau pencitraan laboratorium, kasus ini tetap membutuhkan diagnosis medis.

Penyebab BPD

Tidak ada yang tau persis apa penyebab BPD ini. Tapi, beberapa ciri kepribadiaan terentu bisa menjadi faktor risiko untuk berkembangnya BPD seseorang. Misalnya, mereka yang sudah memiliki kepribadian agresif dan impulsif.

Riwayat pelecehan di masa kecil atau adanya penyiksaan baik fisik maupun psikis diperkirakan memiliki keterkaitan dengan terjadinya BPD.

Hal lain yang juga terkait dengan BPD adalah faktor genetik. Menurut beberapa penelitian, riwayat gangguan kepribadian yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga kemungkinan dapat diwariskan melalui gen ke anggota keluarga lain. (Halodoc)

BPD dapat menimbulkan gangguan fungsi seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal dengan sekitarnya. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa, tetapi kabar baiknya, dapat juga membaik seiring bertambahnya usia.

Penelitian lain juga menunjukkan perubahan pada beberapa area di otak, terutama yang berperan untuk mengatur sisi emosi, agresi, dan impulsif seseorang, dapat berkaitan dengan BPD. Selain itu, penurunan fungsi dari zat-zat kimia pada otak, seperti serotonin, juga dikaitkan dengan BPD. Serotonin berfungsi mengendalikan suasana hati (mood).

Jadi kalau saya sendiri berusaha untuk membuat mood stabil dengan tetap menjaga asupan serotonin di otak.

Serotonin


Serotonin (bahasa Inggris: 5-hydroxytryptamine, 5-HT) adalah suatu neurotransmiter monoamino yang disintesiskan pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-sel enterokromafin dalam saluran pencernaan. Hormon ini dipercaya sebagai pemberi perasaan nyaman dan senang (wikipedia.org) 

Hormon serotonin sebenarnya berperan sebagai neurotransmiter, yaitu pengantar sinyal antarjaringan saraf. Jadi selain memengaruhi suasana hati, hormon serotonin juga berperan dalam berbagai fungsi tubuh yang lain, seperti pencernaan, proses pembekuan darah, pembentukan tulang, dan fungsi seksual. Setelah makan, tubuh akan menghasilkan hormon ini secara alami. Hal ini dapat memicu rasa kantuk yang menyebabkan seseorang sering tertidur setelah makan.

Asam amino Triptofan adalah salah satu bahan dasar serotonin. Sayangnya, asam amino ini tidak diproduksi oleh tubuh kita. Tapi kita bisa lho mendapatkan dari makanan seperti keju, tahu, telur, pisang, ikan salmon, kacang-kacangan dan biji-bijian. 
Pola hidup sehat juga sangat mempengaruhi kestabilan hormon. Paparan sinar matahari juga olahraga ringan membuat serotonin akan lebih stabil dan kita terhindar dari depresi.

Jadi sebenernya keterkaitan kesehatan tubuh dengan kesehatan jiwa itu benar adanya. Mengutip kalimat dalam bahasa latin "Mens sana in corpore sano", sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya adalah "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat." Semoga kita semua bisa menjaga kewarasan jiwa dengan tetap menerapkan pola hidup sehat bagi fisik kita ya. Jangan lupa, konsultasikan kesehatan kita kepada ahlinya. Salah satunya melalui Halodoc

Mengenai Halodoc


Halodoc merupakan sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani di bidang telekonsultasi kesehatan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2016 di Jakarta oleh Jonathan Sudharta. Tujuan Halodoc adalah simplifying healthcare, yakni memudahkan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Salam Sehat

/Aya

1 comment