Featured Slider

Ria Ricis Umumkan Giveway 1 Unit Sepeda Brompton

 


Hai Bundaa

Masih sehat bugar menghadapi pandemi? Sehat Raga bisa jadi tapi sehat Jiwa gimana nih? Sebagai emak emak tuh penting banget ternyata menjaga kesehatan. Sehat disini gak cuma sehat raganya aja yaitu dengan berolahraga ya. Tapi juga menjaga jiwa supaya tetap sehat. Keseimbangan adalah koentji kita untuk menjadikan hidup lebih indah dinikmati. Betuuul?

Solusi Belajar Ngaji Anak Selama Pandemi dengan Alif Iqra

 


“Uthlubul 'ilma walau bishshiin” – tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. 

Itulah salah satu hadits yang saya dengar dan masih saya ingat dari jaman sekolah dasar hingga sekarang. Nggak bisa dipungkiri bahwa dalam hidup ini kita harus terus dan terus belajar. Bahkan sebagai orangtua, pun harus belajar terus kan ya. Kehidupan berumahtangga gak ada sekolahnya, jadi memang ujiannya datang duluan, abis itu kita diminta untuk menyelesaikan dan mengambil hikmah.

Gak jauh beda sama dunia anak. Karena sejatinya dunia mereka adalah dunia permainan. Namun tanpa kita sadari permainan itu juga adalah kesempatan mereka untuk belajar. Pembelajaran bisa dimana saja, dengan siapa saja. Jika sebelumnya mereka sekolah bertemu dengan guru dan teman -teman, mau tidak mau sekarang mereka harus sekolah dari rumah dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).  

Pernikahan Awet Meski Membersamai Tiga Anak Istimewa, Caranya Gimana?

Menikah Itu Ibadah

Pernikahan yang dilandasi dengan komitmen, in sha Allah akan lebih kuat bertahan dalam terpaan badai.

"Mbak Aya apa gak pernah merasa capek? Apa nggak pernah merasa sedih? Apa gak pernah down?"

Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan pada saya terutama oleh bunda-bunda yang juga punya anak istimewa.

Makanya postingan kali ini mau bahas soal pernikahan. Gak terasa, 9 September 2020 lalu pernikahan Saya dan Uda sudah masuk usia 11 tahun. Sampai dengan saat ini, jelas bukan sebuah perjalanan yang mudah mengingat kami juga merawat 3 anak istimewa yang sungguh menguras fisik dan emosi.

HTHT : Terapi How To Handle Them




#Terapi Aisha
HTHT


Hai Bundas

Kali ini saya mau cerita tentang ikhtiar jemput kesembuhan Aisha dengan cara yang lain. Kalau dibilang masih terkait medis, ya masih medis juga karena memang dari ilmu kedokteran memang nyambung kesana. Tapi dibilang dari non medis, bisa jadi juga. Kali ini saya mau sharing tentang ilmu yang saya dapat sewaktu belajar metode HTHT (How To Handle Them) Bersama Bu Octorina Bashusanti. Beliau adalah founder metode HTHT, Body Language Instructor, Senior Health Advisor, IBH Certified Instructor, Certified Hypnotherapist dan Certified Master of Handwriting Analysis. Wah banyak juga ya bidang dari Bu Octo ini. 

Menurut beliau, anak ABK itu adalah anak yang memerlukan perhatian, kasih sayang yang lebih spesifik baik itu di lingkungan rumah dan sekolah. Spesifikasi tersebut karena memiliki berbagai karakteristik khusus yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Beberapa yang bisa dibilang berekebutuhan khusus antara lain: tunanetra, tuarungu, gifted, autism. Slow learner, ADD/ ADHD, Asperger Disorder, Cerebral Palsy, Down Syndrome dll. 

Anakku Kok Nulisnya Dari Bawah? Perlu Dibenerin Gak?


Coba ya bunda-bunda, perhatikan gaya nulis anaknya, apa ada yang kaya Rey, nulisnya dari bawah?

Kalau ada coba sini tunjuk tangan, berarti kita satu server. Hmm, jadi saya sebenernya udah mengamati sejak Rey TK. Cara menulis, membuat garis, baik lengkung maupun garis lurus pasti dari bawah. Jangan dikira saya nggak berusaha untuk benerin untuk menulis sesuai kaidah cara menulis yang baik lho. Udaaahhh… berkali-kali sampai saya bosen sendiri dan akhirnya pasrah.

Apa yang sudah saya coba lakukan? Memberi contoh sudah. Memberi garis garis dengan panah sudah, bikin tracing dan minta Rey menulis dari atas sambil memberikan contoh langkahnya juga sudah. Tapi ya balik lagi balik lagi. Daripada uring uringan, akhirnya saya biarkan dia menulis begitu.

Saya sebelumnya nggak pernah berpikir kalau hal ini sebuah masalah yang memang perlu diperbaiki. Saya mengira ini hanya habit menulis biasa yang gak akan berpengaruh kemana-mana. Ternyata saya salah bunda…

“Salahkah bila diriku…terlalu mencintaimu, jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu.”

Bacanya jangan sambil nyanyi ya Bunda.

Tapi, makin sering saya lihat gaya menulis Rey, kok saya makin ragu dengan keputusan membiarkan dia nulis dengan cara begitu ya. Akhirnya saya dan ayahnya memutuskan untuk konsultasi dengan yang lebih ahli. Kami bersepakat untuk menemui psikolog.