Wednesday, October 25, 2017

Siasat Bunsho Menghadapi Kids Zaman Now

Siasat Bunsho Menghadapi Kids Zaman Now
Kids Jaman Now

Hai Bundas,
Minggu ini dapat trigger yang lumayan seru. Kali ini dari salah satu blogger muda Mak Ayu, tentang fenomena Kids Zaman Now.


Membaca postingannya di sini, saya langsung ngelongok sama Shoji dan Rey. Menurut saya, Shoji Rey cukup mewakili Kids Zaman Now yang masa kecilnya sudah terpapar aneka gadget dan teknologi modern. Tantangannya adalah, bagaimana membuat mereka on track yang benar sebagai bekal menghadapi kehidupan selanjutnya.



Ketika salah satu artikel terbaru tentang anak artis yang main truth or dare dan hukumannya adalah k.i.s.s alias cium bibir. Bener, ini gak salah tulis, (((cium bibir))) loh. Hasil wawancara media dengan NEW (inisial namanya) mereka melakukannya secara sadar dan enggak dalam kondisi mabuk. Haluuu....tok tok tok, ada termos es? #IklanJadulNyelip. Buat saya aliran kekunoan, cium pipi sama suami aja malu malu kucing kalau di depan umum. Depan anak cuma berani cium pipi doang (bilangnya ke anak anak ini tanda sayang) sambil menjelaskan kalau laki laki dan perempuan boleh cium pipi kalau sudah menikah.

Yang lumayan up to date juga, ada siswa SD jadi viral karena video menghisap vape. Jadi vape itu milik kakak salah satu murid dan diambil tanpa ijin. Karena jaman sekarang sosial media seolah menjadikan kita seperti berada di aquarium, privasi makin sulit didapatkan. Biasanya anak akan meniru dan menjadikan orang tua mereka sebagai model.

Suka atau nggak suka, begitulah yang terjadi. Saya pribadi jaman kecil, kenapa jadi anak yang konservatif, baik dalam berpakaian atau sikap, mungkin bisa jadi dipandang aneh sama yang lain.

Saya ingat banget, jaman SMP saya memastikan rok saya 5 cm dibawah lutut, baju kemeja dikancingkan sampai kancing paling atas (jadi kaya tutup botol), pakai kaos kaki setinggi lutut. Tapi saya merasa nyaman dengan itu.  Ya itu style saya. Beberapa lebih memilih style rok 5 cm diatas lutut, atau lengan baju dipendekkan, mereka juga pasti merasa itu style mereka. Anak muda yang sedang dalam proses mencari jati diri...

Ada rasa pengen menunjukkan versi terkeren dari dirinya. Pengen dapat perhatian, pengen dapat pengakuan. Ada nih, trend anak pacaran jaman now. Yang masih positif dan tidak berbenturan dengan norma sih oke. Menurut saya pakai baju couple itu masih bisa lah dibilang lucu...meskipun saya enggak pernah jaman pacaran dulu #eh. Atau mengirim pesan dari puncak gunung untuk anak pecinta alam, buat saya masih bisa diambil sisi positifnya lah. Berarti anak ini sehat, mau dan mampu mendaki gunung, pun bisa memotivasi dengan cara yang positif.

Nah, kalau gaya pacaran yang sampe tukeran baju sama pasangan (beneran ini ada), cium ketek pacarnya (ya Allah, cium kaki bapak ibu udah belum?) dan pacaran yang dilakukan anak anak sekolah dasar dan sudah panggil pasangan dengan Ayah bunda, Mama papa, and so on....istighfar deh jadinya.

Kata psikolog Elly Risman, seorang suami yang garing, kaku dan gak sayang anak, pasti tidak dekat dengan ibunya sebelum masa Akil balig. Sementara seorang suami yang sangat tergantung pada istri dan sulit membuat keputusan menentukan visi dan misi keluarga, pasti tidak dekat dengan ayahnya pada masa anak anak. Ternyata peran orang tua sangat berpengaruh kepada perkembangan anak ketika dewasa.

Selanjutnya, di usia sebelum 2 tahun, bu Elly mengatakan bahwa anak "dipaksa" dekat dengan sosok ibu karena proses menyusui. Setelah itu, peran ayah dan ibu menjadi seimbang, sehingga di usia 3 tahun seharusnya anak sudah memahami apakah dia adalah seorang perempuan atau laki-laki. Jika di tahapan usia ini anak masih bingung, maka hati hati, potensi homoseksual atau kelainan seksual lain sudah dimulai.

Tiba tiba saya teringat kasus tengah tahun 2015 lalu. Kejadiannya membekas karena tempat kejadiannya di Bantul. Sepertinya masalah sepele, tapi akibatnya sama sekali nggak bisa dibilang sepele. Kasus Hello Kitty, ada yang masih ingat? Gara gara gak terima tatonya disamain dengan teman satu SMA, maka R tega melakukan penganiayaan kepada B (aduh kalau diceritakan gak sanggup nahan ngilu saya). Saya yakin B akan jadi trauma berkepanjangan karena tindak penganiayaan ini. Dan ini dilakukan anak kelas 3 SMA #DuhGusti...

Karena anak perempuan maupun laki-laki potensi menyakiti maupun disakiti sama besar, yang bisa kami lakukan cuma meminimalkan kemungkinan kemungkinan itu dengan memberi pondasi yang kuat. Sebagian siasat saya ambil dari Bu Elly dan beberapa dari keinginan saya dan suami sebagai orang tua untuk membawa anak anak kami menjadi sosok manusia yang utuh di masa depan. Utuh dalam logika dan juga hati, dalam pemikiran maupun perasaan, dalam kebebasan yang tetap mengingat aturan. Jadi yuk dibahas satu satu.

1. Berikan ruang dan waktu yang cukup untuk anak.
Hal ini bisa jadi berbeda beda untuk kebutuhan tiap keluarga. Tapi buat kami sekeluarga, pillow talk maupun saat sarapan pagi dan makan malam bisa dimaksimalkan untuk "bicara". Karena saat ini anak anak sudah paham kalau ditanya, bisa menjawab dengan " nyambung", maka kami manfaatkan waktu waktu ini untuk menggali memori mereka. Pertanyaan pertanyaan untuk me-recall kembali apa yang sudah mereka kerjakan seharian. Biasanya akan timbul pernyataan yang bisa kami gali lebih dalam.
R: Bunda, tadi Rey gambar iguana
B: wah hebat, ada matanya?
R: iya
B: ada apanya lagi
R: ekor, gigi, kaki, warnanya coklat
B: iguananya sedang apa?
R: sedang makan
B: makannya apa?
R: makan wortel
B: wortel? Wah sama dong dengan....
R: kelinci makan wortel, Rey juga.

Buat kami ini adalah hal yang mengasyikkan. Kadang Shoji minta dibacakan buku yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah. Kadang kami menggambar bersama atau main tebak tebakan atau menulis. Semua aktivitas dilakukan sambil ngobrol. Ngobrol apa saja, bernyanyi kadang kadang.

2. No TV di Kamar
Kami sepakat menaruh TV di ruang keluarga. Supaya bisa ditonton bersama. Ruang keluarga adalah tempat ayah dan bunda Wira Wiri dari kamar tamu, kamar aisha, dan dapur. Jadi kalau ada tontonan yang kurang layak kami bisa segera memberikan penjelasan atau mengganti, mempercepat film dll.

3.Memisahkan kamar Aisha dengan kakak kakak
Seingat saya, ketika kecil saya nggak pernah ada kesempatan tidur sama adik saya (yang laki laki). Usia TK saya sudah di tempat tidur sendiri (meski masih dalam 1 kamar, tapi di tepat tidur berbeda. Makanya, begitu Aisha lahir, langsung kakak kakak dipisahkan kamarnya.
Saat ini Shoji 6y dan Rey 4,5y sudah terbiasa tidur ditemani ayahnya saja atau tidur sendiri. Terkadang saya ikut pillow talk, tapi kadang juga tidak jika Aisha mau ditemani.

4. Aturan untuk Gadget
Shoji pernah ada pada masa dia sakaw gadget. Nagih banget gadget buat Shoji, meskipun sebenarnya dia nggak main games atau youtube-an sih, dia melihat video review mainan mainan. Lha, berarti kan sebenernya gapapa ya? Kuota aman dan anak gak kecanduan pengen game game aneh. Cuma kami kasihan, usia Shoji adalah usia terbaik untuk mengeksplor lingkungan. Bermain dengan mainan real. Benar benar mainan dengan memegang bentuk aslinya. Akhirnya kami pernah mendetox Shoji kecil dengan menerapkan beberapa rules, seperti;
📱 jam main adalah setelah Isya' hingga jam 8 malam untuk pegang gadget (pilih tab bunda/hape ayah)
📱posisi hape harus dalam mode pesawat
📱 posisi main harus dalam keadaan duduk. Kalau sudah mulai goler-goler, berarti sudah capek dan perlu istirahat (bobo)
📱menontonya bersama kakak/adik. Kalau berebut, gadget diambil.

5. Menjadi figur idola anak anak
Meski kita bukan superhero, you name it: Spiderman, Batman, Ironman, Thor, Hulk, Captain America, kita tetep kudu jadi sosok paling T.O.P di mata anak anak. Sosok yang bikin mereka mau melakukan apapun tanpa perlu kita suruh suruh banget.
Simpelnya kaya gosok gigi. Anak anak otomatis akan ngikutin ayah bundanya kalau kami gosok gigi. Begitu detilnya hingga pose angkat satu kaki dan tangan kiri metenteng saat sikat gigi pun ditiru sama Shoji Rey. Kalau mau anak disiplin taruh tas, sepatu, handuk di tempat yang tepat, mau gak mau orangtua pun begitu.
Hal ini termasuk kebiasaan baik seperti ibadah (sholat), ngaji rutin, murotal yang kita perdengarkan, channel TV yang kita pilih, semuanya! Yes, apapun yang kita ingin dilakukan sama anak kita, kita harus jadi contohnya lebih dulu.

Jadi kita kira 5 siasat dulu yah dijembreng. Saya mau semedi dulu cari wangsit biar bisa nerusin part 2 yaaaa...

Love
/Aya




9 comments:

  1. Berarti ada jadwal yang harus diaati secara disiplin, ya? Bisa juga diterapin ke anakku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini yang jadi tantangan. Ortunya yang kadang gak disiplin hahaha

      Delete
  2. Berlanjut ke part 2, berarti siasat-siasatnya masih banyak ya mak, hihi.
    Aku setuju mak sama siasatnya terutama aturan untuk gadget, sama menjadi figur idola. Karena anak-anak suka meniru, kalo orang tuanya aja kecanduan gadget ya gimana anaknya ga minta pegang gadget mulu kan.. ^^

    ReplyDelete
  3. Cium ketek pacar, omg wkwkwwk ngakak bacanya. Ada ya yang kayak gini *eaa.
    Bagus Mba siasat dan tipsnya, terutama 'aturan untuk gadget' di rumah. Ntab banget aturannya.

    ReplyDelete
  4. Lima aturannya hampir mirip dengan yang kuterapkan di rumah dan anak-anak :)
    Jangan sampai deh, orangtua kelolosan memperhatikan anak-anaknya.

    ReplyDelete
  5. Orang tua memang yang paling berpengaruh ya Mba', mantep ni tipsnya Bunsho, semangaat. :)

    ReplyDelete
  6. Wihh, ditunggu siasat2 bwrikutnya nih mak.. Mau nyontek untuk diterapkan ke anak dan ponakan jaman now di rumah, hihi

    ReplyDelete
  7. Kids jaman now ini yang paling berpengaruh memang gadget mak... kudu dibatasi dan ditemani saat mengoprasikannya. Setuju banget sm tips2nya :D bisa diterapin buat anak (ntar kalo udah lahir.. hehe)

    ReplyDelete