Wednesday, January 10, 2018

Dek Salmafina, sini Kakak Aya Bisikin


Dek Alma, salam kenal ya, aku Aya, ibu dari 3 orang anak berkebutuhan khusus. Mulai dari kebutuhan khusus ringan sampai yang berat. Nggak seberat beban hidupku sih #ehh, tapi lumayan berat seperti aku yang gak bisa diangkat dari hati suamiku #eaa

Sebelumnya Kakak, (gapapa ya ngaku ngaku kakak, wong memang aku lebih tua secara umur kan, Dek. Meskipun kalau foto wefie kita masih pantes seumuran #maunya) mau kilas balik sebentar sambil nostalgia dan membangun chemistry antara kita.


Alasan menikah

Kakak menikah di usia 27 tahun. Iya, 10 tahun lebihnya dari usia dek Alma ketika menikah dengan Abang Taqy Malik. Alasan menikah waktu itu, ya karena deadline yang dikasih sama Ibu nya kakak adalah umur 27 kudu sudah nikah. Kalau belum dapat ultimatum begitu, mungkin masih mau hore hore sama teman teman. (Maklum masih anak muda, hasrat bergelora pengen hura hura). Nah, kalau alasan dek Alma menikah di usia 17 tahun apa sih sebenarnya? Jujur lho, salut sama anak muda yang udah bisa punya peran sebagai pelajar dan istri. Lha wong dulu Kakak sekolah aja mikirin ulangan doang udah mabok.

Doa istri

Di usia 17 tahun kakak masih belum kepikiran pacar pacaran (alesan aja ini sih karena gak ada yang mau sepertinya #pedihtapinyata) Dan kalau punya gebetan, beraninya cuma ngeliatin doi dari jendela kaca kelasnya #eh #curcoldeh

Hura Hura a la Kakak setelah lulus kuliah receh banget dek, nggak ke disko atau party party, cukup cari tempat nongkrong, pesen satu cup kopi atau coklat demi wifi gratisan 5 jam di depan laptop. Secara jaman dulu gak ada paket Internet murah kaya sekarang. Memang gadis jaman old kok Kakak ini. Sewa VCD di rentalan 5 bijik bisa dapet gratis 2 bijik noh di Moviebox. Yang suka sabtu minggu kesana mungkin kita pernah ketemu hahaha. Atau ke mall jalan sendirian lalu liat box "item diskon 50%" udah kaya dapet durian runtuh. Udah deh, ubek ubek disana lamaaaa cari ukuran yang pas (yang mana susah banget karena itu semua ukuran baju dewasa), coba coba, baru ambil baju saat dicoba terlihat pantas, dan yang penting harganya juga pas (di dompet Kakak) #lirikdompetbolong

Melepaskan Beban

Tak bilangin ya Dek, ketika bisa senang senang dengan uang hasil kerja sendiri bikin Kakak jumawa (ya meskipun levelnya masih senang senang kelas karyawan rasa mahasiswa), jadi Kakak ngerti banget saat Dek Alma ketagihan nerima job endorse di masa iddah. Lumayan pake banget ya, setidaknya bisa melupakan rasa sesak di dada karena Abang tercinta yang wajahnya pasti masih terbayang bayang.

Jangankan Dek Alma yang istrinya, saya aja denger suara Abang Taqy mengaji bisa meleleh. Tapi tenang aja, cinta saya nomor dua tetep sama suami. Yang nomor satu tentunya sama yang menciptakan suami saya pastinya.

Percayalah Dek, Kakak pernah ada di posisimu. Kakak yang terbiasa dan terbius dengan kilau dunia harus terbiasa dengan kehidupan rumahtangga bersama seorang pria yang "lurusnya" luar biasa. Kesel, sebel, merasa tidak dimengerti suami itu seriiiing banget. Apalagi seperti Dek Alma, kami nggak pernah pacaran sebelumnya. Tau sebatas tau nama, dekat sebatas mahasiswa dan asisten dosen saja. Hanya berbagi cerita jarak jauh tentang harapan, visi misi menikah dan komitmen pernikahan itu pun setelah momen lamaran.


Suami Kakak bukan tipe yang suka mengumbar kata "I Love You" kepada istrinya. Apalagi kasih janji janji surga a.k.a ngegombal. Padahal yang namanya wanita pasti haus pujian. Romantis yang dilakukan suami beda dengan romantis harapan istri. Itu dulu... Tapi seiring waktu berjalan kami berusaha "menularkan" versi romantis masing masing. Kadang terjadi pertengkaran sengit ketika Kakak bilang romantis itu kalau suami bisa fotoin istrinya "instagrammable" dan suami berusaha sekuat tenaga menahan malu motoin istri di keramaian karena disuruh ngulang ngulang.

Pernikahan itu...

Awal pernikahan pasti manis ya, Dek Alma yang cantik. Kami juga pernah merasakan LDR. Kakak dan Suami sih santai aja, yang gak santai orang tua. Dua bulan setelah menikah kami semi dipaksa untuk hidup satu atap. Dan berbagai problematika berumahtangga mau tidak mau, suka nggak suka harus dihadapi. Tapi, disitulah kami berdua belajar banyak hal.

Akad nikah

Kakak yang waktu itu umur 27 aja masih 4l4y, untungnya suami cukup dewasa untuk gak ikutan baper. Tiap ada masalah, diingatkan pakai ayat Al Quran, sama lah mungkin kaya Abang Taqy.

Kakak yang waktu itu masih jaman jahiliyah sering banget jadi ngomel-ngomel sendiri. Padahal yang diomongin suami itu bener dan ada dasarnya loh. Kalau ketauan Kakak yang salah, sambil sungut sungut berusaha mengerti dan memahami (meski waktu itu kadang gak ikhlas)

Kalau ingat masa itu, Dek...Kakak jadi istighfar berkali kali. Ya Allah, jauh bener dari predikat istri shaliha. Kenapa? Ya karena sombong. Karena masih pengen ngikutin nafsu sendiri (yang dulunya pas masih sendiri gak biasa diatur atur), karena masih pengen berekspresi (yang kebablasan dan gak inget kalau udah jadi istri orang). Suami Kakak nggak menegur (lebih tepatnya mengurangi resiko potensi cek cok di rumah) ya karena hati Kakak masih keras, takut malah pecah nantinya.


Untungnya dulu gak ada Instagram. Jadi Kakak nggak mengekspos keruwetan rumah tangga kakak yang masih labil ke medsos. Yang ada juga Fesbuk yang untuk bukanya masih harus pakai komputer atau laptop yang bikin males posting.

Lalu sempet denger ceramah waktu tarawih, Pak Ustadz bilang, "Istri dan suami masing masing adalah pakaian untuk pasangannya. Jadi semarah apapun dengan pasangan, amit amit jangan sampai mengumbar aib keluarga ke orang lain. Selesaikan dengan ksatria berdua."

Jadilah mau gak mau kalau marah harus selesai sebelum tidur. Entah gimana caranya kudu ada yang mulai negur duluan. Ini mungkin jadi sulit buat Dek Alma yang LDR sama suami, beda negara pula ya... Tapi teknologi makin canggih kan ya, pasti bisa disiasati.

Kalau suami marah, paling pol beliau akan diam. Gak pernah marah balik. Kalau beliau sudah diam, kakak langsung introspeksi. Takut. Eh enggak deng, bukan takut tapi segan, soalnya jarang banget Suami itu diam. Kalau udah diam, berarti ada yang gak berkenan.

Dari surat An-Nisa ayat 34,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”

Ah, ternyata predikat istri shaliha nggak mudah ya Dek...

 Salah satu istri shaliha yang bisa kita kepoin adalah Khadijah RA. Khadijah dijanjikan Allah sebuah rumah mutiara di surga. Rumah yang tidak ribut, tidak ada capek, tidak ada susah. Kenapa? Karena di rumahtangga Khadijah tidak pernah ribut, Khadijah tidak pernah bikin suaminya capek, Khadijah juga tidak pernah mengeluh susah. Ketampar deh Kakak kalau ingat Khadijah...

Hijrah

Berat? Pasti berat, apalagi buat wanita seperti kita yang lagi belajar untuk qanaah kan Dek? Tapi tetep semangat yaaa...kita bisa in Sha Allah meniru akhlak seorang Khadijah yang sangat dicintai Rasulullah.

Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”.
 (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath danAsh Shaghir Shaghir Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Kadang kalau ada yang gak berkenan di hati, pasti yah rasanya pengen marah. Itu kakak banget, Dek. Tapi Rasulullah sendiri ketika ditanya pesan oleh para sahabat, beliau mengulang ulang kalimat, "jangan marah". Bahkan sampai ada hadisnya, "Jangan marah, maka bagimu surga"

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali-Imran: 134)

Dek Alma pasti tau apa yang terbaik, Kakak hanya bisa bantu doa saja, semoga hijrah yang Dek Alma jalani saat ini diberi Istiqomah oleh Allah.

Oh iya, karena ini postingan kolaborasi #selasabercerita #obrolanrumahtangga, baca juga cerita Witri tentang pernikahan


Salam,
/Aya

8 comments:

  1. Huhu belajar banget dari Mak Aya. Terima kasih banyak yaaa mak udah ngingetin. Semoga kita termasuk istri yg soleha

    ReplyDelete
  2. Mak ayaaa.. Sukakkk tulisannyaaa.. Semoga dek almanya bacaaa.. Kebayang sih kalo masih abg gt kan egonya masih kuat bngt, dulu aku kepengen nikah abis sma (sama si ehemmm), untung ga kesampean... Jangan2 bisa labil macam alma juga... Pernikahan seperti gunung, indah dilihat, berat dijalani

    ReplyDelete
  3. Waah..aku nikah umur 24 tahun aja kyk masih muda bgt, Dek Alma nikah umur 17. Pas sweet seventeen mah br gebet2an aja, hihi..

    ReplyDelete
  4. Mak aya bagus banget tulisannya, semoga di baca sama dek alma yaa. kalaupun enggak, insha Allah siapapun yang membacanya akan dapat banyak manfaat dari tulisan ini.

    ReplyDelete
  5. menyentuh.... kita memang bisa berkaca pada pengalaman pernikahan setiap org, utk bisa menjadi lebih baik lagi. makasih sharing nya

    ReplyDelete
  6. Masalahnya kompleks mbak aya.
    Salma itu kan uda tajir dari lahir, trus kemarinnya kaya apa pergaulannya, begitu hijrah langsung yang dapet suami hafiz Quran gitu. Mana LDR pula.
    Malah yang jadi pertanyaan saya kenapa Salma ga ikut Taqy aja ya, kayanya kalo dia mau dia mampu deh bayar biaya hidup di sana, kan enak ga LDR an.

    ReplyDelete
  7. Terpaut setahun mbak usia menikahnya :D Bener banget sih, awal pernikahan itu kerasa ego saat bebas masih kebawa, untungnya suami sabar.

    ReplyDelete
  8. Masalahnya mereka gak bisa memecahkan masalah di atas tempat tidur karena terpisah jarak yang sangat jauh hehehe...

    ReplyDelete