Sunday, August 5, 2018

Barista Inklusi, Kesetaraan dalam Secangkir Kopi


Jadilah seseorang seperti kopi
Yang akan menyebarkan harum dan menghitamkan air yang merebusnya.
-anonim-

Saya pernah dengar filosofi kopi seperti quote diatas. Cerita lengkapnya panjang, tapi singkatnya seperti ini. Wortel, telur dan kopi ketika diolah maka akan memberikan hasil yang berbeda. Wortel yang tadinya keras, jika direbus akan menjadi lunak dan lembek. Telur yang tadinya lembek jika direbus akan jadi keras. Jadi air panas itu jadi semacam penggambaran untuk tantangan, rintangan, segala bentuk kesulitan yang dihadapi dalam hidup.


Ada yang tadinya keras berubah jadi lembek, tapi ada yang setelah menerima cobaan hidup berubah menjadi lebih keras. Tapi filosofi terbaik adalah kopi. Ketika dia direbus dengan air panas, dia akan menyebarkan aroma wangi serta membuat air rebusannya menjadi berwarna coklat kehitaman. Filosofinya, tidak hanya mampu menghadapi rintangan, tapi juga memberikan efek pengaruh ke sekitarnya.

Kopi brewbagi

Ada hal yang istimewa dalam secangkir kopi jika mau kita telaah satu persatu. Kopi itu pahit, tapi entah kenapa banyak yang suka minum kopi. Saya rasa ini adalah kesempurnaan kopi karena ketidaksempurnaannya dalam pandangan orang lain.

Siapa bilang semua minuman harus manis? Karena yang pahit pun bisa jadi istimewa.

Seperti yang disampaikan oleh Bernard Batubara, salah satu penulis yang saat ini aktif menjadi penyedia kopi rumahan karena ketertarikannya pada proses perjalanan biji kopi hingga tersaji dalam cangkir di meja coffeeshop. "Kopi adalah simbol terbaik keberagaman, inklusifitas." tandasnya. Kopi memberikan pelajaran bahwa menjadi yang terbaik itu tidak perlu sesuatu sempurna yang tanpa cela.

Barista Inklusif

Kisah Barista Inklusif
Pagi itu, Jogja sedang dingin-dinginnya. Saya menembus udara Minggu pagi dari Selatan Jogja ke pucuk Utara, Pusat Rehabilitasi Yakkum Jl Kaliurang KM 13,5 Besi, Sleman, Yogyakarta. Dingin tidak tertepis ketika sampai di sebuah bangunan yang namanya sering saya dengar dari sahabat Aisha yang sering berkunjung ke sana.

Dingin segera berlalu ketika kopi mulai diracik oleh para barista difabel yang mendapat pelatuhan barista inklusif hasil kolaborasi Yakkum, Perogram Peduli dan BKVR.YK.

Bapak Zaemun, Manager Program Pusat Rehabilitasi Yakkum membuka acara dengan sebutan yang begitu positif. "Yakkum berdiri sejak 1982 untuk mengembangkan kemampuan kaum difabel," ucapnya membuka sambutan. "Diharapkan dengan pelatihan Barista Inklusif ini, kaum difabel bisa mendapatkan lapangan pekerjaan yang setara dengan mereka yang mayoritas." tutupnya.

Sedikit cerita yang saya dapatkan, pelatihan barista inklusif ini adalah kerjasama Yakkum dengan bkvr.yk untuk mengadakan pelatihan berjenjang bagi 8 orang difabel yang selama ini tidak dilibatkan dalam aspek sosial maupun ekonomi karena dipandang sebagai kaum disabilitas yang tidak mampu.
Kegiatan ini didukung penuh oleh Program Peduli, sebuah lembaga yang memiliki misi mewujudkan sebuah gerakan Inklusi Sosial yang mengajak masyarakat luas untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari agar seluruh elemen masyarakat mendapatkan perlakuan yang setara dan memperoleh kesempatan yang sama sebagai warga negara, terlepas dari perbedaan apa pun.



Ketika Kopi adalah Media Komunikasi
Sebuah cerita saat talkshow dengan mas Bernard Batubara. Awalnya mas Barra sempat stuck dengan aktivitas kepenulisan.  Mas Barra lalu datang ke coffee shop dan merasa asing dengan alat kopi. Ternyata peralatan untuk membuat kopi sangat "aneh" dan menarik bagi mas Barra. Alat-alat pembuat kopi pasti diciptakan oleh orang yang memang mencintai kopi. Bisa dikatakan, hampir selalu saat menulis, mas Barra mendapatkan inspirasi di kedai kopi. Untuknya, coffeeshop bukan sekedar tempat nongkrong sambil minum kopi lucu. Kalau di kos kosan biasanya yang datang bukan inspirasi tapi malah ngantuk. Lanjutnya lagi, coffeeshop adalah tempat ideal untuk menulis.

Sulitnya membuat secangkir kopi justru membuat penasaran. "Lebih ke teknik dan metodenya." ujarnya. Justru karena prosesnya yang kompleks bikin tertarik. Kopi tidak hanya sekedar hitam, pahit pekat, itu baru bisa dirasakan saat kita sudah mencintai kopi. Bagi mas Barra, kopi mampu mengembalikan mood menulis.

Saat jadi editor mas Barra sempat menjadi editor buku tentang 12 cerita difabel. Ada kalimat didalamnya yang membuat mas Barra tidak bisa memandang difabel seperti sebelumnya.


"Pada akhirnya kita semua akan difabel." karena penurunan kemampuan biologis, semua tidak akan ada yang lebih istimewa dari yang lain."

Barista adalah satu dari sedikit hal yang mampu merangkul banyak orang. Kopi aspeknya sangat luas. Bagian yang menyentuh secara personal adalah scientific. Hampir semua bagian kopi berguna. Ampas kopi bisa buat masker. Secara Izzah kopi hampir gak ada yang tersiasiakan. Hal terbaik yang dimiliki kopi adalah sifat inklusifnya. Di timur tengah ada Turkish rebus . Itali mesin espresso. Kopi juga sebagai simbol keberagaman.


Kisah mas Sugeng, Seorang Barista Inklusif
Mas Sugeng adalah salah satu pengunjung tetap Yakkum, sekaligus juga penikmat kopi di "Cupable Coffee" coffeeshop yang terletak di halaman parkir Yakkum. Karena seringnya melihat mas Sugeng, Mas Banu, sang owner menawari mas Sugeng untuk belajar menjadi barista. Kata Mas Sugeng, awal belajar membuat foaming ternyata gak pakai kopi asli tapi pakai air sabun.

Mas Sugeng ternyata sangat humoris. Sempat pula menggombali mba Frischa yang mengeluh kalau minum kopi bikin deg-degan. Mas Sugeng memberi tips supaya minum kopinya dekat dekat dengan dia, dijamin tidak deg-degan. Karena bisa jadi Mas Sugengnya yang gantian deg degan yaa.

Mas Sugeng mengatakan tidak ada kesulitan yang berarti ketika belajar menjadi barista dalam bimbingan bkvr.yk.
Mas Eko yang sudah berlatih satu bulan mengucapkan terimakasih kepada teman semua yang hadir yang mendukung yang mengikuti training barista. Program peduli, yang memfasilitasi dan memberi kesempatan. Komunitas kopi yang jadi guru berbagi ilmu. Dengan adanya kesempatan terus memohon doa untuk bisa terus berkarya mengimplikasikan ilmu yang didapatkan.


Mba Ranie dan kepeduliannya terhadap kaum marjinal
Mari berkenalan dengan mba Ranie Ayu Hapsari, Project Manager Program Peduli pilar disabilitas. Mba Ranie menjelaskan bahwa ada 6 pilar yang dianggap marjinal oleh masyarakat. Dengan adanya program peduli ini, diharapkan 6 kelompok ini (Anak dan remaja rentan; Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam; Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama; Orang dengan disabilitas; Hak asasi manusia dan restorasi sosial, dan Waria.) dapat diberikan ruang terhadap layanan dasar dan hasil pembangunan yang selama ini menjadikan mereka terpinggirkan.

Inklusi sesungguhnya menjadi ruang, bagi kaum muda penuh kreativitas untuk tidak melihat perbedaan namun melihat kita semua sebagai warna negara yang punya hak sama dan memiliki kesetaraan. Kopi sendiri sangat erat kaitannya dengan anak muda. Dengan kopi, maka anak muda akan terakomodasi dan diharapkan dengan pelatihan barista ini akan menjadi alternatif pekerjaan untuk kaum difabel, tentunya setelah diberikan pelatihan yang menyeluruh mengenai kopi.


Dalam pelatihan barista inklusif tidak hanya dilatih untuk bisa meracik kopi, namun juga mengenai perjalanan kopi serta bisnis plan. Barista diminta magang selama 1 bulan sehingga masinv masing memiliki ilmu lerencanaan dan cara mengakses modal. Darimana mereka bisa mengakses kopi yang baik, bagaimana cara marketing, jadi tidak sekedar basic kopi, citarasa, persiapan penyeduhan atau hal hal teknis lain.

Mba Ranie menutup, " Saya berterimakasih pada temen barista bersama Yakkum yang berusaha keras meruntuhkan stigma yang ada, berusaha menunjukkan kapasitas supaya nggak ada diskriminatif". "Terimakasih pak Banu owner cupable cup for empowering disable people."
"Ajak semua yang ada untuk menyebarkan virus kesetaraan lewat kopi", tutup mba Ranie.

Mimpi Frischa Aswarini dari secangkir kopi
Frischa, yang selama ini dikenal sebagai penulis juga tak jauh dari keberadaan kopi. Frischa, yang katanya tak suka kopi, nemun memiliki kesan khusus dari sisi latarbelakang para barista yang meracik kopi. Kehidupan barista ternyata memiliki sisi menarik yang dirasa Frischa pantas untuk diangkat dan diketahui khalayak.

Melihat para barista disabilitas ini juga menggugah hati seorang Frischa yang juga merasa memiliki dan ingin ambil bagian ikut serta dengan kegiatan penyandang disabilitas. Menurut Frischa, tidak mudah menggerurus stigma para marjinal saat ini.  Sebenarnya tidak ada pbeda antara yang normal dengan kaum difabel. Yang membedakan hanya stigmatisasi di masyarakat.

Saat ini, stigma sudah mulai bisa ditekan, sudah ada cara pandang yang terbuka. Frischa yang berasal dari Bali menceritakan, Di Bali ada rumah berdaya. Sebuah lembaga swadaya untuk bersama sama memberi andil kepada kaum difabel untuk membuat mereka meraih kepercayaan diri, pengobatan gratis, karena tidak semua bisa bayar BPJS. Dengan adanya suporter sistem yang baik, maka stigma itu lama kelamaan akan luntur.

Barista tidak sekedar mencampur kopi dan air. Melalui kopi kita bisa masuk pada isu krusial. Dari kesetaraan penyandang disabilitas maupun penyintas kekerasan di masa lalu melalui budaya populer bernama kopi.

Pada akhirnya, kita semua akan menjadi difabel. Bara sejak dulu tidak percaya dengan hal ekslusif dan menutup diri. Untuk jadi manusia yang baik harus sebanyak mungkin membuka diri dari hal di luar hidup kita.

Jangan lupa komunikasi sambil ngopi. Semoga dengan pelatihan barista inklusif ini memberikan harapan untuk kita semua agar
suara yang marjinal mendapat ruang lebih untuk hidup dan didengar.

Salam kesetaraan

No comments:

Post a Comment