Showing posts with label epilepsi. Show all posts

HTHT : Terapi How To Handle Them




#Terapi Aisha
HTHT


Hai Bundas

Kali ini saya mau cerita tentang ikhtiar jemput kesembuhan Aisha dengan cara yang lain. Kalau dibilang masih terkait medis, ya masih medis juga karena memang dari ilmu kedokteran memang nyambung kesana. Tapi dibilang dari non medis, bisa jadi juga. Kali ini saya mau sharing tentang ilmu yang saya dapat sewaktu belajar metode HTHT (How To Handle Them) Bersama Bu Octorina Bashusanti. Beliau adalah founder metode HTHT, Body Language Instructor, Senior Health Advisor, IBH Certified Instructor, Certified Hypnotherapist dan Certified Master of Handwriting Analysis. Wah banyak juga ya bidang dari Bu Octo ini. 

Menurut beliau, anak ABK itu adalah anak yang memerlukan perhatian, kasih sayang yang lebih spesifik baik itu di lingkungan rumah dan sekolah. Spesifikasi tersebut karena memiliki berbagai karakteristik khusus yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Beberapa yang bisa dibilang berekebutuhan khusus antara lain: tunanetra, tuarungu, gifted, autism. Slow learner, ADD/ ADHD, Asperger Disorder, Cerebral Palsy, Down Syndrome dll. 

Bedah Craniotomy di RS SMC Telogorejo Semarang

Bedah Craniotomy Aisha

Hai Bunds,
Akhirnya kesampaian juga menulis postingan ini setelah sekian lama hanya teronggok di draft. Di postingan kali ini say akan menceritakan secara teknis, pengalaman Aisha menjalani bedah syaraf atau craniotomi di RS SMC Telogorejo Semarang dengan dokter bedahnya adalah Prof. Zainal Muttaqin.

Sebelum baca, mungkin penasaran dengan cerita kenapa Aisha bisa sampai tahap proses bedah syaraf seperti ini

EEG longterm di RS SMC Telogorejo

EEG Longterm

Hai bunda,
Masih ingat tentang postingan kami bertemu prof Zainal di RS Telogorejo?
Kalau belum baca, sok atuh dibaca dulu:


Akhirnya kami menguatkan tekad untuk melanjutkan lagi proses pengobatan Aisha dengan beliau.

Hari ini, Kamis, 30 Januari 2020 kami datang ke Semarang memenuhi panggilan dari RS Telogorejo untuk EEG longterm dan MRI

EEG Longterm
Adalah meletakkan elektroda di bagian kepala untuk merekam aktivitas otak dalam waktu minimal 24 jam. Karena alat harus terpasang selama 24 jam, otomatis semua aktivitas selama itu harus dipakai kemana-mana, makanya dibalut alatnya satu kepala pakai perban.


Resolusi 2018 Bunsho


Hai Bundas

Udah deket deket pergantian tahun kaya gini, biasanya banyak yang bikin aneka harapan. Bahasa kerennya resolusi. Resolusi sendiri menurut KBBI:


re·so·lu·si /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal:

Dan ini jadi semacam impian jangka panjang setahun kedepan.

Postingan ini jawaban trigger postingan mba Summayah Tsabitah tentang resolusinya di 2018.


Beruntung buat orang orang yang di akhir tahun mengevaluasi resolusi tahun sebelumnya dan berhasil mewujudkan impian itu di tahun ini. Tapi ada loh, yang dari tahun ke tahun resolusinya sama karena nggak terealisasi terealisasi juga. Kacian deh luuu...

Contoh resolusi yang tiap tahun diulang ulang adalah "nikah tahun depan".

Pengalaman Bertemu Ahli Bedah Syaraf (Prof DR.dr. Zainal Muttaqin Sp.BS PhD)


Hai Bundas,
Rabu kemarin kami sekeluarga ke Semarang. Kami memang sudah cukup lama berencana mau bertemu dengan Prof Zainal, seorang ahli bedah syaraf yang cukup senior. Saya mendengar cukup banyak tentang beliau, dan juga sempat melihat re run saat beliau diwawancarai Kick Andi melalui YouTube. Disana Prof. Zainal bercerita mengenai proyek proyeknya menangani pasien pasien dengan kejang epilepsi.

Sebenarnya saya pribadi merinding saat mendengar bedah syaraf. Bayangan saya, bedah syaraf itu bedah otak, harus bolongin dan buka tempurung kepala dan ngudel udel bagian otak.