Thursday, April 13, 2017

Bunda memilih tidak memberimu ASI, Aisha


Hai Bundas, 
Postingan ini adalah hasil konsensus kolaborasi saya dan Witri. #SelasaBercerita #ObrolanKeluarga tayang di hari Kamis, tak apalah yaaaa. Sebenernya draft sudah siap di hari Selasa, tapi karena nunggu sesi foto dan percantik sana sini jadinya molor. Maafkaaan. Saya dan Witri punya pengalaman berbeda soal memberi ASI. Saya dengan pengalaman NgASI full 3 anak dan Witri dengan Juna yang sejak awal lahir sudah minum susu formula. 


Sebenarnya lingkungan saya bukan yang eksklusif eksklusif amat WAJIB ngASI sih. Soal memberi ASI sendiri saya juga baru mulai menyiapkan setelah saya hamil Shoji. Mulai kehamilan saya sudah mulai baca baca buku tentang pentingnya ASI. Karena persiapan kehamilan sebenarnya sudah sejak saya hamil kakaknya Shoji, saya punya lebih banyak referensi saat hamil Shoji.


Buku yang cukup membantu saya untuk rileks dan nyaman mempersiapkan kehamilan adalah buku Hypnobirthing karya Tante Yessie Aprilia


Sebagai mamah muda kekinian #ngakungaku, saya juga begabung di aneka komunitas support ASI yang akhirnya memantapkan saya untuk memberi ASI untuk anak anak saya kelak. Shoji yang anak pertama sudah saya siapkan segala macam peralatan demi mendukung ASI eksklusif dan S3 ASI nya. Termasuk membeli kulkas untuk menyimpan ASI perah karena saya adalah ibu bekerja (waktu itu). Suka duka menjadi bunda perah saya lakoni dengan penuh semangat. 

Waktu istirahat setelah mengajar saya sempatkan pumping, kemudian pulang ke rumah saat makan siang untuk menyusui Shoji secara langsung. Hampir hampir gak punya waktu istirahat di jam istirahat jadinya hehehe...

Kurang lebih 6 bulan saya berjibaku menjadi Mama perah dengan tantangan kurang istirahat karena tengah malam harus pumping, kejar setoran kalau ASI mulai seret karena stress ataupun PMS. Di usia Shoji 9 bulan, saya akhirnya resign. Mulai nyaman dengan menyusui langsung.


Kembali ke Jogja belum genap menyusui 2 tahun, saya hamil Rey. Proses menyusui Rey lebih nyaman daripada Shoji. Karena saya di rumah sana, otomatis Rey selalu menyusu langsung. Paling cuma perah beberapa botol kalau mau pergi ke kantor atau harus meninggalkan Rey beberapa jam. Karena bukan menyusui yang pertama kali, tentang pelekatan dan lain lain masih lumayang ingat lah.


Wah, pembukanya aja panjang bener yaaa. Memang namanya menyusui itu kalau di anak pertama pasti tantangannya macem macem yaaaa. Anak saya  ketiga, Aisha punya cerita yang istimewa. Kelahirannya Aisha yang cukup sulit ternyata berdampak panjang.


Mulai dari susu tambahan yang harus disendokkan setiap 3 jam sekali untuk menambah berat badannya, hingga proses mengenalkan Aisha pada dot ketika akan saya tinggal ke Bali untuk urusan kerjaan.



Saat ini saya pakai makanan tambahan berbentuk serbuk yang dilarutkan. Sebut saja Ped*****e. Itu ditarget sama nutrisionis untuk menaikkan berat badan Aisha yang stuck. 

Alasan saya? Kenapa akhirnya stop ASI Aisha adalah.....virus CMV. Jadi saat Aisha ketahuan kalau ada virus CMV, prof Sunartini langsung meminta saya STOP memberi ASI ke Aisha. Alasannya cukup masuk akal. CMV penularannya salah satunya lewat cairan tubuh. Jadi ASI saya otomatis bisa menambah konsentrasi virus CMV di tubuh Aisha, karena setelah saya periksa, saya memang punya virus CMV untuk IgG dan IgM nya, meskipun jumlahnya relatif sedikit dan tidak reaktif. 

Alasan kedua, Aisha sudah 16 bulan. Sebenarnya sudah lulus ASI eksklusif dan S1 ASI nya. Karena memang ada kesulitan menelan dan mengunyah di Aisha, hingga saat ini kami masih mengusahakan dengan terapi oral supaya Aisha mau mengunyah dan menelan lagi. Karena Aisha minum banyak macam obat, dia perlu banyak cairan dan nutrisi yang harus mengimbangi kerja obatnya.  Jadi fix kami berikan makanan tambahan melalui NGT yang terpasang di hidung Aisha. 

Banyak sekali pertanyaan, "Kapan NGT Aisha dilepas?"
Ya, kalau Aisha sudah mulai terampil makan dan minum menggunakan mulut dan memenuhi target gizi yang harus diasup setiap hari. Doakan yaaa...

Saat ini kami masih terus mengusahakan dengan berbagai cara juga. Aisha dulu sempat bisa minum lewat media botol di usia 5 bulan, namun karena saya tidak pernah latih Aisha pakai botol, kemampuan itu entah kenapa menghilang. 

Saking semangatnya saya untuk bisa melepas NGT Aisha, saya sampai coba berbagai macam dot. Beberapa ada yang dikirim oleh sahabat untuk dicobakan ke Aisha. Mulai dari dot yang harga bersahabat hingga yang pakai galau untuk belinya karena harganya bisa membeli 2 botol merk premium hohoho.

Kenapa dot sih? Jujur saya dulu termasuk yang anti memberi dot untuk anak, selain takut bingung puting, takut juga kalau mereka akan sulit dipisah dari dot. Hal ini nggak terjadi pada Shoji ternyata. Shoji bisa ngedot kalau saya tinggal, tapi juga nggak masalah kalau minum pakai gelas. Seingat saya Shoji sudah minum dengan sippy cup sejak 1,5 tahun.

Rey juga sama. Saat ditinggal dia bisa pakai botol dan ketika dipisah Rey juga nggak terlalu sulit. Yang sulit adalah menyapih Rey dari ASI di usia 2 tahun. 


Berikut list botol botol yang pernah dicoba Aisha: 


Ki-ka: Baby Huki round, Baby Huki Flat nipple, Little Giant, Pigeon Weaning with Spoon, Pigeon Wideneck Peristaltic Plus

1. Tommee Tippee
Ini adalah botol yang dipakai kakak Aisha. Shoji dan Rey. Karena pengalaman ke dua anak berhasil, Aisha kami harapkan juga bisa ngedot pakai ini. Ternyata Aisha nggak mau. Dia jerit jerit dan dikeluarkan pakai lidah dot-nya. Ini kami cobakan saat Aisha 5 bulan. Failed.

2. Pigeon Peristaltic Plus Wideneck
Ini adalah saran saran dari teman teman komunitas HHBF. Banyak yang sukses pakai Pigeon ini. Saya suka dengan bagian ujung dotnya yang lembut. Karena pakai yang wideneck juga ketika dimasukkan ke mulut Aisha dia mengira itu mirip PD bundanya. Beberapa kali cukup sukses ketika dicobakan saat Aisha 5 bulan. 
Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata laporan dari caregiver di daycare tempat saya menitip Aisha, dia cukup kesulitan, sehingga harus disendokin ASI perahnya. Oke, kudu coba yang lain.

3. Baby Huki.
Ini adalah dot yang disarankan oleh tante saya. Dua anaknya cocok dengan dot ini. Saya sampai beli dua, yang satu yang ujungnya bulat, yang satu yang ujungnya pipih. Memang lebih lentur dan nggak keras di bagian dot. Aisha bisa main main dengan dot pipihnya. Ketika usia 5 bulan, dot ini cukup bermanfaat hingga saya pulang dari Bali. Ayah Aisha tidak kesulitan meminumkan ASIP dengan dot Baby Huki ini sampai Aisha kekenyangan.

Apakah saat ini Aisha bisa ngedot pakai Baby Huki? Jawabnya NO!
Aduuuhhh..pusing lagi saya. Berlanjut pencarian dot idaman selanjutnya. Ketiga botol itu masih dipakai sih buat tempat bikin susu Aisha kalau mau disonde pakai spet.

4. Little Giant.
Ini dot bawaan breast pump Aisha jaman dia lahir. Dapat botol dan dot juga. Saya cobakan ke Aisha, karena Y cut sehingga susunya ngalirnya lumayan banyak. Logika saya sih gapapa, kan Aisha jadi gak perlu ngenyot tinggal telen susu yang ngalir, ternyata enggak pemirsah, susunya ngumpul aja di rongga mulut dan begitu Aisha tutup mulut....blebeeeerrrr.....

5. Dr Browns.
Saya dapat botol ini dari adik angkatan saya. Dia komen di status FB saya ketika saya sedang cari  botol buat Aisha. Terimakasih yaa tante Septi sayaaang. Saya suka karena ada antikoliknya. Aisha sudah pernah coba juga dan ternyata dimaij mainkan ujung dotnya. Belum mau ngenyot tapi setidaknya gak didorong keluar pakai lidah dan gak teriak teriak. Kudu ditelatenin aja nih belajarnya.


Ki-ka: Pigeon Magmag, Tommee tippee sippy cup, Comotomo, Dr. Browns, Tommee Tippee bottle.

6. Pigeon Weaning Bottle with Spoon.
Botol ini dikirim oleh sahabat saya Dita. Memang bukan bentuk dot sih, ujungnya adalah sendok, jadi memang praktis saat mau menyndoki, gak perlu berkali kali ambil susu di gelas. Awalnya kagok, tapi lama lama saya udah bisa memperkirakan berapa banyak susu yang harus dialirkan ke sendok. Aisha lumayan suka dengan teknik ini. Kalau dia lapar cukup mudah karena sudah mau menelan sedikit demi sedikit. Terimakasih ya Dita buat pengalaman barunya.

7. Pigeon Magmag
Botol ini rekomendasi salah satu orangtua teman Aisha di tempat terapi. Saya lihat awalnya karena bentuknya kaya moncong bebek gitu pasti akan mudah dicucup (apasih bahasa Indonesia dicucup?) sama Aisha. Saya bongkar bongkar feeding set yang dulu pernah saya beli. Eh ternyata ada. Masih baru belum pernah dipakai. Ternyata bagian lubangnya besar bangeeet...Aisha sempat kaget karena alirannya, akhirnya kami simpan lagi ini MagMag buat nanti Aisha kalau sudah sampai step selanjutnya.

8. Tommee Tippee Sippy Cup 
Ini gelas cucup Shoji jaman masih bayi. Kepakai banget buat transisi Shoji dari dot ke sippy cup dan lalu ke gelas. Nemu gelasnya aja lucu, tapi belum nemu pengganti dotnya, karena ini tipe lama. Sippy cupnya saya suka karena dia nggak ngalir kalau nggak dihisap, jadi mau sambil tiduran juga nggak akan tumpah airnya. Nggak tau sekarang yang model gini masih ada apa enggak, kayanya udah gak ada yang jual hehehe...disimpan juga buat besok kalau Aisha sudah bisa nyedot.

9. Comotomo
Akhirnyaaaaaa....
Setelah galau galau, kebeli juga dot ini. Melihat beberapa review kok kayanya Aisha bakalan menemukan tambatan dot-nya disini. Saya pernah juga coba sample-nya pas dipajang, dan emang sih empuk banget bagian dot nya. Bagian badan dot juga empuk dan bisa diremas kaya squishy #ehh. Aisha baru 2 hari saya cobain dot comotomo ini. Yes-nya adalah ujung dot nya panjang jadi bisa sekalian dipakai untuk oral terapi selama proses minum. Dot nya masih bawaan yang slow flow, jadi nggak terlalu banyak menetes pas masuk ke mulut Aisha. Kalau Aisha mulai nggak lancar menelan, kadang saya pencet bagian badan botolnya, lalu susunya mancur ke rongga mulut, dengan stimulasi ini Aisha mau menelan susunya. 
Kalau dibilang berhasil, belum bener berhasil sih. Karena Aisha masih belum mau menutup mulut dan ngenyot seperti yang diharapkan, tapi setidaknya 30 ml dalam 45 menit lumayan laah...

Mungkin itu pengalaman yang saya bagikan. Saya nggak bilang bahwa botol A lebih bagus daripada botol B. Enggak sama sekali. Cuma bayi punya preferensi sendiri kayanya yaa...yang paling mudah sepertinya tetep payudara dan puting bunda. Memang sih hal seperti ini menguras tenaga dan hati, tapi buat saya dan mungkin orang tua dengan anak anak CP yang memang banyak bermasalah di step mengunyah dan menelan, ini adalah bentuk perjuangan kami. 

Untuk anak sehat normal, tetap ASI adalah yang terbaik. Pemberian dengan media selain dot juga sangat disarankan untuk mencegah hal hal yang kurang diinginkan. Saya bicara dari kacamata seorang ibu dengan anak yang punya kesulitan menelan, mengunyah dan tenang, jadi kalau diminta untuk coba pakai cupfeeder saya lambaikan bendera putih deh 😅😅😅

Terus semangat ngASI yaa bunda...
Sehat sehat semuaaa...

Love, 
Aya


6 comments:

  1. Aku pengen yang corotomo sama dr.browns... Tapi enggak, udah 2,5 tahun mau aku ajarin minum gelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi...ayooo semangat ngajarin minum pakai gelas ke Juna maak

      Delete
  2. Semangat aisha..ayoo..mimik susu yang banyak ya biar makin endut ya sayang 😚😚😚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi...pengen saingan endud sama Tifa maaak

      Delete
  3. Sehaaat sehaat terusss buaat aisha dan kakak"nyaa ya mbaaak. . Aamiin. Salam kenal dan terima kasih untuk sharingnyaaa. Bermanfaat banget 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih untuk doanya. Terimakasiih sudah sedia mampir 😀😀😀

      Delete