Showing posts with label menyusui. Show all posts

Bunda memilih tidak memberimu ASI, Aisha


Hai Bundas, 
Postingan ini adalah hasil konsensus kolaborasi saya dan Witri. #SelasaBercerita #ObrolanKeluarga tayang di hari Kamis, tak apalah yaaaa. Sebenernya draft sudah siap di hari Selasa, tapi karena nunggu sesi foto dan percantik sana sini jadinya molor. Maafkaaan. Saya dan Witri punya pengalaman berbeda soal memberi ASI. Saya dengan pengalaman NgASI full 3 anak dan Witri dengan Juna yang sejak awal lahir sudah minum susu formula. 


Sebenarnya lingkungan saya bukan yang eksklusif eksklusif amat WAJIB ngASI sih. Soal memberi ASI sendiri saya juga baru mulai menyiapkan setelah saya hamil Shoji. Mulai kehamilan saya sudah mulai baca baca buku tentang pentingnya ASI. Karena persiapan kehamilan sebenarnya sudah sejak saya hamil kakaknya Shoji, saya punya lebih banyak referensi saat hamil Shoji.


Buku yang cukup membantu saya untuk rileks dan nyaman mempersiapkan kehamilan adalah buku Hypnobirthing karya Tante Yessie Aprilia

Indahnya Saat Menyusui

Momen Menyusui Aisha
Ketika akan menjadi ibu, biasanya apa sih yang kita persiapkan benar benar? Ketika saya tau bahwa saya hamil, dalam bayangan saya adalah proses kehamilan yang nyaman dan proses menyusui. Dua hal ini kaya Upin dan Ipin, gak ada salah satu kaya ilang greget. Korelasi antara hamil dan menyusui seolah nggak bisa dipisahkan ya. Apalagi untuk Muslim sendiri ada perintah untuk menyempurnakan penyusuan hingga 2 tahun lamanya. Saya jadi throwbacktime ingat ingat lagi jaman awal saya menyusui Shoji maupun Rey. Boleh yaa nostalgia sedikit.

Suatu hari...dikala kita duduk di tepi pantai...
Eh yang tiba tiba ngelanjutin nyayik berati Anda tua (seumuran sama saya) #GimikMenjebak

Shoji lahir secara SC. Waktu itu dikarenakan proses kala 2 yang amat sangat lambat. 36 jam tidak juga bukaan lengkap membuat saya cukup khawatir atas keadaan Shoji. Akhirnya Shoji memilih keluar lewat jendela, lahir di meja operasi. 

Tips Memilih Baju Menyusui

Nyaman saat menyusui

Hamil dan menyusui itu jadi momen paling indah karena memang momen istimewa. Cuma kadang memang momen hamil dan menyusui ini bikin saya suka mager alias males gerak. Mager dalam artian saya jadi males kemana mana. Bumil dan busui itu bawaannya gerah dan gak nyaman, ukuran badan udah oversize, baju baju kekecilan, gampang gerah, belum lagi kalau harus menyusui di depan umum jadi ribet bawaannya. 

Kemarin Selasa saya dapet kesempatan untuk ikut launching brand baru Lactivers, gamis yang dalam visi dan misi duo foundersnya ingin mensupport ibu ibu menyusui, menjadi bagian istimewa pada siklus kehidupan perempuan. 

Diawali dengan mendengarkan pembacaan AlQuran, lalu dilanjutkan sambutan dari bapak Muhammad Herbowo BOD lactivers. Sebagai seorang suami, beliau punya kegelisahan. Karena istri kalau diajak pergi pergi ketika masih dalam masa menyusui suka ribet. Mau gak diajak kasian, kalau diajak juga kasian. Jadi dengan adanya baju menyusui syar'i dari Lactivers, sekarang merasa dimudahkan untuk bisa mengajak keluar istri karena istri juga tetap nyaman, bajunya elegan dan tetap syar'i.

Acara selanjutnya adalah kajian dari Ustd. Diana Rahmawati. Beliau menjelaskan tentang tujuan manusia diturunkan di muka bumi. Misi penciptaan manusia ada tiga yaitu, Beribadah kepada Allah (Q.S Adz Dzariyat 56), menjadi khalifah di muka bumi (Q.S Al Baqarah 30), dan menjadi khoiru ummah (menjadi umat terbaik dengan menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, Q.S Ali Imron 30). Ustd. Diana juga menyampaikan bahwa Islam memperbolehkan seorang muslimah untuk membawa manfaat lebih bagi ummat, dan melakukan bisnis selama tidak melanggar hukum syara dalam AlQuran. Kajian lengkap ustd. Diana ada di postingan selanjutnya yaaa

Baca: Kajian Muslimah Sukses Dunia Akhirat


Talkshow Muslimah Sukses Dunia Akhirat
Usai kajian, ada sesi perkenalan dan sejarah brand New Lactivers dengan duo foundernya. Perkenalan pertama adalah dengan mba Novriana Dyah Puspitasari yang dipanggil mba Pipit, seorang lulusan sarjana psikologi UGM. Mba Pipit sudah sangat concern dengan baju menyusui sejak 2012. Beliau menemukan brand Lactivers dan mendesain baju baju menyusui lalu memasarkannya. Lactivers asalnya dari laktasi, produk laktasi lovers. Visi Misi pertama kali saat membuat brand Lactivers adalah menampik anggapan bahwa menyusui itu susah. Memang diakui mba Pipit banyak hambatan yang membuat ibu enggan menyusui seperti; kurangnya  komunitas dan dukungan terutama dari lingkungan. Lactivers diharapkan mba Pipit menjadi satu komunitas yang bisa memberi dukungan kepada ibu ibu menyusui untuk bisa Istiqomah dengan aktivitas menyusui selama 2 tahun. Baju baju Lactivers kreasi mba Pipit tahun 2012 baru seputaran atasan dan tunik tunik.

Menurut mba Pipit, sebenarnya lumayan ribet juga ya kalau muslimah harus pakai baju dobel dobel dan kurang praktis dengan baju atasan atau tunik. Kondisi ini membuat mba Pipit sempat vakum mengerjakan bisnisnya. Akhirnya mba Pipit bertemu dengan mba Tria.

Mba Tria Meriza adalah seorang sarjana komunikasi yang sudah memulai bisnis properti sebelum menggandeng mba Pipit di bisnis gamisnya ini. Salah satu bisnisnya adalah Simply Homy. Menurut cerita mba Tria, seharusnya bisnis properti itu akan lebih potensial untuk berkembang, tapi kok bisnis mba Tria dirasakan stagnan. Keuntungan lebih banyak "menguap". Akhirnya mba Tria selama 5 tahun terakhir belajar lagi mendalami agama Islam dan berkomitmen untuk menjalankan bisnis sesuai dengan aturan Islam. Semenjak itu, semua akad bisnis mba Tria diperbaiki. Bertemu dengan mba Pipit, akhirnya mba Tria dan mba Pipit berkolaborasi untuk menjalankan bisnis gamis menyusui syar'i dan menyempurnakan "Lactivers" menjadi brand baru dengan logo baru juga. 


Brand New Lactivers
Sebagai seorang ibu menyusui, buat saya Lactivers ini jelaaaas manfaat banget. Lactivers adalah gamis yang didesain untuk muslimah yang ingin tampil syar'i dan nyaman saat menyusui. Misi Lactivers adalah memberikan dukungan nyata untuk membangun ikatan terbaik di 100 hari pertama di kehidupan baru serta ambil bagian dalam menguatkan hubungan kasih antara ibu dan anak. 

Pas pertama kali lihat model gamis dan warna warnanya, ow jelas saya kepincut. Ngak kelihatan kaya gamis menyusui loh, cakeeep dan elegan. Ada 2 macem gamis yang ditawarkan Lactivers yaitu Gamis Basic yang bahannya rayon dan Gamis Mahira yang bahannya balotelli. 

Lactivers Mahira dan Basic


Setelah saya coba dan saya pakai jalan jalan sama Aisha dan suami, wiiih...beneran loh nyaman banget. Ini yang saya jadikan pertimbangan saat memilih baju menyusui: 

1. Ada lubang rahasia untuk menyusui

Nah "jendela" ini memungkinkan bunda menyusui tanpa harus "menumpahkan" seluruh isi "botol" jadi, aurat tetep terjaga. Di gamis Lactivers ada akses menyusui yang memudahkan kita tanpa buka kancing atau ritsleting. Untuk Basic tinggal tarik di samping dan untuk Mahira tarikannya di bagian bawah dada.
Akses menyusui mudah
2. Cuttingnya nggak membentuk lekuk badan. 

Saat ini saya cukup mempertimbangkan model gamis. Karena gimanapun juga kalau ingin benar benar menutup aurat, perintah Allah adalah pakaian tidak membentuk lekuk badan. Terus kalau bahan kaos rayon gimana?


Lactivers Basic Mint
Meskipun bahannya kaos, untuk Gamis Basic kalau dikenakan itu bikin efek lebih langsing! Aaah idolaaak banget deh. Selain itu, ketika dipakai nggak nyeplak badan karena bagian bawah juga dibuat rimpel rimpel. Cantik pokoknya...

3. Wudhu friendly.

Ini penting banget loh, ibu ibu dengan anak balita kan pengennya bisa gerak cepat #itusayadeng. Bagian lengannya untuk yang basic ada karetnya, sementara yang Mahira berbentuk manset. Untuk yang basic, ujungnya pakai karet, jadi sekali tarik langsung deh bisa wudhu.

4. Kainnya kualitasnya bagus.

Kalau beli pakaian kan pengen yang awet ya. Kain kaos dari gamis basic ini enak bangeet. Buat ibu menyusui kan butuh baju yang nyaman ya, karena bahannya kaos, bisa menyerap keringat. Oh iya, sering kan ya kalau abis dicuci suka mengkerut atau melar baju berbahan kaos itu? Ini enggak! Beneran. Masih sama dengan bentuk aslinya. Saya suka saya suka!

5. Warna warninya pastel cantik cantik.

Karena ibu menyusui usianya sekitar 23-35 tuh kudu pakai warna warna kekinian. Saya kebetulan suka warna warna pastel, jadi liat gamis ini berasa ratjun.  Pilihannya ada banyak warna loh, dan Lactivers juga tiap bulan akan berinovasi mengeluarkan model model baru. Waah jadi pengen selalu mantengin web nya lactivers nih.


Kembaran warna mint sama Aisha
6. Modelnya everlasting.

Ih, apa sih eveasting, emang love song 😜😜😜ini baju setelah hamil dan menyusui masih bisa dipakai buat baju pergi pergi ternyata, soalnya modelnya dipakai casual bisa, semi formal dan formal juga bisa.

Nah itu beberapa pertimbangan saya memilih baju menyusui, Bundas. Ada yang punya pertimbangan lain? Atau ada yang pernah cobain gamis Lactivers ini? Yuk boleh tulis di komen yaaa...

Love, 
/Aya

Merawat bayi BBLR dan metode Perawatan Model Kangguru Aisha

Haiii...

Postingan kali ini saya akan melanjutkan kisah Aisha (bisa dibaca disini)

Aisha terlahir cukup bulan (39 week) namun memang beratnya amat sangat kurang. Dengan berat 1910 gram, Aisha seharusnya langsung dimasukkan inkubator. Namun karena saya yang kurang ilmu, ngotot minta Aisha rooming in.

Setelah sampai di UGD PKU, saya diminta menemui kepala ruang bayi untuk mendengarkan penjelasan tentang kondisi Aisha malam itu.
Hancur hati saya saat perawat ruang bayi mulai menjelaskan kondisi Aisha saat diterima disana.
- Nafasnya tersengal sengal karena sebelumnya Aisha menangis kencang
- Detak jantung tidak teratur dan amat sangat cepat seperti orang habis berlari lari
- Level GDS nya 0 (seperti orang puasa 3 hari)
- Suhu tubuh dingin
- Kulit sudah mulai membiru
Intinya kondisi sudah amat sangat kritis.

Hasil lab pada pemeriksaan darahnya mengatakan Aisha terkena infeksi bakteri terlihat dari kandungan leukositnya yang tinggi. Jadi Aisha harus menjalani terapi antibiotik.

22 September 2015
Kata Dokter Komar, Aisha sempat kejang, sehingga dokter memberikan obat anti kejang. Ada juga infus glukosa 10% untuk menaikkan kadar gula darahnya. Detak jantungnya juga masih dipantau mesin, begitu juga sensor untuk mendeteksi kejang Aisha. Hari pertama di inkubator, badan Aisha masih kaku kaku.

Sebagai seorang ibu, miris rasanya melihat Aisha tanpa bisa menyentuhnya. ASI diberikan lewat selang, Alhamdulillah ASI adalah ikhtiar saya untuk pengobatan Aisha.
Karena stress, ASI saya sempat macet, Alhamdulillah berkat doa dan support orang orang tersayang, saya selalu ditenangkan. Hanya tasbih yang menemani malam malam saya, lantunan dzikir untuk kesembuhan Aisha.

Beruntung di PKU ada kamar untuk ibu bayi beresiko. Jadi kami bisa beristirahat dan pumping disana. Berkumpul dengan ibu ibu kuat dan tegar yang lain, bisa menguatkan hati saya yang sat itu sedang remuk.

Selama di TPI saya sempat menulis beberapa catatan...

Hari kedua
23 September 2015 23:00

Hari ini hari Rabu. Satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Kata Uti, bunda lahir juga sewaktu malam takbiran. Tapi, malam takbiran kali ini ternyata harus bunda harus lewati di bangsal rumah sakit tempat penitipan ibu untuk bayi beresiko tinggi.
Menunggu tirai dibuka di jam besuk untuk bisa melihat Aisha 2 kali sehari.

Alhamdulillah, syukur pada Allah, diberikan teman teman baru. Mba Maya, ibu baby prematur 8 bulan (1,7 kg) dan mba Murti, ibu baby prematur 7 bulan 2,2 kg. Kami saling menyemangati disini. Memerah bareng, jam menyusui mereka adalah alarm bunda untuk memerah

Jadwal perah ASI Aisha
05.30, 08.30, 11.30, 14.30, 17.30, 20.30, 23.30, 03.00

Asi bunda kian bertambah, dan sampai saat ini Aisha masih bisa menerima ASI. Lewat ASI bunda, semoga Aisha tau kalau bunda disini menanti Aisha sehat dan kuat lagi...

Hasil perah setelah hari ke 3

Hari kelima
28 September 2015 23:25

Ini hari ke 5. Kondisi Aisha semakin membaik kata perawat, namun memang belum bisa menyusu langsung. Secara fisik Aisha semakin membaik.Alhamdulillah
Saat ini Aisha masih harus menyelesaikan terapi antibiotik. Katanya kalau sudah 7 hari baru bisa di cek lagi untuk test darah.
Jadi ingat, saat Rey sakit demam tinggi tiga mingguan sebelumnya, Rey juga nggak mau makan dan selama 7 hari harus menghabiskan antibiotik.

Aisha sayang,
Kata perawat mereka sedang mencoba menyuapimu menggunakan sendok. Bunda juga mau lhoooo. Bunda akan menyuapimu sambil bercerita nak...
Bunda sempat menangis di depan ayah tadi. Setegar tegarnya bunda, bunda tetap hanya manusia biasa. Hanya seorang ibu yang sudah 5 hari tidak bisa memeluk buah hatinya

Hari kedelapan
30 September 2015 17:10

Sejak kemaren Aisha sudah nenen langsung sama bunda jam 14.30
Rasanya bahagia banget bisa neneni Aisha lagi. Kata dokter, infus Aisha sudah bisa dilepas yeaaayy

Hari ini Oksigen Aisha juga dilepas dan bunda sudah diajari KMC (Kangaroo Mother Care) Atau PMK (PrawatanModel Kangguru) bunda pilih gendongan yang motifnya cantik secantik Aisha, motif batik :)

Gak sabar nunggu sesi KMC berikutnya...
Oh iyaaaa bunda bawakan buku Aisyah, buku pemberian ayah saat nikah dulu loh, untuk dibacakan ke Aisha...
Inspirasi nama Aisha dari Siti Aisyah, istri Rasulullah...

Bismillah ya Aisha
Sampai hari ini
Tante Maya sudah pulang
Tante Murti juga
Tante Fitri menyusul
Tante Esthi dan tante Fatma sudah pulang juga
Tinggal bunda, tante Fathin, tante Mita.

Yuuuk Aisha pulang, gk usah lama lama yaaa :)

Metode KMC /metode PMK


Hari ke duabelas
02 Oktober 2015

Hari ini adalah jadwal KMC yang ke 3. Bunda belajar membedong (lagi) Aisha plus dikasih edukasi
Untuk bayi terlahir BBLR metode perawatan yang baik adalah:
- KMC paling baik selama 20 jam
- nafas 60 kali/menit
- suhu tubuh 36,5 - 37,5°C
- minumi setiap 2 atau 3 jam sekali, jika bayi tidur, bangunkan dan sendoki ASI nya
- jaga selalu dalam kondisi hangat karena bayi rentan hipotermia dan hipoglikemia.

Biasakan mencuci tangan sebelum memegang bayi, siapapun yang menengok sebaiknya tidak memegang atau mencium bayi

Akhirnya di hari ke 13 Aisha bisa pulang kembali ke rumah. Ayah bunda dan Uda Shoji Rey senang sekali Aisha sudah pulang ke rumah

Mohon doa Aisha sehat sehat selalu yaaaa

Love
/Aya




Menyapih dengan Cinta (Weaning With Love)

Weaning with love
Hai Bundas,

Cukup lama sejak terakhir saya menulis yaaa...
kali ini saya akan cerita tentang pengalaman saya menyapih Rey. IYA Rey sudah 2 tahun nih sekarang, terhitung sejak 8 Desember 2012 hingga 15 Januari 2015 kemarin baru resmi disapih alias tidak nenen lagi.

Karena sebelumnya Shoji menyapih sendiri saat saya hamil Rey 5 bulan (Shoji 18 bulan). Kata orang tua karena air susunya sudah nggak enak, makanya Shoji nggak mau nenen hehe. Nah jaman Shoji saya nggak ngerasain nih yang namanya menyapih, karena Shoji menyapih sendiri.

Mengingat Rey yang sangat nenenholic, saya sempet khawatir kalau Rey akan sangat sulit lepas micubun (mik cucu bunda). Saya udah mulai sounding bahwa kami akan WWL (Weaning With Love) ketika Rey sudah 2 tahun.

Tiap mau bobo, Rey selalu saya affirmasi
"Rey, nanti kalau sudah 2 tahun, kalau mau bobo, mik susunya pake gelas yaaaa. Kalau bangun malam, mik air putih"

Saya sudah mulai mengenalkan cup dengan sedotan saat Rey 2 tahun kurang. Jadi dia cukup familiar. Intinya Rey selalu diajak untuk ngobrol mengenai "berhenti nenen" ini setiap malam.

Lanjut setelah 2 tahun pas, karena Rey masih belum  bisa lepas nenen, akhirnya saya kurangi waktunya. Kalau biasanya masih tiap hari, tiap saat, bangun tidur, abis mandi, mau bobo siang, abis mandi sore dan mau bobo malam plus sambil ngelilir ngelilir, saya mulai kurangi menjadi "hanya saat mau bobo malam"

Awalnya sempat manja-manja dan selalu minta, tapi selalu saya tolak halus dengan mengatakan bahwa Rey boleh nenen kalau mau bobo malam di rumah, Alhamdulillah dia mau mengerti.

Sejak nggak nenen siang, Rey mengambil kesempatan malam hari untuk memuaskan nenennya, jadi tidak pernah dilepas dari mulai bobo sampai bangun lagi.

Duuhh...saya jadi kurang tidur dan badan nggak seger, emosi pun gampang terpancing. Akhirnya setelah diskusi sama ayah Shoji mengenai hal ini, kami memutuskan untuk melepas nenen Rey, toh dia sudah 2 tahun lebih.

Day 1
Rey minta nenen sebelum bobo, masih saya kasih, sampai dia tertidur lelap. Nah saat ngelilir minta nenen ini saya nggak kasih. Dia mulai menangis, tidak mau berhenti, berusaha minta dan teriak teriak sambil menendang nendang saya. Ayahnya mencoba menenangkan juga nggak bisa. Sediiih rasanya, tapi kami tau kalau kami loloskan permintaannya, kami harus mengulangi lagi saat saat seperti ini besok.
akhirnya, karena kecapekan menangis, Rey minta gelas air putih yang kami sediakan di kamar. Dia minum beberapa teguk, lalu menagis di pelukan saya sampai tertidur.

Saat ngelilir selanjutnya juga begitu. Untungnya besoknya libur, jadi saya dan suami bisa bangun agak siang hehehe....

Day 2.
Rey minta nenen sebelum bobo, sampai tertidur lelap. Pas dia bangun dan minta nenen, saya tawari air putih di botol, ditolak. Tapi dia hanya menangis sebentar lalu lanjut tidur lagi. Begitu juga saat bangun malam, hanya menangis sebentar, lalu tidur lagi.

Day 3
Rey mau bobo, tapi kali ini minta digendong ayah. Sukses Rey nggak bobo diantar nenen. Begitu juga saat bangun malam, hanya menangis lalu diusap usap lanjut tidur lagi.

Day 4
Nampaknya Rey sudah mulai kehilangan "ketagihan" nenennya. Rey sudah mau diajak ke tempat tidur dan diselimuti plus berdoa. Ditepuk tepuk sambil sesekali dicium cium dan dipeluk serta disenandungkan Sholawat :)

Dan Resmi hari ke 5 Rey sudah total lepas dari nenen di usia 2 tahun lebih 1 bulan. Tanpa paksaan, tanpa oles oles, dan sebuah kelegaan bagi kami berdua, mengingat saya akan ke Bandung di 13 Februari nanti untuk acara Seminar Director 2015 di Bandung. Alhamdulillah ternyata diberi kemudahhan dalam penyapihan Rey. Udah  berkurang kekhawatiran saya.

Semangat menyapih dengan cinta yaaa bundaaa

Love
/Aya

Pengalaman VBAC di RSU Griya Mahardika

Hai bunda, setelah sekian lama vakum menulis, akhirnya sempat menulis lagi. Kali ini saya mau cerita soal persalinan saya yang VBAC (vaginal birth after caesarean) nih...
Buat yang di Jogja, bisa langsung meluncur ke TKP hehehe...

Penampakan Griya Mahardika
 Kemaren saya sudah sedikit menyinggung soal kehamilan ketiga saya (hihihi, tiga tahun menikah, tiga tahun pula hamil wkwkwkw *saya subur yaaa???)

Hamil pertama, setelah menikah (ya iyalaahh) mencoba testpack di 13 Desember 2009 (pas ultah Uda) dan hasilnya positif, namun ternyata Allah lebih sayang sama Yusuf Muhammad Shalda, jadi diambil lagi dari kami. Ceritanya bisa dibaca DISINI

Tiga bulan saya abstinence, karena harus mengosngkan rahim setelah kuret di 12 Februari 2010. Alhamdulillah bulan Mei 2010 saya sudah terlambat haid, ini berrarti kehamilan saya kedua di tahun kedua pernikahan hehehe...

Selanjutya setelah merayakan ultah Shoji yang pertama di 22 Februari 2012, saya dapat haid. Ini haid saya yang terakhir hingga hari ini karena saya dinyatakan hamil lagi.

Kehamilan ketiga saya ini bener bener ”smooth”, maksud saya, jika saat hamil Yusuf atau Shoji dulu, saya memang sering kena gangguan kesehatan. Ada ada saja pokoknya. Mulai dari sakit gigi, diare, alergi serbuk bunga, alergi serangga, flu, batuk, macem macem deh. Saat hamil Shoji dulu saya juga sempat disuruh bedrest sama dokter karena sempat flek.Tapi Sbhanallah, kehamilan Rey ini saya nyaris tanpa keluhan. Saat belum tau kalau hamil, saya bahkan pulang balik Klaten Jogja sambil gendong Shoji saat periksa USG 4D ke dr Ivanna (bisa dibaca DISNI). Rey juga saya ajak begadang kalau malam lantaran baru bisa ngerjain bisnis kalau malam hari. Selama hamil, presentasi, sharing bisnis, OOM, beauty demo  di Magelang (baca DISINI) , ikut lamaran mas ke Boyolali dilanjut piknik ke Ketep Pas, bahkan hingga 3minggu sebelum HPL masih menghadiri pernikahan sahabat di Boyolali (baca DISINI) dan dilanjut periksa kehamilan ke Bidan Kita dan diskusi serius soal keinginan saya untuk VBAC sama tante YesieAprilia (baca DISINI). Alhamdulillah, Rey nggak pernah ngeluh atau ngambek.

Selama kehamilan, saya juga ngurusin Shoji sendiri tanpa ART. Hingga usia 7 bulan pun masih gendong Shoji (meski Cuma sebentar sebentar), pokoknya full aktivitas deh. Tapi semua berbuah manis. 

Tidak seperti jaman hamil pertama dan kedua dulu, saya masih punya banyak waktu. Kehamilan Rey kali ini saya berusaha meluangkan waktu yang hampir seluruhnya telah tersita dengan aktivitas mengurus Shoji, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurusi bisnis dengan mendengarkan CD hypnobirthing. Meski tidak tiap malam, namun mencuri curi waktu. Begitu juga dengan mendengarkan Uda mengaji. Saya juga mengikuti kelas senam hamil dan yoga hanya sesekali saja.

HPL Rey adalah 3 Desember 2012. Karena pengalaman Shoji maju 2 minggu dari HPL, maka segala sesuatu sudah disiapkan jauh jauh hari, termasuk semua perlengkapan yang harus dibawa ke rumah sakit, bisa dilihat DISINI. Namun hingga hari H, dedek Rey tetep kalem kalem aja. Banyak sms yang menanyakan apakah dedek Rey sudah keluar atau belum. Di saat yang bersamaan pula, Uda sedang sibuk sibuknya karena dikejar deadline LPJ akhir tahun. Pikir kami, mungkin Rey sengaja menunggu kami punya waktu luang untuk benar benar fokus menyambut kehadirannya. Sempat terpikir, apakah Rey ingin ulang tahunnya sama dengan eyang kakung di 12-12-12 atau ayah di 13-12-12.

Jumat malam, 7 Desember 2012 Uda mengajak saya pacaran *maksudnya jalan jalan tanpa Shoji. Akhirnya Shoji dititip dulu di tempat kakung utinya. Kami masih mencari tempat jalan jalan, akhirnya terbesit untuk jalan jalan ke AMPLAZ sekalian membeli perlengkapan yang kurang untuk menyambut baby Rey.

Sabtu pagi, 01:00 gelombang cinta dek Rey mulai terasa, tapi masih timbul tenggelam gitu. Ayah tetap berangkat kerja karena ada tugas yang tidak bisa ditinggal, jadi kakung dan uti saya ”paksa” main ke rumah. Sekitar jam 11 pagi, gelombangnya makin intens. Uda belum juga pulang dari kantor. Saya tetap menunggu Uda pulang dan bersikeras nggak mau panggil ambulance sampe Uda datang. Akhrnya sekitar jam 14:00 diiringi hujan gerimis, Uda datang dan 30 menit kemudian kami panggil Ambulance. Setelah meminta doa dan restu dari bapak dan Ibu serta menitipkan Shoji pada mereka, kami meluncur ke rumah sakit.

Jam 15:00 Ambulance sampai di RSU  Griya Mahardika. Saya segera dibawa ke VK untuk di cek sudah sampai bukaan berapa. Heran juga karena tidak ada tanda tanda rembesan air ketuban ataupun lendir darah. Setelah USG hasilnya debay beratnya sekitar 2,8 kg (saya bersyukur debay tidak terlalu besar) Setelah di cek USG, letak plasenta di atas, djj bayi 150xmenit, HB saya 13gr/dl (Alhamdulillah normal, padahal sebelumnya hanya 8,7gr/dl) dan denyut jantung 120/80 (padahal biasanya 100/70 bahkan hingga 90/60). Setelah hasil observasi, saya yang punya riwayat SC dan baru berselang 22 bulan dari SC pertama diperbolehkan mencoba untuk bersalin secara normal) dan hasil VT ternyata baru bukaan 1. Hah? Bukaan 1? Wwkwkw...padahal rasanya udah lumayan tuh...Saya jadi teringat lagi jarak bukaan 1 dengan bukaan 9 jaman Shoji dulu 36 jam dan kepala Shoji tak juga turun. Membayangkan menjalani proses pembukaan yang begitu lama membuat saya merinding, tapi saya memang sudah membulatkan tekad, untuk yang kali ini saya ingin sekali merasakan bersalin secara normal. Pertimbangan saya satu satunya adalah ”Kalau SC lagi saya akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, sementara Shoji sangat membutuhkan saya karena Uti hanya bisa menunggui saya sampai 1 minggu saja. Bismillah...Bismillah...Kebayang banget repotnya apalagi kalau ditinggal ayahnya kerja. Tapi nggak akan saya bayangkan ahhh...dihadapi sajah. 

Saya akhirnya balik ke kamar dan dipersilakan jalan jalan kalau masih kuat. Sebelum jalan jalan masih sempet Sholat Ashar dulu untuk menenangkan hati. Dapat sms juga dari Ama Uda Ryan untuk melafalkan dzikir “HasbunalLâh Wani’mal-Wakîl”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. 3:173)

“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong [Ni'mal-Mawla Wani'man-Nashîr]“. (QS. 8:40)

Tiap kali gelombang cinta itu datang, Uda selalu membimbing untuk melafazkan dzikir.

Jam 19:00 Bidan melakukan VT lagi dan ternyata sudah bukaan 6, saya langsung dibawa ke ruang VK untuk persiapan persalinan. Jam 21:00 VT berikutnya, sudah bukaan 8 dan kepala debay sudah turun. Alhamdulillah, Rey benar benar tangguh mencari jalan keluar. Sambil menggenggam tangan saya, Uda tak henti berdzikir dan disela sela gelombang cinta dedek, dia menawari saya makan dan minum untuk menambah tenaga saya. Saya tidak berhenti memegang tangan Uda dan menatap matanya. Rasanya tenang sekali….dan dalam gelombang gelombang cinta itu, saya tak henti tersenyum. Karena saya tahu bahwa sebentar lagi saya akan bertemu dengan buah cinta kami untuk yang pertama kali. Kata tante Yesie Aprilia, selama kita rileks dan tersenyum, maka jalan lahir pun akan rileks dan tersenyum juga. Sekitar pukul 22:50 VT dokter Wita sudah bukaan 10, daaan…saya sudah boleh mengejan. Tapi pas udah bukaan 10 kok malah hasrat pengen “pup” nya ilang yah? Saya malah nggak ngerasa apa apa hehehe…Tapi Alhamdulilllah setelah 4 kali mengejan dengan bisikan cinta dari Uda yang duduk di belakang saya dan memeluk dari belakang, meluncurlah debay masih di dalam selubung ketubannya.

Kami sebagai orang tua yang punya idealisme sendiri, punya banyak banget permintaan yang Alhamdulillah difasilitasi oleh RSU Griya Mahardika. IMD sudah pasti ya, begitu dek Rey ditaruh di dada saya (masih berlumuran darah dan lendir) rasanya semua sakit langsung lenyap. Bahkan saat dijahit pun saya nggak ngerasa. Kami juga minta delay cord, karena Rey tali pusatnya cukup panjang. Sudah itu, kami juga minta rooming in dengan Rey, jadi Rey hanya dibersihkan sekenanya lalu diberi baju dan bedong, habis itu kami bawa ke kamar dan bobo di samping saya :) (Shoji dulu juga cuma dibersihkan 2 jam lalu stay di kamar bareng bunda)


Malam minggu itu jadi kencan pertama saya dengan Rey yang tak terlupakan pokoknya. Saya nggak bisa tidur dan hanya melihat dia tertidur pulas disamping saya. Sisa sisa darah di rambutnya dan beberapa di bagian wajah. Dia tampak lelah setelah berjuang mencari jalan keluar ke dunia untuk bertemu kami, orangtuanya. Sungguh sebuah keajaiban, dan betapa saya merasa Allah sangat sayaaaang pada kami.
bahagia ber-adik
excited!
Minggu pagi saya sudah bisa mandi sendiri. Dan sorenya sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Beda banget sama jaman saya SC. Hari pertama waktu Shoji dulu saya masih belajar miring, hari kedua belajar duduk dan hari ketiga belajar jalan. Ini hari kedua saya sudah bisa jalan jalan ke lobby depan untuk mengantar Rey imunisasi dan hari ketiga udah seru seruan narsis di taman untuk foto foto hehehhe...

imunisasi
Shoji kecapekan jaga adik
tamannya bagus, buat ajang narsis :)
Kata orang, aktivitas kita selama hamil mempengaruhi keberhasilan persalinan. Iya banget sih menurut saya. Aktivitas selama hamil Rey, mengasuh Shoji sendirian di rumah, mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Bahkan hingga hamil 7 bulan dan perut saya membuncit begitu, masih pula menggendong gendong Shoji. Hihihi mau tanya resepnya? Nutrishake! hihihii. Selama hamil saya rutin konsumsi Nutrishake, sebelum lahiran juga, biar tenaganya optimal meski nggak bisa makan makanan padat. Saat penyembuhan selama di rumah sakit juga looh...Alhamdulillah karena protein tinggi pemulihannya lebih cepet jadinya :)


Untung Nutrishake gak ketinggalan dibawa :)
Bersyukur sekali rasanya bisa merasakan lahiran normal :) luar biasa dan ajaib sekali. Selama seminggu saya masih ditunggui ibu, namun di hari ke 8, saya sudah harus mengasuh Shoji dan mengurus Rey sendiri saat ayahnya bekerja. Untungnya Rey sangat tenang, ia hanya terbangun dan menangis saat BAB,BAK, atau ingin minum. Nggak ada ngajakin begadang dan bikin saya kehabisan energi di malam hari. Shoji juga sebagai kakak sangat kooperatif, saat saya akan mengurus Rey, menggantikan popok, atau menyusui, Shoji sudah bisa main sendiri atau menunggui saya menyusui sambil mengelus elus kepala Rey atau menciumnya. Tampaknya Shoji senang punya adik. Hanya saja, toilet training Shoji sedikit terganggu. Beberapa kali dia kelepasan pipis lantaran saya sedang menghandle Rey dan tidak bisa menemaninya ke kamar mandi (tiap anak bervariasi dalam menghadapi kehadiran anggota keluarga baru lho bunda, ada yang mendadak rewel, gak mau ditinggal, memusuhi adik dll)

yang nengokin...
Alhamulillah boleh pulang...

Lepas dari itu semua. kelahiran Rey membawa warna baru untuk hidup kami. Untuk yang pengen liat liat Rumah Sakitnya, bisa langsung klik http://www.rsu-griyamahardhika.com 

RSU. Griya Mahardhika Yogyakarta

Jl. Parangtritis Km. 4,5 Gg. Wijayakusuma No.212 Yogyakarta
No. Tlp: 0274 -445020
Fax : 0274-445023
Email : info@rsu-griyamahardhika.com
 

Salam Gentle Birth

/Aya