Sunday, April 2, 2017

#MemesonaItu Kasih Tulus yang Terpancar dari Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus



Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
-Dee Lestari, Malaikat Juga Tau (lyrics)-

Ada yang masih ingat lagu diatas? Saat saya melihat pertama kali, hati saya terketuk. Betapa orang-orang yang berkesempatan dekat dengan orang-orang berkebutuhan khusus itu istimewa. Pengalaman saya pertama kali adalah saat punya murid di daycare tempat saya mengajar dulu. Namanya Agam, anaknya tampan dan membuat saya terpesona. Agam punya dunianya sendiri, dia lebih suka berjalan bolak-balik mengelilingi track sepeda atau memainkan roda mobil-mobilan atau pesawat ataupun mengamati benda apapun yang berputar. 

Saya penanggungjawab Agam waktu itu, sering mendengar usaha usaha yang dilakukan Bunda Agam, termasuk membawa ke terapis wicara. Di usianya yang ke 4 tahun, bisa mengucap satu kata "Apel" saja bisa membuat Bunda Agam bercerita dengan berkaca kaca. Saya jadi ikut menitikkan airmata mendengarnya. 

Ketika akhirnya Shoji terdiagnosa speech delay, saya teringat pada sosok Bunda Agam. Meskipun Shoji tidak ada diagnosa Autis, namun hingga usia 5 tahun Shoji masih sangat sulit diajak berkomunikasi. Diminta tolong, "Shoji, tolong ambilkan piring diatas meja" atau "Shoji, tolong ambilkan handuk adik Rey di jemuran handuk" hanya dijawab dengan senyum manis Shoji, karena dia sama sekali tidak tau apa yang harus dilakukan. 


Terapi wicara, fisioterapi dan obat obatan juga kami ikhtiarkan untuk Shoji. Alhamdulillah atas izin Allah, Shoji sudah mulai lancar membuat kalimat di usia 6 tahun. Saat ini kemampuan berkomunikasinya juga sudah semakin membaik. 

#MemesonaItu adalah ketika melihat kasih sayang tulus yang terpancar dari ibu ibu dengan anak berkebutuhan khusus yang saya temui. Aisha terdiagnosa Global Developmental Delay, enchepalomalacia lobus parietal bilateral, epilepsi west syndrome, microcheply, CMV, Cerebral Palsy.  Selama proses pengobatan Aisha saya dipertemukan dengan orangtua-orangtua hebat yang luarbiasa.

#MemesonaItu adalah rela pulang-pergi untuk mengantarkan terapi seorang keponakan yang yatim piatu dari tempat berjarak kuranglebih 40 kilo tiga kali seminggu. 


#MemesonaItu adalah ibu Endang yang mengabdikan 30 tahun hidupnya untuk merawat putranya yang menderita Muscular Dystrophy Progressive tipe Backer namun sang putera bisa mendirikan "yayasan Habibie Afsyah" untuk mengangkat kehidupan para difabel. 

#MemesonaItu adalah ibu Yanie yang sepeninggal anaknya karena leukemia membuat beliau mendirikan "Komunitas Taufan" sebuah gerakan untuk para sukarelawan terjun langsung membantu para orangtua dengan anak anak yang terkena kanker. 

#MemesonaItu adalah Grace Melia yang dikaruniai Ubii yang berkebutuhan khusus tapi tetap aktif berkreasi dan produktif di bidang menulis serta menjadi founder support grup anak anak berkebutuhan khusus di komunitas Rumah Ramah Rubella.

#MemesonaItu adalah seorang ibu dengan anak yang didiagnosa kebocoran jantung yang pernah saya temui dan mengatakan pada saya, "Allah menciptakan semua ciptaannya sempurna, kadang kita saja yang tidak melihat kesempurnaan mereka"

Untuk semua ibu dengan anak berkebutuhan khusus, yang terus mau berikhtiar dan tetap tulus memberikan kasih sayangnya kepada anak anak tercinta. #MemesonaItu...kalian!

Kemarin saya sempat membuat semacam survey kecil kecilan. Tentang hal yang dipandang orang sebagai #MemesonaItu pada diri saya. Dan dari sekian banyak komentar, saya simpulkan. Bahwa, ketangguhan seorang ibu berikhtiar untuk anak anaknya adalah hal yang ternyata memesona banyak orang. Head up high, moms! karena punya anak berkebutuhan khusus bukan aib, bukan kutukan, apalagi tanda Allah tidak menyayangi kita. Bukan! 

Dianugerahi anak berkebutuhan khusus justru yang membuat kita makin tampak memesona, tidak hanya untuk orang lain, tapi juga di mata Allah, sang Maha pemberi anugerah. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #MemesonaItu menurut versimu. Yuk ikutan lombanya 






Jadi buat saya, untuk tetap #MemesonaItu tetap jadi diri sendiri dan bahagia dengan apapun yang melekat pada diri kita. Saat kita menerima dan bersyukur dengan semua yang ada, akan membuat kita terlihat memesona. Oh ya satu lagi, jangan lupa bahagia yaaa.

Love,
/Aya

10 comments:

  1. MOga bunda-bunda yang mendampingi anak istimewa selalu diberi keistimewaan,aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Keistimewaan juga buat mak Eni. Terimakasih sudah berkunjung

      Delete
  2. peluk buat Shoji, Aisha dan mamanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluuuk balik La!
      Terimakasih sudah sedia mampir yaaa...salam balik untuk dandelion 😍😍😍

      Delete
  3. Kuat sehat dan terus menginspirasi ya Aya dan Aisha. Peluukkkkssss. 😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluuuk balik Manda kuuuh...
      Menginspirasi seperti dirimu dan Panda yaaak 😍😍😍

      Delete
  4. setuju dengan pendapatmu mak, ibu2 dengan anak berkebutuhan khusus itu memesona, apalagi sampai mendirikan komunitas2 dan berbagi... salutttt buat mereka semua
    tetap semangat yaa, Mak... Mak Aya hebattt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memesona itu mak Witriiii... Selalu punya hal unik yang menginspirasi orang lain 😍

      Delete
  5. Selalu salut dengan para ibu tangguh yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Teringat seorang sahabat yang tak pernah lelah mengantarkan anaknya terapi karena berkebutuhan khusus.
    Semoga Allah selalu memudahkan kita sebagai orang tua ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin...aamiin..terimakasih mba Nur, salam kenal yaaa.

      Delete