Sunday, August 5, 2018

Barista Inklusi, Kesetaraan dalam Secangkir Kopi


Jadilah seseorang seperti kopi
Yang akan menyebarkan harum dan menghitamkan air yang merebusnya.
-anonim-

Saya pernah dengar filosofi kopi seperti quote diatas. Cerita lengkapnya panjang, tapi singkatnya seperti ini. Wortel, telur dan kopi ketika diolah maka akan memberikan hasil yang berbeda. Wortel yang tadinya keras, jika direbus akan menjadi lunak dan lembek. Telur yang tadinya lembek jika direbus akan jadi keras. Jadi air panas itu jadi semacam penggambaran untuk tantangan, rintangan, segala bentuk kesulitan yang dihadapi dalam hidup.

Saturday, August 4, 2018

Digibank, Aktivitas Perbankan dalam Genggaman Tangan


Bang bing bung yook...kita ke Bank
Bang bing bung yook...kita nabung
Tang ting tung hey, jangan dihitung
Tau tau kita nanti dapat untung.

(Mari menabung, )

Menabung sudah menjadi budaya bagi bangsa Indonesia. Mulai dari yang paling sederhana sesimpel menyimpan uang di bawah bantal atau laci lemari, hingga menggunakan fasilitas deposit bank untuk surat surat berharga. Menabung juga merupakan salah satu bentuk strategi menjaga cashflow alias aliran keuangan dalam rumah tangga.

Saya ingat sekali awal saya membuka tabungan di sebuah bank, yang awet dan suvive sampai saat ini, pada usia 8 tahun atau kelas dua SD. Saya jadi tertarik menabung karena saya membaca sebuah artikel di majalah Bobo (whuaaa...ketebak deh saya angkatan lama) yang mengisahkan seorang anak yang mendapatkan bunga setelah menabung di bank.

Keuntungan dan teknologi digibank by DBS

Friday, August 3, 2018

SD Pedagogia Labschool FIP UNY

Foto Kelas di SD Pedagogia Labschool

Hari ini hari pertamaku
Hari pertama ke sekolah
Senangnya hatiku diantar ayah ibu, pergi berangkat ke sekolah
Senangnya hatiku bertemu teman baru, guru baru tentulah ramah
Ayo ke sekolah....
Ayo ke sekolah...

Cuplikan lagu diatas pasti gak asing ya? Yup itu adalah lagu yang dinyanyikan Shoji dua tahun lalu ketika masuk ke TK A. Dan saat ini tidak terasa Shoji kecil sudah lebih dewasa (sedikit) dan sudah masuk SD.

Banyak yang bertanya dimana sekolah Shoji yang sekarang. Karena realitanya memang tidak banyak sekolah inklusi yang menerima ABK (anak berkebutuhan khusus), ramah ABK (dan ramah di kantong orangtuanya). 

Bukan tanpa survey kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada sekolah Shoji saat ini. Awalnya berbekal rasa galau yang melanda hebat, seperti saat harus memilih cari calon suami baru atau balikan sama mantan #ehh