Showing posts with label padang. Show all posts

Piknik ke luar kota, Yay or Nay?


Hai Bundas,
Di awal Oktober ini saya mau nerusin cerita soal perjalanan piknik Jogja dalam sehari yang udah saya lakukan dalam waktu (ouuuch) hampir 12 bulan yang lalu. Sebenernya ini hampir kaya trilogi gitu loooh niatnya, tapi apa daya postingan ini nyempil jauh banget sama yang sebelum sebelumnya



Well, pas banget nih #KEBloggingCollab kali ini mengambil tema travelling. Mau ke luar kota atau di dalam kota ya? Apa pula pertimbangan kita memilih piknik kesana.


Menjawab blogpost mak Awie yang diatas tadi, rasa rasanya saya akan menuliskan curcolan blogpost saya tentang pendapat saya mengenai travelling.

Berkecimpung di dunia kepenulisan (baca: temenan sama travel blogger. Temenan lho....catet!), saya sering banget ngeliat timeline temen temen saya plesiran kemana mana. Mulai dari yang ke HAU Citumang, sampe pulau Dewata Bali! Itu semua GRATIS alias gak bayar akomodasi apapun. Tinggal angkat koper doang, semua udah diurus.

Antara Menikah Muda dan Cita Cita Saya

Pernikahan adat Jawa
Hai Bundas,
Membaca judulnya bikin bertanya tanya gak sih? Emang Aya itu nikah dini ya? Sedini apa juga nikahnya?

Well, lagi rame berita mengenai pernikahan dini Alvin, anak ust. Arifin Ilham dengan Larissa Chou, seorang mualaf. Membaca beritanya bikin adem tapi juga khawatir. Kenapa adem? Pastinya doi bisa jadi versi "keren" baru untuk anak anak seusianya, tapi pun bisa bikin orang tua dengan putra putri yang masih abegeh yang lain ketar ketir.

Yang bikin khawatir? Karena memang dari pengalaman saya pribadi (sekali lagi ini murni kekhawatiran dalam definisi saya loh, beda boleh banget) umur segitu saya lagi runtang runtung hobby dolan sama teman. Emang abis menikah nggak bisa dolan dolan? Bisa laah pastinya, saat ini pun saya masih suka dolan dolan hehehe...tapi pasti tetep kerasa beda. Meskipun buat saya dolan masih sebatas di dalam pulau aja, mengingat kudu berburu tiket pesawat murah kalau mau ke luar pulau cihuy!

Menikah itu tanggungjawabnya bertambah besar, apalagi perempuan, seorang ibu, sudah pasti untuk keluar rumah sudah harus dengan approval suami, saat anak anak ada yang handle dan lain lain. Dan saya pun mengamini kata ibu saya, saya lebih legowo nggak keluar dolan sama temen karena ngasuh anak misalnya. Lebih ngerasa bisa menerima kondisi untuk lebih banyak di rumah karena porsi dolan sudah dihabiskan saat masih sendiri.

Ibu saya pernah pesan, "Menikah itu bukan perkara gampang, bukan masalah ijab qabul, sah, lalu hidup bahagia selama lamanya" kaya ending film film kartun produksi Pixar atau Disney. Butuh lebiih dari itu semua. Pernikahan justru satu babak baru dalam kehidupan yang didalamnya akan butuh kemampuan luarbiasa untuk menghadapi masalah demi masalah satu persatu dengan baik. Menikah itu soal tanggungjawab, menurunkan ego, menaikkan empati, melibatkan kerjasama team yang solid. Emotional quotient kudu tinggi. Bisakah anak belasan tahun menghadapi itu? Bisa! Tapi mungkin bukan saya *tutupmuka.

Menikah muda memang bukan cita cita saya. Dan benar. Saya menikah di usia terlalu matang #relationshipgoals hahaa. Bukan saya bilang menikah muda gak baik lhooo, bukaaan. Hanya saja untuk saya pribadi yang di usia 21 tahun pun masih serampangan, sepertinya lebih mengkhawatirkan kalau saya menikah dan punya anak. Yayaya, saya masih amat sangat labil di usia itu. Emosi masih meledak ledak dan manjanya tingkat Olimpiade Rio. Membahayakan bagi suami dan anak anak #ngaku. Meskipun sekarang juga masih begitu #eh, tapi setidaknya lebih bijak dan dewasa sedikiit.

Saat masih single, banyak menerima undangan teman teman saya yang menikah duluan. Which is, saya jadikan itu sebagai referensi pernikahan saya besoknya (nggak tau kapan dan sama siapa hahaha). Kumpulin aja temanya, kadang ngambilin kartu nama katering atau ngumpulin kertas undangannya *kasiandehgue

Sepertinya keinginan menikah di usia matang ini karena saya ngeliat orang tua saya. Orang tua saya menikah di usia yang gak bisa dibilang muda. Ibu 27 tahun dan bapak saya 32 tahun. Tantangannya tentu besar, ketika bapak mendekati pensiun, saya harus sudah menyelesaikan pendidikan S1 saya (atau cari beasiswa supaya tetep bisa melanjutkan kuliah). Untungnya selesai juga 3,5 tahun kuliahnya. Legaaaaaa...

Nikah muda bisa jadi dipilih supaya jarak ortu dan anak gak terlalu jauh, biar bisa main bareng. Tapi menikah tua pun menurut saya tetep asik asal orangtuanya tetep berjiwa muda *ciyee... Toh, saya merasa sampai saya setua ini seumur sekarang, bapak saya masih asik asik ajah diajak main hihihi.

Banyak hal yang membuat saya memilih menikah tua eh tidak muda. Salah satu alasannya adalah saya punya keinginan menyelenggarakan resepsi pernikahan dengan uang hasil tabungan sendiri. Pengennya saya, orang tua mah tinggal terima beres aja. Jadi urusan sewa menyewa tempat, undangan, suvenir, katering, hiburan, orang tua nggak perlu mikir, biarlah kami yang heboh kesana kemari bayar ini bayar itu. Beliau beliau tinggal dikasih itinerary, kapan didandanin, duduk manis, menikmati rasa bahagia melepas putri pertama dan satu satunya ini. Alhamdulillah pernikahan idaman kami terlaksana dengan baik #weddingreceptiongoals hahaha.

Pun untuk keluarga suami juga pengennya kami, semua tinggal duduk manis nunggu jadwal pesawat, lalu calling calling, biar kami yang ubek ubek cari tiket pesawat promo ahahaha...

Baca : Resepsi adat Jawa

Bicara soal pernikahan, salah satu yang jadi cita cita saya juga adalah menikah dengan pakai suntiang ahahaaaa....cita cita dari SD terlintas pas nonton film berseri Siti Nurbaya (ampuuun...anak sekarang pengen jadi Elsa atau Anna di film Frozen, gue pengen nikah pakai suntiang :D). Jatuh cinta dengan kebudayaan Minang, meski sesungguhnya darah Jawa mengalir begitu kental dari kedua orangtua saya yang asli Jogja. Jatuh cinta pada Minang ini yang ternyata membuat vibrasi saya menarik pemuda Minang untuk mendekat dan akhirnya menikahi saya, jadi kesampaian deh saya menikah pakai suntiang #relationshipgoals (lagi) hahaha.

Penting gak penting, buat saya menikah sama orang beda pulau itu gak masalah, selama masih ada tiket pesawat promo dan tiket pesawat murah aseeekk...

Pernikahan adat Minang

Baca: Pernikahan Minang

Kebetulan juga, pada awal bulan ini adik ipar saya menikah di kampung halaman kami, Cupak, Solok, Sumatera Barat. Pak Angahnya Shoji Rey Aisha akhirnya melepas masa lajangnya juga di usia yang tidak juga muda *penting nggak siih*, namun sayang, saya hanya dapat kiriman fotonya aja.

Bukan kenapa kenapa, jadwal kuliah ayah Shoji yang keluarnya mepet, bertepatan dengan jadwal sekolah Shoji Rey yang padat, plus jadwal terapi Aisha tidak memungkinkan kami membuat keputusan last minute untuk memesan tiket pesawat. Selain itu kalau last minute pesennya agak kesulitan juga dapat tiket pesawat murah hohoho

promo Anniver5ary Tiket.com
Sedih sih sedih, tapi insyaAllah ini tidak akan terjadi lagi. Karena sekarang ada aplikasi yang bisa melakukan pemesanan last minute tapi tetep dengan harga bersahabat loh. Segala macam tiket tinggal klik klik aja, bayar, beres. Bepergian jadi mudah, pulang kampung insyaAllah lancar. Kenapa? Pastinya karena ada tiket pesawat promo dong. Tinggal download aplikasi Tiket.com di *200*266#. Mudah kan?

Tiket pesawat murah ini adalah bagian dari Anniver5ary Tiket.com yang juga bagi bagi diskon, diantaranya diskon kereta semua rute 20.000 masa promo 1-31 Agustus, diskon tiket pesawat murah 200.000 masa promo 11-20 Agustus, diskon top hotel tanpa minimum transaksi masa promo 3-31 Agustus 2016 dan ada penukaran tix poin untuk dapat hadiah.

Sharing juga yuk, pengalaman temen temen akhirnya berhasil melepas masa lajang dengan bahagia :)

Love,
/Aya



Kaos Afra Kids, kaosnya anak muslim



Hai bundas

Posting kali ini saya pengen review soal kaos yang lagi ngeheitz banget. Iyaa... kaos anak muslim Afra Kids. Sebenernya ini adalah kaos kiriman aunty Shoji Rey Aisha, dikirim barengan sama bouncer punya kakak Rashid yang sudah gak terpakai karena kakak Rashid udah gede.

Sering banget brand ini bersliweran di timeline FB saya, tapi belum bernyali juga untuk beli online. Biasa emak emak, takut kecewa kalau ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Naaah... akhirnya dapet kesempatan dikirimin samplenya sama Aunty Shoji yang juga distributor kaos Afra kids ini, jadi bisa sedikit cerita disini.

Pertama kali ngeliat penampakan aslinya, waah... dikemasnya rapih. Satu kaos dimasukkan dalam plastik ziplock. Size dan jenis kaosnya tertera pada label. Ada juga peringatan bahwa kaos akan mengekrut setelah dicuci, jadi pastikan ukurannya pilih yang lebih besar dari ukuran badan anak yaaa...

Lalu pandangan saya tertuju pada tulisannya. Bagus bagus gambar dan tulisannya, cetakan gambar dan tulisannyapun kualitas tinggi. Bahannya halus.

Lalu pada kertas yang dipakai sebagai alas kaosnya, ada semacam artikel yang menjelaskan tentang tulisan pada kaosnya sebagai sumber informasi tambahan untuk ayah dan bunda.



Saya cobakan pada shoji untuk dipakai jalan jalan bersama ayah dan teman teman teman ayah, dari pagi sampai sore. Meski pakai lengan panjang, tapi Shoji nggak kegerahan lhoooo...



Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi untuk bunda bunda yang mau memilihkan pakaian untuk putra putrinya yaaa...

Silakan kalau ada yang berminat bisa hubungi aunty Shoji di 081374006426 yaaaa

Salam
/Aya

Berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung




Jadi ini masih bersambung sama postingan sebelumnya. Saya mengajak Ibu (utinya Shoji) untuk menengok kampung halaman suami di Solok Sumatra Barat. 
Hari itu hari Minggu, kebetulan Ama juga sedang libur mengajar, jadi kami sekeluarga merencanakan piknik ke Pagaruyung.

Perjalanan diiringi hujan rintik, dan hawa yang cukup dingin. Begitu juga saat kami sampai disana. Perjalanan lumayan panjang dari Solok ke Tanah Datar tidak mengurangi kegembiraan Shoji, Rey dan Alissa yang bersemangat menemukan tempat main baru.

Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat (Wikipedia)

Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.

Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo(tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.

Anak anak bersemangat, Uti dan Nenek bahagia

Nah tanggal 27 Februari 2007 istana Pagaruyung terbakar lagi, tapi pas kemaren kami jalan kesana, sudah terbangun sempurna dan boleh dikunjungi. Kata Ayah Shoji, dulu kalau ke Pagaruyung gak boleh naik, tapi kemarin kami dapet kesempatan bisa naik sampe ke tingkat paling atas.

Subhanallah, berada di atas istana dengan hawa yang dingin dingin seger (saat itu pas hujan rintik rintik) rasanya luarbiasa sekali. Apalagi mengajak Ibu jalan jalan sampe ke luar pulau.

Shoji dan Rey juga Alissa (anaknya adek ipar) keliatan seneng banget. Naik turun tangga dan lari lari di ruangan. Ama (nenek Shoji) juga seneng banget kami bisa ngumpul jalan jalan.

Banyak kami temui pengunjung menggunakan pakaian adat Minang berfoto disana. Mungkin untuk foto pre wedding ya hehehe (saya memilih foto selfie saja bersama ayah Shoji). Untuk kenang kenangan, kami juga ditawari untuk foto keluarga bersama, hasilnya bisa langsung dicetak dan di laminating untuk kenang kenangan. Ama mengusulkan mencetak 2 foto, satu untuk di Solok dan satu untuk dibawa ke Jogja :)


Groovie di Istana Pagaruyung

Seneng banget deh rasanya. Salah satu tempet wisata yang kudu didatengin :)

Mengajak 2 Balita Travelling Naik Pesawat

Travelling dengan balita

Haiii 

Alhamdulillah bisa juga ngisi blog lagi niih Kali inipengen cerita pengalaman mudik keluarga kami ke Solok, Sumatra Barat yang ke dua. Iya, sebelumnya kami pernah mengunjungi Solok 3 tahun lalu, tepatnya saat Lebaran tahun 2012 ketika Shoji berusia 6 bulan. 

Karena ketebalan dompet kami fluktuatif dari bulan ke bulan, akannya baru bisa ngumpulin duit untuk pulang kampung setelah 3 tahun (keplakan untuk segera keluar dari zona nyaman dan nambah penghasilan xixixi). Sebenernya rencana pulang kampung harusnya saat Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri Juni kemarin, tapiiii oh tapi ternyata belum diijinkan karena ternyata tiket pesawat TigerAir yang kami book tercancel karena Maskapai Tiger Air sendiri tidak mampu lagi beroperasi. 

Aktivitas balita di pesawat


Well, Alhamdulillah seluruh biaya yang kami keluarkan untuk pembelian tiket senilai hampir 7 juta (5 tiket berangkat dan 1 tiket pulang direfund full. Kami juga sudah bikin nadzar, kalau uang tiketnya kembali, kami akan ikut kurban tahun ini. Alhamdulillah itu juga terlaksana. Selanjutnya kami memilih maskapai Sriwijaya Air karena penerbangan Jogja-Padang gak ada rutenya, jadi tetep harus Jogja-Jakarta, Jakarta-Padang. 

Sampe saat ini Shoji berarti udah ngerasain take off dan landing sebanyak 8 kali xixixi, udah mulai terbiasa kayanya... Ini adalah Rey's first flight.

Di usia kurang dari 2 tahun, kami sudah harap harap cemas kalau Rey akan rewel sepanjang perjalanan. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 9.30, karena pesawat sriwijaya Air yang akan membawakami terbang take off pukul 10.50 Pas di pesawat, Alhamdulillah Shoji tidak ada masalah saat take off maupun landing. Selama di pesawat Shoji memilih baca tabloid yang disediakan, sambil ngemil snack yang kami bawa dari rumah. Rey masih agak tegang saat landing dan take off, selalu minta peluk, tapi selama perjalanan juga cukup kooperatif.
Balitas di pesawat


Sampai di Bandara Soekarno Hatta, menunggu pesawat ke Padang waktunya cukup lama. Shoji dan Rey kami ajak main main di playground. Lumayanlah daripada ngejar ngejar mereka di lounge mainan AC. KIra kira pukul 18.00 panggilan supaya segera boarding, Alhamdulillah tiba di Padang sekitar pukul 20.00 dan kami lanjut makan dI RM Lamun Ombak sebelum melanjutkan perjalanan ke Solok dengan mobil.

Intinya sih klo ngajak anak terbang siapkan bekal makan dan mainan atau buku. Biasanya nggak repot repot amat sih, kecuali saat mereka tidur pas transit dan kita kudu bopong bopong heheheh 

selamat travelling
/Aya

Bukittinggi Trip



Hai hai...setelah kemarin mereview tentang upacara pernikahan adat minang di sini, sekarang karena upacaranya sudah selesai, kami ber 7 (saya, Uda, Shoji, Irma, Ardian, Ade, dan Asep) melepas penat ke Bukittinggi...

Ini adalah perjalanan yang cukup menyenangkan sebenarnya, tapi mengingat kondisi badan saya yang sedang tidak fit, karena haid hari pertama setelah 15 bulan tidak haid...heeeedeeewhhh...rasanya luarbiasa lemeeess...

Perjalanan kami diawali dengan memacu mobil menuju ke arah Danau Singkarak. Perjalanan cukup berliku membuat saya sedikit mual (biasanya enggak lhooo) dan saya sempat muntah (maap) saat sampai di danau Singkarak. 

Tapi...begitu turun dari mobil, langsung segar lagi rasanya. menemani penganten baru (Irma dan Ardian), liburan kami ini sekaligus honeymoon kali yaaa buat mereka, maklum, masing masing adalah orang orang sibuk hihihi. Saya dan Uda serta Shoji menikmati sekali pemandangan di Danau Singkarak ini. Buatbackground foto baguuus banget hehehe, agak berkabut gimanaaaa gitu..

Perjalanan kami dilanjut SMS (bukan Sm*sh makan So Nice lhooo) tapi mengunjungi warung Sate Mak Syukur di pasar yang katanya mak nyusss itu. Saya yang termasuk penikmat sate padang cukup lahap menyantap hidangan yang disediakan yakni SATE *gubraaaggghhh ya iyalaaahhh...masak disediain pizza?

Shoji tidak saya (bolehin) sempat mencicip bumbu sate yang cukup spicy dan agak sedikit pedas. ia hanya minum air putih dan makan (lagi lagi) puree pepaya bekal dari rumah (kan masih 4 days rule...)



Selepas makan, kami lanjut ke air terjun. Sayaaang sungguh disayang belum berjodoh, karena saat tiba di lembah anai, hujan turun begitu derasnya, jadi kami segera putar balik untuk menuju ke Goa jepang. 

di Goa jepang, perut saya sungguh tak bisa diajak kompromi. berkali kali ke kamar mandi untuk ganti pembalut karena begitu derasnya darah mengucur (wiii sereeemm) dan saya benar benar seperti kehabisan tenaga, jadi kami hanya duduk duduk di atas sambil melihat panorama indahnya Ngarai Sianok.

Dari Goa Jepang, lanjut tujuan untuk melihat Jam Gadang. karena lalu lintas cukup padat, dan kami kesulitan mencari tempat berhenti, kami cuma berfoto dari dalam mobil saja. tapi sudah cukup mengobati rasa penasaran untuk melihat icon Bukittinggi yang termasyur ituuuh...

Perjalanan pulang, kami sempatkan untuk mampir ke Sanjai Nitta. Jika biasanya saya hanya menerima kiriman keripik balado Christine Hakim, kali ini saya bisa melihat proses pembuatannya. Aduuuh seru banget, pengen langsung mencomot keripik itu banyak banyak dan masukin ke mulut (kriuk kriuk kriuk) keripiknya yang empung dan bumbu pedas manisnya yang pas membuat air liur harus buru buru ditelan sebelum menetes. *waaakkssss...

Perut keroncongan membuat kami mampir ke salah satu rumah makan padang langganan Alm Apa (ayah Uda), namanya aduuhhh apa yah? tanya Uda dulu deehh , saya yang sedang kurang nyaman makan pedas, memilih bubur ketan hitam hangat saja. plus minum teh hangat untuk mengembalikan tenaga. Sementara Uda dan adik2 menikmati makan lengkap rendang dan kawan kawannya.

Saat perjalanan pulang kami menyempatkan Sholat Magrib dan Isya berjamaah dulu...supaya perjalanan lancar...

Pengalaman liburan bersama keluarga sangaaat menyenangkan, sayang Ama dan Ibu (Ibu dari Ama) tidak bisa ikut karena masih ada beberapa keperluan pasca pernikahan Irma.
Tibalah waktunya kami harus kembali ke Jogja, namun sebelumnya, kami sempatkan menengok sahabat kami yang baru saja melahirkan. Uda Boby dan istrinya Suci sedang berbahagia dikaruniai bayi laki laki mungil yang lucu dan diberi nama Kimi. Kami sempatkan berfoto bersama si kecil Kimi juga :)


Saat sedang bertamu di rumah Uda Boby, tiba tiba ayah ditelpon dari rumah yang mengabarkan bahwa travel yang akan membawa kami ke Padang sudah siap menjemput gyaaaa....segera kami pamit dan ngebut *melaju kencang untuk pulang. Saat kami tiba di rumah, Asep sudah memasukkan barang barang kami dan Shoji segera dibangunkan. Pamit pada keluarga di Padang dengan cukup buru buru, jadi nggak sempet ada adegan meweknya hihihi

Di Padang kami menginap di rumah Etek Eti. Adik Ama. Mengingat flight kami pagi sekali dan Solok terlalu jauh, jadi kami menginap di Padang. Loly (anak tek Eti) suka sekali dengan Shoji yang genduuut dan lucu hihihi...jadi selama disana Shoji diajak main deh sama aunty Loly. Bahkan aunty Loly yang katanya agak sulit bangun pagi, merelakan diri bangun subuh subuh untuk mengantar kami ke bandara. 


Perjalanan pulang yang cukup menyenangkan. Selama pulang Shoji asyik menonton film kartun, jadi banyak tenangnya. Pelayanan selama penerbangan juga memusakan sekali lhoo... Sampai sekarang bebek bebekan yang bunyi toet toet, gift dari Garuda masih disimpan sama Shoji hihihi... 




Kangen pulang kampung lagi....Semoga tahun depan diberi kesempatan untuk bisa mudik ke Solok lagi :)

Mudik Nyoookkkk... :)

Jogja-Padang-Solok PP


Hai Bundas....
Nggak kerasa udah hari ke 16 puasa ya...Gmana hari ini puasanya? Alhamdulillah saya sampe hari in gak ada yang bolong *bangga tingkat dewa. Pasti udah mulai siap siap untuk mudik ya? Saya tahun ini mudiknya deket, cuma sekitar 5 kilo aja dari rumah. Kalau tahun lalu kita mudiknya sampe harus naik pesawat hihihi

Sekedar Share aja mudik tahun lalu yaa...Seneng banget karena mudik tahun lalu kami mengunjungi nenek Shoji di Solok, Sumatra Barat. Lumayan looh persiapannya, karena Shoji baru 6 bulan dan  baru mulai MPASI.

mengingat disana banyak sekali acara meliputi: 
- Lebaran
-Akad Nikah Irma (adiknya ayahnya Shoji)
-Baralek kampuang
-Aqiqah Shoji
-Mananti Bako
-Maanta Bubue
-Baralek Gadang

jadi kami bener bener musti prepare banyak hal. Ini list barang yang kami bawa saat mudik ke Padang tahun lalu (ternyata masih ada *saya orang yang cukup well-prepared ternyata hehhehe

Berikut barang bawaan kami
Shoji:
-kain gendong praktis + babywrap
- baju baju tidur +celana + clodi
- baju koko dan baju pantas pakai untuk launching (hihihi...maklum cucu pertama yang baru pertama kali pulang kampung)
- kaos kaki, sepatu, jacket (mengingat di Solok hawanya dingiiin)
- botol tommee tippee & mankok ASI kecil
- perkap MPASI
- mainan playgym, bebek, mr. bunny
- perlak kecil
- totseat
-bath set

Bunda: 
- Baju untuk di rumah plus undies
- baju pergi, baju acara
- sandal (flat dan high heels)
- alat make up
- handuk + perkap mandi
- mukena dan sajadah
- kaos kaki, syal
- CD Shoji

Ayah:
- Baju koko 2
- Baju batik
- Celana (kain dan jeans)
- kemeja, kaos, celana pendek
- Perlengkapan shaving
- hard disc external

Umum: 
- Kamera + charger
- Charger HP ayah, bunda, smartphone
Jadi...perjalanan kami dimulai dari Klaten, menuju Jogja menggunakan kereta Api Prameks dan ayah Shoji menggunakan motor sambil membawa bejibun barang bawaan hihiihi... menyeramkan *sayang sekali nggak ada fotonya untuk yang ini.
Sekitar 2 hari kami stay di rumah Uti dan kakung Shoji lalu dilanjut menuju bandara Adisutjipto.

di Bandara
Perjalanan Jogja-Padang pake pesawat tuh kira kira abis 2,5 jam, karena pake transit dulu di Jakarta. Jadi rutenya Jogja-Jakarta, Jakarta-Padang. Huwaaahhh...tantangan tersendiri tuh membuat Shoji tenang selama take off dan landing, karena suara kan bising banget, jadi musti pinter pinter ngerayu dia, mengeluarkan segala cara untuk membuat Shoji tetep nyaman. Salah satunya adalah teether. Karena Shoji terlalu sopan dan tidak suka nenen di depan umum, yg saya bawa masuk ke pesawat adalah Botol isi ASIP, puree pepaya, air putih dalam sippy cup, mainan pencet Shoji dan teether. Awalnya saya mau bawa earmuff, tapi saya pikir lebih efektif Shoji membuka mulutnya untuk mengunyah teether atau menangis sekalian saat take off dan landing.

Dilanjut perjalanan dari Padang ke Solok dengan menggunakan mobil. Whuaaa...pas puasa lagi yaa... jalanan cukup macet saat itu, jadi kami baru tiba di Solok pas saat Maghrib, padahal berangkat dr Jogja sekitar jam 9.00 hedeehhh pantat ampe panas deeehhh. Tap semua terbayar saat melihat wajah wajah yang menanti kami di rumah...

Alhamdulillah puasa saya lancar sampai buka selama perjalanan. menikmati bulan ramadhan di Ranah Minang memang istimewa :) senang sekali rasanya berkumpul dengan keluarga di Solok karena bertemu dengan mereka juga jaraaang :(. Tapi akhirnya merayakan lebaran di Padang jadi sesuatu yang sangat istimewa buat saya, Ayah Shoji dan Shoji tentunya. Ini juga kali pertama Shoji bertemu dengan keluarga di Solok.

Gak beda dengan di Jogja, di Solok juga kita Sholat Idul Fitri di Lapangan besar, rameee...sekali hihihi, Selama Sholat, Shoji sama aunty Irma, kebetulan sedang tidak sholat dan Shoji tertidur dengan pulasnya di gendongan aunty Irma.

Sambil menunggu ayah, Bunda sempetin berfoto dengan Shoji yang pake baju koko hihihi...ganteng bangeeet deh anak bunda pake putih putihh...
Oh ya, di Solok gak ada tradisi sungkeman seperti yang biasa saya lakukan di Jogja. Tapi bersilaturahmi dengan datang ke rumah tetangga dan saudara yang lebih tua itu pasti. Hebatnya lagi, tradisi silaturahmi di Solok ini setiap ada tamu yang berkunjung, yang empunya rumah berkewajban menemani makan. Iya lho bumdas...saya sampai kekenyangan, begitu kata Uda cara orang minang menghormati tamu. Begitu juga saat bertamu. Kita harus menghormati tuan rumah dengan "makan". Hidangan yang disediakan...hummm...jangan tanya. Semua favorit saya. Meski saya orang Jogja asli, tapi kayanya lidah saya lidah orang minang hihihi pertanda jodoh mungkin.



Hal baru lagi buat saya adalah melihat proses membuat lemang. Iyaaaa... nasi lemang yang biasa saya ihat di serial upin ipin hihihi...ternyata prosesnya cukup panjang lhoo.. mulai dengan menyiapkan areal lahan untuk panggang lemang, membersihkan tabung bambu, menyiapkan daun pisang untuk bungkusnya, beras ketan juga....asiikkk sekali :)

Pagi pagi lemang dipanggang
Naahh... setelah memanggang lemang, para tetangga yang ikut membantu memanggang lemang melanjutkan memasak banyaaak sekali makanan. Tape, telur bersambal, dan hidangan yang akan digunakan untuk acara akad nikah aunty Irma nantinya. Mereka bekerjasama memasak hingga malam hari hihihi, kata Uda namanya malam bainai, meski gak ada inainya hehehe...

Kalau di Jogja mungkin seperti malem midodareni kali yaa... Jadi saat malam bainai ini semua tetangga berkumpul dan memasuki kamar pengantin lalu memberi komentar (ini kata Uda lhooo) Hidangan untuk para tetangga dijajar seperti makan perhelatan besar dengan cara lesehan.

Sebelum paginya dipakai untuk acara "Mananti Bako" atau acara setelah akad menunggu datangnya keluarga dari pihak Ayah pengantin perempuan, kami sempat membajak pelaminan. hihihi... maklum saja, saya sudah dari jaman masih sekolah dasar memimpikan bisa duduk di pelaminan minang, pertanda jodoh lagi...

Akhirnyaaaahh..inilah saat paling sakral yang ditunggu tunggu dua keluarga besar. Akad nikah selalu menjadi momen paling mengharukan buat saya. Tidak hanya saat pernikahan saya sendiri, tapi juga saat pernikahan sahabat sahabat dekat yang saya hadiri, hampir bisa dipastikan banjir air mata hihihi.. saya orangnya memang gampang mewek tersentuh oleh hal hal melankolis romantis yang bikin nangis nangis *tepokjidat.
Karena ayah mertua saya sudah meninggal, maka Uda didaulat untuk menjadi wali nikah aunty Irma, adiknya, dan tiba tiba pikiran saya melayang ke masa dimana Uda menjadi wali nikah anak perempuan saya kelak *aiishhh...khayalan tingkat tinggi wkwkkwkw

Setelah selesai akad, tiba saatnya upacara mananti bako seperti yang saya sebut tadi. Jadi Marapulai jo anak daro (penganten minang) dipajang di pelaminan sambil diberi petuah petuah, sementara itu, keluarga dari pihak ayah mempelai wanita datang membawa kado. Merak biasanya dijamu dengan hidangan nasi lemang, tapai manih, dan minum sirup. Hebatnya, mereka membawa bokor yang ditaruh diatas kepala looh, mereka juga mengenakan tikuluek (kerudung khas minang) yang berminat membeli tikuluek bisa menghubungi saya yaaa hehehe...*iklaaaannn :)

Naahhh...ini adalah foto adik saya Irma (pakai baju merah), dan saya yang lagi didandani (pakai baju hijau). Karena kemarin belum ada ngunduh mantu di Jogja, nikahan kami adat Jawa by the way... So, sekalian ngunduh mantu bareng dengan baralek kampuang adik saya *nebeng ya Irmaaa....irma kan baiiikkk, ciihh merayuuu merayuuu tapi semoga orang orang gak curiga yah, pengantennya udah bawa anak hihihii....langsung ambil dokumen, tunjukin surat nikah.


Foto saya, Uda dan Shoji dalam pakaian adat minang hehehe...gimana? saya pantes nggak jadi penganten minang?


Upacara berikutnya adalah maanta bubue 8ganti kostum lageee hihihi, pas upacara ini, keluarga mempelai perempuan membawa kue cake, lemang, dodol padang (ada sih namanya tapi saya lupa *plakkk) dan banyaaak sekali hidangan lain, dibawa dalam iring iringan diletakkan diatas kepala. sesampai di rumah marapulai, biasanya ada berbalas pantun sebelum rombongan masuk ke dalam rumah untuk dijamu.


Baralek Gadang adalah upacara perhelatan atau resepsi perikahan besar yang diselenggarakan oleh mempelai untuk relasi yang lebih luas. Kami datang sebagai tamu saja, meski keluarga penganten, tapi tidak ada "seragam" khusus seperti seraga panitia kalau pernikahan adat Jawa. Saat baralek Gadang ini juga disuguhkan tari tarian adat menyambut tamu dan hidangan secara modern. Meskipun kesannya standing party, namun tempat duduk yg disediakan banyaaak sekali, jadi semua tamu undangan bisa makan sambil duduk dan menggunakan meja. 

Oke...untuk liputan resepsi pernikahan Irma sampai segini dulu dehhh...postingan berikutnya tentang liburan kami ke Bukittinggi...Ditunggu yaaa... seru banget hihihi...

Love
/Aya