Showing posts with label psikolog. Show all posts

Screening gangguan pendengaran dengan OAE

 test OAE

Hai Bundas,

Bagaimana rasanya saat mendengar dokter mengatakan bahwa anak kita memiliki gangguan pendengaran? 
Kaget?
Sedih?
Tidak percaya?


Hmm...campur aduk mungkin ya rasanya. Kurang lebih seperti yang saya rasakan saat dokter mencurigai Aisha punya gangguan pendengaran.

Awalnya adalah saat screening rutin usia 6 bulan. Kami cek tumbuh kembang Aisha terlambat dibanding teman teman seusianya. Benar sih, perkembangan anak berbeda beda. 

Namun, rasa rasanya kok terlalu jauh kompetensi yang saat ini dimiliki Aisha dengan standar kompetensi anak seusianya.


Pada usia anak 6 bulan, seharusnya Aisha sudah mampu melakukan hal hal berikut:

Motorik kasar:
- berguling balik badan dua arah
- duduk dengan / tanpa bantuan tangan
- mampu mencoba berdiri dan bertumpu pada kaki
- memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain

Penglihatan:
- melihat berbagai warna
- jarak penglihatan makin jauh
- bisa melihat dan mengikuti objek bergerak

Bahasa:
- merespon saat dipanggil namanya
- merespon saat kita mengucap "tidak"
- membedakan emosi dari nada suara
- merespon suara dengan babling
- menggunakan suara untuk mengekspresikan rasa senang dan tidak senang
- babling berbagai huruf konsonan

Kognitif: 
- mampu mencari objek yang hilang
- bereksplorasi dengan tangan dan mulut
- mau meraih benda diluar jangkauannya

Sosial:
- menyukai permainan
- tertarik dengan bayangannya di cermin
- merespon ekspresi orang-orang di sekitarnya .


Nah, berawal dari screening tersebut, saya memutuskan untuk berdiskusi dengan psikolog. Dari Psikolog, kami disarankan untuk cek lebih lanjut ke dokter anak. 

Kami akhirnya kembali pada dokter Komar. Dokter yang menangani Aisha saat dirawat di kamar bayi (NICU). Ceritanya bisa dibaca disini myvioletya.blogspot.co.id/2015/11/menantimu-aisha-vbac-part-2.html?m=1

Dan disini myvioletya.blogspot.co.id/2015/11/merawat-bayi-bblr-dan-metode-perawatan.html?m=1

Dari dokter Komar kami disarankan untuk screening lebih lanjut pendengaran Aisha. Begitu pula untuk lingkar kepalanya. 

Lingkar kepala Aisha termasuk kecil untuk usianya. Seharusnya sudah sekitar 38 hingga 40 cm, tapi lingkar kepala Aisha cuma 37 cm. 
Kekhawatiran dokter adalah kepala dan volume otak tidak berkembang sebagaimana mestinya. Untuk memastikan, perlu test CT scan juga.

Nah untuk test pendengaran Aisha, akhirnya dilakukan test ulang OAE. Karena saat bayi (sebelum pulang dari rumah sakit) Aisha juga sudah screening pendebgaran dan hasilnya REFER di sebelah kiri. 

OAE itu apa sih?
OAE adalah test menggunakan sebuah alat yang bekerja dengan tehnik Oto-Acoustic-Emissions. Alat ini berupa kotak pemeriksaan. Ujung alat pemeriksaan ditempelkan ke liang telinga bayi. 


Proses pemeriksaan tidak lama, kurang lebih 2-5 menit. Saat itu kebetulan sekali Aisha sedang tidur, jadi bisa diperiksa saat dalam gendongan saya. Selama kepala bayi tenang dan tidak bergerak gerak, OAE bisa dilakukan.


Hasil akhir pemeriksaan OAE Aisha untuk telinga kanan REFER dan telinga kiri REFER, padahal sudah dilakukan dua kali ulangan. REFER itu artinya apa? Artinya dari hasil test Aisha memang memiliki gangguan pendengaran di bagian kanan dan kiri telinganya. 


Saat hasil test dibacakan oleh dokter, berdesir dada saya. Dokter menanyakan apakah Aisha tidak pernah terganggu dengan suara suara kakaknya?

Saya sedikit heran, karena terkadang Aisha memang susah tidur kalau masih ada suara Shoji atau Rey berteriak teriak. Dokter lalu menyarankan Aisha diperiksa lebih lanjut dengan tes ASSR. 


Apakah itu ASSR test? Kita lanjut ke postingan berikutnya yaaa?


Salam, 

/Aya

Anakku bukan anakku (Deassy M Destiani)



Hai bundas
Gak ada kata terlambat yaaa... meskipun saya berharapnya punya buku ini sejak hamil anak pertama, tapi ternyata setelah lahiran anak ke 3 pun buku ini bermanfaat banget.

Saya ucapkan terimakasih pada mba Deassy, kado yang indah untuk ibu ibu hamil dan setelah melahirkan, juga kado untuk para bidan dan nakes yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.

Sedikit review tentang buku ini, terdiri dari 6 bab dengan pembahasan yang sangat mengena. Membaca buku ini, membuat saya pribadi flashback ke masa masa kehamilan Shoji dan Rey dulu. Hamil ketoga todak berarti semua berjalan mulus mulus saja bukan?


Untuk saya, kelahiran Aisha yang BBLR dan dengan infeksi bakteri yang membuat dia harus berada di rumahsakit selama 14 hari bukan perkara mudah bagi psikologi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Belum juga kondisi fisik pulih seperti semula, beban psikologis pun menjadi teramat berat.

Di buku ini diceritakan mengenai kisah ibu ibu dalam menghadapi anak anak dan hal hal yang dapat mempengaruhi psikisnya. Di bab 1 lebih banyak berbicara mengenai peran suami dan pengaruhnya terhadap potensi depresi seorang ibu. Ternyata perhatian suami sekecil apapun sangat besar dampaknya terhadap kondisi ibu hamil atau ibu melahirkan.
Yang bisa saya petik adalah bahwa ayah adalah pemberi support terbesar sekaligus pemicu depresi terbesar bagi ibu ibu hamil dan menyusui, sehingga peran ayah harus sebaik mungkin dalam menghadapi ibu hamil atau ibu melahirkan.



Bab kedua, ketiga dan keempat lebih pada bagaimana seorang ibu harus bisa mengelola emosinya. Sementara bab kelima da keenam adalah solusi solusi untuk menghadapinya.

Overall buku ini padat berisi, dilengkapi dengan studi kasus dan pendekatan solusi masing masing kasus. Bisa membuat saya introspeksi diri juga jadi pembelajaran bagaimana mengkomunikasikan kebutuhan kita sebagai ibu kepada orang orang di sekitar kita dengan baik.

Mengutip kata teh Indari Mastuti, anak yang bahagia dibesarkan oleh ibu yang bahagia. Jadi semua ibu harus bisa menjadi ibu bahagia untuk keluarganya. Buku ini cocok banget untuk kado pernikahan juga lhooo.. supaya calon ibu sudah siap menghadapi proses kehamilan dan persalinan dengan lebih bahagia

Salam
/Aya

...dan keajaiban itu bernama SPEECH DELAY


Hai Bundas,

Sebenarnya saya sudah ingiiin sekali menulis tentang ini sejak lama. Sejak saya yang mulai menyadari bahwa checklist kompetensi 2-3 tahun bagian linguistik banyak yang tidak saya temukan di Shoji. Sebelum Shoji punya adik, ia sudah mastering words sekitar 10 an kata dan mampu disebutkan dengan jelas, seperti "ayah", tak" (buka), tup (tutup) us (haus), num(minum), mam (makan), namun setelah kelahiran Rey, Shoji lebih banyak diam qdan menarik narik tangan ayah bundanya jika ingin sesuatu. Awalnya kami ikuti karena menurut kami itu cara shoji mengingkapkan keinginananya.


Tapi lama lama kok Shoji jadi merasa "nyaman" menarik tangan dan tidak mau berusaa untuk mengucapkan kata kata, bahkan untuk kata sederhana yang sudah pernah dikuasainya. Beberapa kali juga kalau kami panggil tidak menengok secara langsung.


akhirnya kami membawa Shoji ke psikolog dan konsultasi apakah ada hal hal yang perlu kami berikan sebagai stimulus. Setelah mendapat banyak usulan mengenai memasukkan Shoji ke PAUD akhirnya Shoji officially kami daftarkan ke PAUD dekat rumah eyang kakung dan utinya. Niat kami sih hanya supaya Shoji bersosialisasi saja.


Beberapa waktu berlalu ternyata kok tidak menunjukkan progress ya, kami kembali konsultasi lagi, dan psikolognya mulai menyarankan untuk tesBERA, mengecek organ auditorinya.


Tes BERA adalah tes dengan menidurkan anak lalu melihat respon syaraf pendengarannya terhadap suara. Hasil tes BERA Shoji bagus, dari frekuensi tertimggi sampe terendah batasan pendengaran normal baik baik saja, jadi secarakeseluruhan pemeriksaan dokter THT mengatakan organ pendengaran Shoji tidak ada masalah.





Apa sih BERA itu?


Informasi berikut saya ambil dari brosur klinik Pramita 


BERA (Brainsteem Evoked Response Auditory

Merupakan alat elektrodiagnostic yang digunakan untuk mengevaluasi organ atau syaraf pendengaran mulai dari perifer di telinga tengah sampai dengan batang otak. 

Apa istilah yang sering digunakan? 

BAEP (Brainsteem Auditory Evoked Potential), BAE (Brainstem Auditory Evoked Response Audiometry) BERA berbeda dengan audiometry. Alat ini bisa digunakan untuk memeriksa pasien yang kooperatif maupun non kooperatif seperti pada anak baru lahir, anak kecil, pasien koma maupun stroke, sehingga hasilnya lebih obyektif karena tidak memerlukan jawaban dari pasien. 

Indikasi klinis apa saja yang bisa diperiksa BERA 


1. Seorang yang mengalami gangguan pendengaranatau tiitus atau ketulian 
2. Seseorang dengan keluhan sering nggliyer, atau pusing berputar / vertigo 
3.Seseorang dengan kasus stroke yang melibatkan batang otak 
4. Seseorang dalam kondisi koma, untuk penentuan kerusakan batang otak 
5. Seseorang yang mengalami gangguan keseimbangan (meniere disease) 
6. Seorang anak dengan keterlambatan bicara (Shoji masuk yang ini) atau anak dengan autisme 
7. Seseorang dengan kecurigaan tumor batang otak 
8. Seseorang dengan kecurigaan Multiple Sclerosis Disease. 

Kapan kita perlu screening BERA untuk anak yang baru lahir?

1. Jika ada riwayat keluarga yang mengalami gangguan / penurunan pendengaran
2. Jika belum ada pre dan post natal (infeksi sebelum dan sesudah persalinan) terutama kasus TORCH
3. Jika anak kita lahir dengan berat badan rendah (shoji juga BBLR waktu lahir dulu)
4. Jika anak mengalami hiperbiliruinemia (Shoji juga kuning saat lahir)
5. Jika ada cacat bawaan misalnya mikrochepalus atau cranio facial deformities lain
6. Jika terjadi cidera kepala pada saat persalinan atau sesudahnya
7. Jika terjadi radang telinga menetap (Presistent Otitis Media)
8. Jima menggunakan obat obatan dengan kategori ototoxic drug (Obat yang mempunyai efek erhadap telinga)
9. Anak anak pasca menderita meningitis atau encefalitis

Untuk apa sih tes BERA itu?

1. Penentuan lesi nervus acusticus dari perifer di telinga tengah sampai dengan batang otak.
2. Untuk menentukan sumber gangguan pendengaran apakah di cochlea atau retro cochlearis
3. Untuk mengevaluasi Barinstem (batang otak)
4. Untuk menentukan apakah gangguan pendengaran disebabkan karena psikologis atau fisik

Persiapan sebelum tes BERA


Secara umum kondisi kepala dan rambut kita besih. berbeda dengan orang dewasa, untuk anak anak selain rambut dibersihkan, perlu pre medikasi dulu, agar anak tenang dan tidur, karena pemeriksaan BERA membutuhkan ketenangan saat pemeriksaan. 

Lepas dari tes BERA, kami konsultasi lagi, kali ini mengenai bagaimana perilaku Shoji di rumah baik terhadap ayah bunda, dan adiknya. Melewati berbagai macam screening dan hasil sementara, Shoji tingkat konsentrasinya bagus, secara kognitif juga baik, untuk motorik kasardan motorik halus juga tidak ada masalah, kalau ke arah autis atau keterbelakangan mental juga tidak, karena Shoji masih bisa berinteraksi dengan orang disekitarnya.


Saat ini kami sedang menjalankan test test dan berbagai konsultasi untuk Shoji, mohon doanya semoga semua berjalan lancar ya


Salam Hangat,

/Aya

Anakku diduga tunarungu?



Kemarin saya sempat bebersih lemari dan menemukan buku lama. Buku ini pemberian seorang wali murid yang putrinya tuna rungu. Saya ingat, Ariel nama gadis mungil itu. Anaknya manis, cerdas dan sangat mandiri. Dia juga ceria dan penuh semangat.

Namun ada yang istimewa dari gadis kecil ini, dia jarang sekali menyahut jika kami (saat itu saya bekerja di salah satu daycare edukatif di Jogja) panggil. Ekspresi binarbinarnya selalu terlihat setiap kami bicara padanya, tapi memang,hingga usia 3 tahun ia tidak mengucap sepatah kata.

Belakangan baru kami tau bahwa Ariel memangmemiliki masalah pendengaran. Hal ini yang membuat progress belajar bicaranya terhambat.

Hmmm...angan saya jadi melayang juga pada sosok Lingga. Jagoan kecil ganteng berusia 2 tahun. Saat Lingga masuk sekolah, ia sudah menggunakan alat bantu dengar. Untuk mendengar, Lingga jauh lebih tanggap daripada Ariel yang memang tidak diberi alat bantu dengar oleh bundanya.

Satu hal yang saya ingat dari ucapan bunda Ariel saat saya mau resign waktu itu.
"Miss... jangan salah paham ya saya kasih CD ini. Saya muslim dan saya percaya Allah, percaya Tuhan. Implementasi dari "magnet semesta" ini adalah Allah. Tempat kita bisa meminta segalanya dan berprasangka baik kepadaNya."

Sewaktu akhirnya saya tonton video itu, saya belum sepenuhnya memahami apa maksud yang Bunda Ariel berisaha sampaikan saat itu. Tapi kini saya sepenuhnya mengerti...ya, saat saya dikaruniai seorang anak laki laki berusia 20 bulan yang belum juga bisa bicara.

Sebenarnya sejak 12 bulan Shoji kami sedikit curiga, mendapati ia tidak babling seperti kebanyakan anak seusianya. Shoji lebih banyak diam, meskipun untuk beberapa kata iacukup mampu menyebut dengan benar. "Ayah" adalah kata kata terjelas yang pernah diucapkan Shoji. Untuk menyebut cicak, tup tup, tak tak (buka), juga sudah bisa di usianya yang 18 bulan.

namun ketika menginjak 22 bulan, setelah kelahiran Rey, kata kata itu tak lagi terucap. Mengucap "Ayah" saja tidak lagi. Shoji diam seribu bahasa. Karena merasa khawatir, kami membawanya ke klinik tumbuh kembang. Berdasarkan skrining awal, ada beberapa hal yang memang membuat kami cukup shock. Shoji tidak merespon panggilan, bunyi musik yang diperdengarkan dibelakangnya, bahkan bunyi balon meletus.

observasi sementara merujuk pada adanya gangguan pendengaran pada shoji dan Shoji perlu periksa ke dokter THT. Rasa takut, cemas, khawatir selalu campur aduk setiap kaliada konsultasi dengan psikolog Shoji. Saat itulah saya mulai memahami perasaan Bunda Ariel maupun Bunda Lingga yang sangat lapang dada menerima keistimewaan putra putrinya, namun tetap punya keyakinan bahwa Allah memiliki skenario terindah. Selama kita percaya bahwa anak kita akan baik baik saja, tak ada yang tak mungkin bagi Nya

.... bersambung ke postingan berikutnya...