Showing posts with label tahun kedua. Show all posts

Pentingnya Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Hai Bunda,
Di postingan kali ini saya mau sedikit cerita soal masa kecil saya. Eh bukannya sekarang juga masih kecil yaaa. Kecil dalam arti sebenarnya. Soal kecil ini dari dulu sering juga lah dibully. Karena saya pendek, ada aja yang bisa jadi bahan untuk melakukan kekerasan secara verbal (duh bahasanya jadi serius).

Intinya hal ini sering banget bikin saya enggak percaya diri. Pokoknya berusaha mencari cara gimana bisa lebih tinggi lagi. Mulai dari ikutan senam-senam narik tubuh, berenang, sampe minum obat-obatan yang berakhir dengan seluruh tubuh saya gatal karena alergi.

Pernah tuh saya sampe beli wedges tinggi banget agar bisa keliatan nambah tinggi badan saya, tapi biasanya habis itu langsung kaki pegel-pegel gak karuan. Nah, karena postur saya yang mungil ini Kata suami sih tetep proporsional tapi dalam skala kecil 😄😄😄. Sering kalau di foto sendirian kelihatannya saya normal-normal aja tingginya. Eh tapi kalau foto sama teman teman baru ketauan kalau memang paling mungil ukurannya.

Menyapih dengan Cinta (Weaning With Love)

Weaning with love
Hai Bundas,

Cukup lama sejak terakhir saya menulis yaaa...
kali ini saya akan cerita tentang pengalaman saya menyapih Rey. IYA Rey sudah 2 tahun nih sekarang, terhitung sejak 8 Desember 2012 hingga 15 Januari 2015 kemarin baru resmi disapih alias tidak nenen lagi.

Karena sebelumnya Shoji menyapih sendiri saat saya hamil Rey 5 bulan (Shoji 18 bulan). Kata orang tua karena air susunya sudah nggak enak, makanya Shoji nggak mau nenen hehe. Nah jaman Shoji saya nggak ngerasain nih yang namanya menyapih, karena Shoji menyapih sendiri.

Mengingat Rey yang sangat nenenholic, saya sempet khawatir kalau Rey akan sangat sulit lepas micubun (mik cucu bunda). Saya udah mulai sounding bahwa kami akan WWL (Weaning With Love) ketika Rey sudah 2 tahun.

Tiap mau bobo, Rey selalu saya affirmasi
"Rey, nanti kalau sudah 2 tahun, kalau mau bobo, mik susunya pake gelas yaaaa. Kalau bangun malam, mik air putih"

Saya sudah mulai mengenalkan cup dengan sedotan saat Rey 2 tahun kurang. Jadi dia cukup familiar. Intinya Rey selalu diajak untuk ngobrol mengenai "berhenti nenen" ini setiap malam.

Lanjut setelah 2 tahun pas, karena Rey masih belum  bisa lepas nenen, akhirnya saya kurangi waktunya. Kalau biasanya masih tiap hari, tiap saat, bangun tidur, abis mandi, mau bobo siang, abis mandi sore dan mau bobo malam plus sambil ngelilir ngelilir, saya mulai kurangi menjadi "hanya saat mau bobo malam"

Awalnya sempat manja-manja dan selalu minta, tapi selalu saya tolak halus dengan mengatakan bahwa Rey boleh nenen kalau mau bobo malam di rumah, Alhamdulillah dia mau mengerti.

Sejak nggak nenen siang, Rey mengambil kesempatan malam hari untuk memuaskan nenennya, jadi tidak pernah dilepas dari mulai bobo sampai bangun lagi.

Duuhh...saya jadi kurang tidur dan badan nggak seger, emosi pun gampang terpancing. Akhirnya setelah diskusi sama ayah Shoji mengenai hal ini, kami memutuskan untuk melepas nenen Rey, toh dia sudah 2 tahun lebih.

Day 1
Rey minta nenen sebelum bobo, masih saya kasih, sampai dia tertidur lelap. Nah saat ngelilir minta nenen ini saya nggak kasih. Dia mulai menangis, tidak mau berhenti, berusaha minta dan teriak teriak sambil menendang nendang saya. Ayahnya mencoba menenangkan juga nggak bisa. Sediiih rasanya, tapi kami tau kalau kami loloskan permintaannya, kami harus mengulangi lagi saat saat seperti ini besok.
akhirnya, karena kecapekan menangis, Rey minta gelas air putih yang kami sediakan di kamar. Dia minum beberapa teguk, lalu menagis di pelukan saya sampai tertidur.

Saat ngelilir selanjutnya juga begitu. Untungnya besoknya libur, jadi saya dan suami bisa bangun agak siang hehehe....

Day 2.
Rey minta nenen sebelum bobo, sampai tertidur lelap. Pas dia bangun dan minta nenen, saya tawari air putih di botol, ditolak. Tapi dia hanya menangis sebentar lalu lanjut tidur lagi. Begitu juga saat bangun malam, hanya menangis sebentar, lalu tidur lagi.

Day 3
Rey mau bobo, tapi kali ini minta digendong ayah. Sukses Rey nggak bobo diantar nenen. Begitu juga saat bangun malam, hanya menangis lalu diusap usap lanjut tidur lagi.

Day 4
Nampaknya Rey sudah mulai kehilangan "ketagihan" nenennya. Rey sudah mau diajak ke tempat tidur dan diselimuti plus berdoa. Ditepuk tepuk sambil sesekali dicium cium dan dipeluk serta disenandungkan Sholawat :)

Dan Resmi hari ke 5 Rey sudah total lepas dari nenen di usia 2 tahun lebih 1 bulan. Tanpa paksaan, tanpa oles oles, dan sebuah kelegaan bagi kami berdua, mengingat saya akan ke Bandung di 13 Februari nanti untuk acara Seminar Director 2015 di Bandung. Alhamdulillah ternyata diberi kemudahhan dalam penyapihan Rey. Udah  berkurang kekhawatiran saya.

Semangat menyapih dengan cinta yaaa bundaaa

Love
/Aya

Mengajak 2 Balita Travelling Naik Pesawat

Travelling dengan balita

Haiii 

Alhamdulillah bisa juga ngisi blog lagi niih Kali inipengen cerita pengalaman mudik keluarga kami ke Solok, Sumatra Barat yang ke dua. Iya, sebelumnya kami pernah mengunjungi Solok 3 tahun lalu, tepatnya saat Lebaran tahun 2012 ketika Shoji berusia 6 bulan. 

Karena ketebalan dompet kami fluktuatif dari bulan ke bulan, akannya baru bisa ngumpulin duit untuk pulang kampung setelah 3 tahun (keplakan untuk segera keluar dari zona nyaman dan nambah penghasilan xixixi). Sebenernya rencana pulang kampung harusnya saat Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri Juni kemarin, tapiiii oh tapi ternyata belum diijinkan karena ternyata tiket pesawat TigerAir yang kami book tercancel karena Maskapai Tiger Air sendiri tidak mampu lagi beroperasi. 

Aktivitas balita di pesawat


Well, Alhamdulillah seluruh biaya yang kami keluarkan untuk pembelian tiket senilai hampir 7 juta (5 tiket berangkat dan 1 tiket pulang direfund full. Kami juga sudah bikin nadzar, kalau uang tiketnya kembali, kami akan ikut kurban tahun ini. Alhamdulillah itu juga terlaksana. Selanjutnya kami memilih maskapai Sriwijaya Air karena penerbangan Jogja-Padang gak ada rutenya, jadi tetep harus Jogja-Jakarta, Jakarta-Padang. 

Sampe saat ini Shoji berarti udah ngerasain take off dan landing sebanyak 8 kali xixixi, udah mulai terbiasa kayanya... Ini adalah Rey's first flight.

Di usia kurang dari 2 tahun, kami sudah harap harap cemas kalau Rey akan rewel sepanjang perjalanan. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 9.30, karena pesawat sriwijaya Air yang akan membawakami terbang take off pukul 10.50 Pas di pesawat, Alhamdulillah Shoji tidak ada masalah saat take off maupun landing. Selama di pesawat Shoji memilih baca tabloid yang disediakan, sambil ngemil snack yang kami bawa dari rumah. Rey masih agak tegang saat landing dan take off, selalu minta peluk, tapi selama perjalanan juga cukup kooperatif.
Balitas di pesawat


Sampai di Bandara Soekarno Hatta, menunggu pesawat ke Padang waktunya cukup lama. Shoji dan Rey kami ajak main main di playground. Lumayanlah daripada ngejar ngejar mereka di lounge mainan AC. KIra kira pukul 18.00 panggilan supaya segera boarding, Alhamdulillah tiba di Padang sekitar pukul 20.00 dan kami lanjut makan dI RM Lamun Ombak sebelum melanjutkan perjalanan ke Solok dengan mobil.

Intinya sih klo ngajak anak terbang siapkan bekal makan dan mainan atau buku. Biasanya nggak repot repot amat sih, kecuali saat mereka tidur pas transit dan kita kudu bopong bopong heheheh 

selamat travelling
/Aya

Mie Sayur Schotel a la BunSho

Mie sayur schotel


Hai Bundas,

Liburan kemarin saya ubek ubek stock. Ternyata masih ada mie sayur cabe hijau dagangan yang udah lumayan lama ngendon. Trus liat liat kulkas ada lumayan banyak bahan. Akhirnya saya eksekusi juga mie sayur schotel a la BunSho

Bahan
1 bungkus mie sayur (saya pake varian cabe hijau), rebus 3-5 menit
150 ml susu UHT
garam
3 siung bawang putih
50 gr keju parut
1/2 sdt merica
2 bawang merah iris tipis
2 btr telur ayam kampung (ambil di kandang ayam)


Cara buat:
1. Rebus mie hingga setengah matang
2. Siapkan bumbu (haluskan bawang putih, garam, merica)
3. Kocok telur, tambahkan susu UHT
4. Masukkan kocokan telur ke mie
5. Panaskan happycall, api kecil
6. Masukkan adonan mie dan telur
7. Taburkan keju dan irisan bawang merah diats adonan
8. Masak 20 menit hingga matang
9. Nikmati, bisa dengan tambahan keju oles atausambal botol

mudah dan praktis yaaa...
anak anak suka

Makan


dibawah ini bahan bahan dari resep asli yang saya ambil dari web

Salam Sehat
/Aya
Makaroni (Macaroni)secukupnya
Minyak Gorengsecukupnya
Garamsecukupnya
Telur Ayam2 butir
Sosis Sapi2 buah
Bawang Bombay0 buah
Susu UHT150 ml
Keju Cheddar100 gram
Lada (Merica)1/2 sendok teh
Oregano1 sendok teh
Basil1 sendok teh

Anakku diduga tunarungu?



Kemarin saya sempat bebersih lemari dan menemukan buku lama. Buku ini pemberian seorang wali murid yang putrinya tuna rungu. Saya ingat, Ariel nama gadis mungil itu. Anaknya manis, cerdas dan sangat mandiri. Dia juga ceria dan penuh semangat.

Namun ada yang istimewa dari gadis kecil ini, dia jarang sekali menyahut jika kami (saat itu saya bekerja di salah satu daycare edukatif di Jogja) panggil. Ekspresi binarbinarnya selalu terlihat setiap kami bicara padanya, tapi memang,hingga usia 3 tahun ia tidak mengucap sepatah kata.

Belakangan baru kami tau bahwa Ariel memangmemiliki masalah pendengaran. Hal ini yang membuat progress belajar bicaranya terhambat.

Hmmm...angan saya jadi melayang juga pada sosok Lingga. Jagoan kecil ganteng berusia 2 tahun. Saat Lingga masuk sekolah, ia sudah menggunakan alat bantu dengar. Untuk mendengar, Lingga jauh lebih tanggap daripada Ariel yang memang tidak diberi alat bantu dengar oleh bundanya.

Satu hal yang saya ingat dari ucapan bunda Ariel saat saya mau resign waktu itu.
"Miss... jangan salah paham ya saya kasih CD ini. Saya muslim dan saya percaya Allah, percaya Tuhan. Implementasi dari "magnet semesta" ini adalah Allah. Tempat kita bisa meminta segalanya dan berprasangka baik kepadaNya."

Sewaktu akhirnya saya tonton video itu, saya belum sepenuhnya memahami apa maksud yang Bunda Ariel berisaha sampaikan saat itu. Tapi kini saya sepenuhnya mengerti...ya, saat saya dikaruniai seorang anak laki laki berusia 20 bulan yang belum juga bisa bicara.

Sebenarnya sejak 12 bulan Shoji kami sedikit curiga, mendapati ia tidak babling seperti kebanyakan anak seusianya. Shoji lebih banyak diam, meskipun untuk beberapa kata iacukup mampu menyebut dengan benar. "Ayah" adalah kata kata terjelas yang pernah diucapkan Shoji. Untuk menyebut cicak, tup tup, tak tak (buka), juga sudah bisa di usianya yang 18 bulan.

namun ketika menginjak 22 bulan, setelah kelahiran Rey, kata kata itu tak lagi terucap. Mengucap "Ayah" saja tidak lagi. Shoji diam seribu bahasa. Karena merasa khawatir, kami membawanya ke klinik tumbuh kembang. Berdasarkan skrining awal, ada beberapa hal yang memang membuat kami cukup shock. Shoji tidak merespon panggilan, bunyi musik yang diperdengarkan dibelakangnya, bahkan bunyi balon meletus.

observasi sementara merujuk pada adanya gangguan pendengaran pada shoji dan Shoji perlu periksa ke dokter THT. Rasa takut, cemas, khawatir selalu campur aduk setiap kaliada konsultasi dengan psikolog Shoji. Saat itulah saya mulai memahami perasaan Bunda Ariel maupun Bunda Lingga yang sangat lapang dada menerima keistimewaan putra putrinya, namun tetap punya keyakinan bahwa Allah memiliki skenario terindah. Selama kita percaya bahwa anak kita akan baik baik saja, tak ada yang tak mungkin bagi Nya

.... bersambung ke postingan berikutnya...

My Two Precious Diamonds



Berstatus sebagai ibu rumah tangga dengan dua batita (baca bawah TIGA TAHUN) tanpa asisten dan tinggal terpisah dari orang tua bukanlah persoalan mudah. Mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri plus momong dua bayi yang masih sangat egosentris kadang begitu melelahkan. Melelahkan secara FISIK dan PSIKIS :D

Sebagai manusia normal yang punya waktu 24 jam sehari, saya harus superduper pandai mengoptimalkan waktu agar bisa lebih produktif. Tidur jam 12 malam atau lebih (karena Shoji termasuk anak yang hobby begadang, dan bangun jam 3 pagi.
Apa aja sih yang dikerjakan? Hmm...rata rata semua ibu rumah tangga juga ngelakuin ini kan ya...BBM (Beresberes Bebenah Mencuci) Energi dan waktu rasanya gak cukup kalau dibayangkan, tapi kalau dilakukan, nyatanya bisa bisa aja tuh, meski kadang mau tidak mau jadi addict sama kopi lantaran klo gak pake doping bisa ngantuk banget *maafkan bunda ya Rey ^-^





Bangun jam 3 udah langsung disuguhi setrikaan, lanjut beberes rumah, masak nasi dan air, masak sayur dan lauk juga.
Setelah itu bisa mandi dan siapin sarapan sembari mandiin Rey dan Shoji setelahnya. Kalau Shoji pas gak main di Paud, biasanya akan lanjut dengan momong doi main. 




Capek secara fisik dan emosional itu pasti. Dituntut punya usus yang luarbiasa panjang dan belajar sabar dan sabar. Mengajar 20 anak (pernah hingga 26 anak) usia 4 tahun dalam satu kelas taman kanak kanak terasa lebih ringan dari ini *beneran, saya sudah pernah menjalaninya! Tapi saya berusaha benar untuk menikmati setiap proses ini. Adalah hal yang sangat istimewa melewati tahapan kehidupan, dimana kita menjadi pusat dari alam semesta untuk anak anak kita. Hanya saya yang akan mereka panggil, dekati dan mintai tolong untuk melakukan apapun. Menjadi superwoman yang selalu dibutuhkan (at least oleh anak anak itu)



Ini cerita tentang saya, dan dua permata hati saya yang kian beranjak dewasa (ciyeeehhhh…belon juga 3 tahun disebut DEWASA, Hellooo… ????)




Shojiki Kenzie Salfarino

Ksatria yang jujur dan pemimpin yang bijaksana, jagoan pertama saya. Saat ini menginjak usia 25 bulan. Usia yang dibilang orang sedang lucu lucunya *meskipun kadang bagi saya, dia bisa menjadi sangaaat tidak lucu *sigh.

Di usianya yang sudah lebih dari 25 bulan ini, Shoji belum benar lancar bicara. Kata kata yang kami tangkap jelas hanya “ayah”, “mam”, “haus”, “nonton”, dan “laptop”. Selain itu kami harus dengan penuh sukacita membuka kamus bahasa kalbu ;P

Speech delay” bahasa keren yang digunakan untuk mendefinisikan keterlambatan bicara Shoji. Kami tau betul, hal ini kadang membuat dia frustasi *begitu juga kami orangtuanya. Jika maksud yang ingin ia utarakan tak jua kami bisa tangkap dengan benar. Shoji kini bahkan cenderung lebih suka menjauh saat kami mengajak Rey yang sedang aktif aktifnya mengoceh. Jika kami katakan “Uda Shoji, nih lho dek Rey ngajak ngobrol” ia mengambil langkah mundur dan mengajak saya atau ayahnya untuk melakukan aktivitas lain. 

Mbah Google sudah saya ubek ubek untuk mencari akar permasalahan ini, beberapa forum juga saya ikuti dan ubek ubek dokumen. Ayah Shoji merasa saya terlalu khawatir dan meminta saya untuk lebih sabar menunggu perkembangan Shoji tanpa berusaha membanding bandingkan dengan tumbuh kembang anak anak yang lain. Tapi sebagai seorang ibu yang ikut beberapa forum mengenai tumbuh kembang anak, yang rata rata temannya adalah ibu dengan anak seumuran Shoji yang anak anaknya sudah bisa diajak bercanda dan berkomunikasi aktif, mau tidak mau saya jadi sedikit khawatir. 

Dulu, sebelum Rey lahir, Shoji sedang giat giatnya mengoceh. Kosakata sudah cukup banyak dan mau mengucapkannya. Toilet training juga sudah OKE banget. Tidak pernah ngompol dan kalau mau pipis sudah mau ajak ke kamar mandi meski belum bilang “pipis” atau “pup”

Tapi sejak Rey lahir, Shoji lebih pendiam, toilet training pun harus mulai dari awal. Memang sih, kami menggunakan berbagai macam bahasa di dalam rumah. Ayahnya sering bertalipun dengan keluarga di Solok pakai Bahasa Minang, Saya terkadang keceplos bahasa Inggris (kebiasaan saat mengajar dulu), eyang uti dan kakungnya menggunakan bahasa Jawa. Tapi sudahlah, saya berusaha berpikir positif bahwa kelak jika Shoji benar lancar bicara, ia bahkan bisa dengan lancar mengunakan berbagai bahasa yang ia kenal.

Ia  istimewa, dan saya bangga padanya…



Averey Hanif Salfarino

Insan yang tangguh dan berpendirian teguh, jagoan kedua saya. Umurnya hampir menginjak 4 bulan. Lahir sama dengan kakaknya 2,5 kg, tapi saat ini beratnya sudah 7 kilo. Sudah bisa berguling guling, bahkan saya sempat menemukannya sudah berada di tepi kasur, hampir hampir terjatuh. Ocehannya mulai banyak dan sangat ekspresif dan komunikatif dengan kami. Sejak kehamilan Rey, sungguh saya merasakan banyak dimudahkan. Meski tak berlesung pipi seperti sang kakak atau berbulu mata panjang, Dia tetap terlhat ganteng dengan senyum menawan dan hidung yang didapat dari ayahnya “thanks God, akhirnya gen hidung ayah menurun di Rey”

Menginjak usianya yang hampir 4 bulan ini, Rey makin banyak maunya. Makin pinter *pinter meminta dan menolak. Sungguh kalau sudah ingin micubun, nangisnya keras sekali. Kadang sampai keluar airmata yang membuat saya sungguh tidak tega untuk "persiapan berlama lama".



Rey adalah anak yang sangat kooperatif. Sejak lahir nggak pernah ada masa saya begadang, bahkan sejak hamil ia sangat pengertian. Begitu juga ketika dihadapkan pada kondisi dimana kakaknya ingin diperhatikan, biasanya Rey lebih mengalah.


Dua jagoan saya, berbeda tapi sama. Beda karakter tapi keduanya istimewa. Wajah boleh irip, tapi yakin deh sifatnya nggak semirip wajahnya.

Saya cinta keduanya
Mereka permata di kotak perhiasan saya
Pelangi di langit saya
Tungku perapian di rumah saya
Para penjaga hati,
Penenang jiwa,
Pembasuh luka

Hidup saya lebih berwarna karena mereka, dan tak ada rasa syukur yang lebih tinggi lagi terhadap nikmat yang Alloh kasih ke saya dan Uda.
Terimakasih Alloh yang sudah menjadikan kami keluarga yang saling menguatkan kala susah, berbagi tawa kala bahagia.
Dan kami yang selalu mencari ridho-Mu serta nilai terbaik untuk mengantarkan kami ke kelas yang lebih tinggi lagi.

Ini dua permataku. InsyaAllah kan kujemput SATU lagi permata satu saat nanti :)

Love
/Aya
 



Shoji goes to post office

Liburan macam apa yang pernah bunda dan panda berikan untuk si kecil? Kalau saya sih mengajak Shoji untuk jalan jalan lumayan sering, tapi memang tidak diniatkan untuk "liburan" but eniwei itu tetap menjadi pengalaman istimewa buat seorang anak mengunjungi tempat baru. Kalau untuk liburan terjauh, Shoji pernah ke Padang dan Bukittinggi *baca disini. Sebenarnya tidak diniatkan, tapi sekalian pulang kampung dan menemani aunty Irma dan Uncle Ardian yang hunimun setelah menikah...

Naah, kalau di Jogja, sebenarnya banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu tujuan kami sebenarnya ke Taman Pintar

Waktu itu dengan penuh percaya diri, saya dan Uda mengajak Shoji ke Taman pintar dan masuk ke gedung untuk main. bukan ke gedung oval, karena harus jalan dan naik tangga pulak, sementara di luar sedang panas panas nya. Melepas sepatu lalu bertanya pada resepsionis, "Mba kalau mau masuk bisa ditemeni gak?"
 
Kata si mba "Masuk sendiri, bu. Beli tiket dulu di depan"
Belum saya sempat berbalik, mba nya nanya lagi "Emang anaknya udah berapa tahun?"
"Sudah 16 bulan" jawab saya.
"Oohh...disini minimal 2 tahun..."
"Aaarrrgghhh....."
"Tapi kalau masuknya dia sendiri, enggak saya temeni boleh kan?"
"Tapi minimal 2 tahun", mba nya kekeuh...

Yasudah, akhirnya kami hanya duduk di bagian tamu sambil makan bekal Shoji tumis kangkung dan lele cryspy, plus air putih. Sempat melihat ada ibu yang nyuapin anaknya juga pake ayam goreng dengan merk salah satu resto cepat saji yang *mungkin* melirik dengan iri ke bekal Shoji dan lahapnya Shoji disuapi tumis kangkung :P
Dia juga bawa susu UHT yg bikin Shoji tertarik buat ngambil, akhirnya dibagi juga deh Shoji dengan UHT yang dibawa masmas itu...*tepokjidat...


Setelah selesai makan, kamk merasa cukup kasian dengan Shoji yang akhirnya nggak jadi piknik di Taman Pintar, pas waktu pulang, akhirnya kami memutuskan mampir di kantor post besar di samping Taman Pintar. Shoji terlihat cukup senang dengan tempat yang lapang. Ia juga dengan sabar menunggu ayah membayar tagihan PBB *kalau saya nggak salah ingat.
Dia berlari kesana kemari dengan ceria, saya senang Shoji tidak merasa asing dengan tempat baru. Dia tampak sangat antusias dan melepaskan pegangan tangan saya untuk jalan jalan sendiri :)
 
 Itu piknik Shoji yang murah meriah. Gimana liburan si kecil bunda?

Salm Hangat

/Aya