Showing posts with label parenting. Show all posts

#Momfulness Seni Mengelola Emosi Untuk Para Bunda

 


Assalamualaikum Sahabat Bunsho,

Postingan ini sengaja saya buat sebagai reminder sekaligus berbagi ilmu mengenai suka duka dunia parenting khususnya bagi para bunda. Sering kali kita sebagai ibu memiliki banyak problematika yang berujung pada performa kita berperan dalam rumah tangga. 

Tanpa disadari (atau sebenernya sangat disadari ya), kita memiliki peranan penting sebagai api yang bertugas memberikan cahaya dan kehangatan dalam keluarga kecil kita. Apa jadinya jika api itu terlalu redup hingga tak cukup menghangatkan, atau malah terlalu panas berkobar kobar sehingga membuat menjadi tidak nyaman. 

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti training bersama Raden Prisya bertajuk "Momfulness". Acara ini kerjasama Dompet Dhuafa, Raden Prisya sebagai Duta Kebaikan Dompet Dhuafa, Mindrevive, Haloclass.id, Sovia Jewelry dan DS Modest. 

Tips Menemani Anak Belajar selama Masa Pandemi


anak belajar



Hai halo Sahabat Bunsho,

apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat-sehat ya? Adakah bunda yang masih punya anak usia sekolah terutama SD? Kalau ada, tos dulu lah kita ya. Saya punya dua anak SD yang saat ini sekolahnya masih online dan offline. Ternyata baik online maupun offline ada plus minusnya semua. Kalau online, cenderung tidak terlalu sibuk menyiapkan perlengkapan prokes, bekal dan juga menyiapkan transportasi anak. Ketika online juga materi pembelajaran bisa kita pantau. Kita bisa mendengarkan materi pelajaran yang diajarkan sehingga lebih mudah dalam memberikan pemahaman pada anak-anak ketika mengulang pelajaran.

Sementara, ketika pembelajaran tatap muka seperti yang sedang dijalani saat ini, terntu ada berbagai hal yang mendapat perhatian khusus. Saya selalu menyiapkan masker dan masker cadangan, hand sanitizer di tas anak. Begitu juga bekalnya, harus yang mudah dikonsumsi sehingga cukup nutrisi tapi juga higienis. Kekurangan ketika belajar tatap muka, kita hanya bisa mendapatkan materi dari buku catatan dan cerita anak selama di sekolah. Kebetulan anak-anak saya sekolahnya nggak pakai buku paket, jadi materi langsung diberikan dalam bentuk LKS yang langsung ditempel di buku catatan untuk mempermudah saat belajar.

Zona Kebaikan Air Memotivasi Anak Gemar Minum Air



“Bunda, air pipisku kuning” teriak Shoji dari kamar mandi.
Pagi-pagi adalah saatnya anak-anak mandi untuk bersiap berangkat sekolah. Biasanya sebelum mandi Shoji akan BAK dulu lalu baru dilanjutkan mandi pagi. Shoji memang termasuk anak yang rajin untuk minum air putih, namun memang sempat beberapa waktu kurang konsumsi air putih yang salah satu efeknya adalah membuat air seninya berwarna kekuningan. Ini juga mengindikasikan bahwa tubuhnya ada gejala dehidrasi. Semakin kurangnya kecukupan air dalam tubuh, maka warna urin akan semakin pekat. Jika dehidrasi sudah masuk tahap parah,ditunjukkan dengan warna urin yang kecoklatan.

Jangan salah lho, kekurangan air putih itu ternyata efeknya sangat besar terhada tubuh kita. Ketika Shoji saya kasih tau untuk lebih banyak minum air putih, dia menanyakan juga kenapa air putih perlu kita konsumsi setiap hari dalam jumlah cukup. Beberapa gangguan tubuh jika tidak minum air putih diantaranya adalah:

DIY - Membuat Ketapel Sederhana


Hai Bunda
Ketemu lagi nih dengan Bunsho di postingan Do It Yourself (DIY) mainan untuk anak. Musim liburan sudah datang, dan biasanya anak anak jadi mager di depan TV aja setiap hari. Kalau nggak dikasih aktivitas, dari pagi bisa tuh ngejogrok depan tivi gak pindah pindah kecuali pas waktu sholat doang. Kadang aja sampai lupa makan dan mandi. Ya tho?

Nah kali ini saya mau berbagi tips membuat mainan jadul tapi seru untuk bermain di luar rumah. Permainan ini sangat nge-hits pada jamannya. Mainan anak cowok yang satu ini juga sering banget muncul di film film petualangan.

Hai, Bunda dengan Anak Istimewa, Yuk Bahagiakan Dirimu.


Hai,
Ketemu lagi nih sama curhatan bunda Shoji Rey Aisha kali ini. Beberapa waktu lalu ada seorang bunda anak istimewa yang DM saya. Katanya dia merasa terganggu dengan stigma yang katanya "Anak berkebutuhan khusus itu akibat dari kesalahan orang tuanya di masa lalu."


Inhale...exhale...inhale...exhale...lalu istighfar.
Serius? Jaman begini masih ada yang tega bilang begitu sama orang tua ABK?

Bunda ini malah cerita kalau ini adalah ucapan dari seorang ustadz di pengajian yang dia datangi bersama ibunya. Setelah kejadian itu, hal ini selalu diungkit ungkit dan membuat bunda ini gak nyaman.

Bukan gimana-gimana sih, iya kalau posisi sang Ibunda sudah settle, sudah bisa menerima kondisi anaknya mungkin gak masalah. Tapi untuk seorang ibu yang baru dapat diagnosa, duuh...pasti rasanya pengen nyakar-nyakar. Bukan nyakar orang lain, tapi diri sendiri mungkin.

Nggak ada yang bilang gak boleh, boleh kok. Tapi dilihat dulu kondisinya kali yaaa...

Hmmm...
Saya diminta membahas soal berat macam ini rasanya pengen lambaikan bendera putih saja deh. Etapi ini bukan uji nyali deng. Baeqlaa...saya coba bikin jawaban versi Bunsho yaaa, kalau ada salah-salahnya atau ada yang kurang berkenan saya mohon maaf.

Kenali 5 Karakter Anak Generasi Maju



Halooo Bunda,
Sebagai orang tua, tentu saja mendambakan anak anak yang siap baik secara mental dan fisik menghadapi dunia luar pada zaman mereka nantinya. Sebagai generasi Z, anak anak masa kini sudah tak bisa dielakkan dari keberadaan gawai. Pe Er banget buat saya juga ini. 

Sebagai pendukung stimulasi tentunya keberadaan gawai ini baik, namun jika berlebihan, tentu saja ada efek samping yang harus ditanggung anak dan orangtua di masa depannya nanti.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyiapkan anak anak kita untuk bisa menghadapi tantangan kehidupannya kelak ya? Pfiuh. Buat saya pribadi, mendidik anak itu kuncinya main tarik ulur. Gimana juga saya tetap manusia biasa yang pasti ada capeknya, ada gak sabarnya, ada marah marahnya, ada tampang singanya. Wajar! #NgomongSambilNyruputKuahIndomi.

So Good CERDIK, Aplikasi Mendongeng Bunda Jaman Now

So Good CERDIK, Aplikasi Mendongeng Bunda Jaman Now

Aplikasi Mendongeng Bunda Jaman Now
Hai Bundas,
Setelah dua hari ini Jogja diguyur hujan deras, yang bahkan lebih deras dari rasa rinduku padamu #eaa... Plus masih ditambah sama listrik mati beberapa kali dalam sehari atau bisa sehari tapi dari pagi sampai magrib juga pernah.

Namanya rejeki pasti harus disyukuri ya, termasuk kondisi sekitar rumah setelah hujan lebat yang bikin akses jembatan gak bisa dilewati karena air meluap. Well, sambil terus mendoakan semoga saudara saudara yang terkena imbas siklon Cempaka selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.

Ketika Hidup Nia Ramadhani bukan Lifegoal a la Kami

#familygolas
Bundas,
Adakah yang dapat foto screenshot dari grup WA sebuah status FB tentang santainya Nia Ramadhani seusai punya anak 3?
Karena pakai bahasa Jawa, status mba HH ini jadi menggelitik. Buat saya pribadi ngemplok getuk sakdurunge klopone kecut itu epic banget hahaha...



Tips Mengantongi Izin dari Suami



Bundas,
Beberapa teman banyak yang tanya saat melihat timeline saya yang isinya banyak ngumpul sama teman teman. Sebagai seorang Oriflamers, ngumpul ngumpul sama partner bisnis itu wajib hukumnya hahaha...namanya juga kerjaan.

Nah tapi, kalau keluar untuk berkomunitas, kumpul kumpul sama sahabat, kan ini sebenernya bukan hal wajib ya? *jadi wajib kalau saya mulai "gila"* ini part of me time saya juga sebenernya siih :) me and my friends jadinya :D

Setelah kemarin saya posting ajian anti baper, banyak yang lalu minta tips tips seputar rumahtangga hahahah 

Baca: 10 Tips Anti Baper

Kali ini saya mau sharing tips ala saya untuk mengantongi ijin suami supaya bisa ngumpul syantieks sama sahabat di komunitas. 

1. Suami melarang= tanda sayang

Yakinkan dulu sama diri sendiri bahwa saat suami kita melarang itu berarti mereka sayang sama kita. Biasanya para cowok amat sangat ingin melindungi wanita yang dicintainya *tsah, kibasjilbab. Jadi, jangan pasang muka beruk (aiihh muka beruk) kalau suami geleng geleng dengan permintaan kita yang sudah mengiba iba untuk pergi. Ambil sisi positif dulu, berarti suami sangat care dan gak pengen kita kenapa kenapa. 


Kumpul sama teman blogger

2. Komunitas Positif

Yakinkan bahwa kita pergi sama orang orang yang memang memberi dampak positif di hidup kita. Saya sih sering cerita cerita tentang teman saya di komunitas, tentang sahabat sahabat sekolah atau kuliah saya, tentang orang orang yang menginspirasi. Jadi saat kita minta ijin untuk keluar sama orang orang itu, suami nggak merasa asing. Bilang juga sama suami bahwa orang orang ini yang bisa bikin kita fresh lagi, biar kita nggak uring uringan terus. Enak kan kita cuma minta diijinin jalan sama temen temen, makan gak nyampe 2 lembar ceban, daripada kita suruh suami bikinin candi? #eaaa...emangnya Roro Jongrang

Komunitas Ibu Ibu Jogja

Kumpul sama sahabat yang inspiratif

3. Baik baikin suami biar leleh

Nah step ketiga, selain kita udah bilangnya jauh jauh hari alias gak dadakan, selama menjelang pergi itu kudu jaga mood nya suami hohoho. Jangan sampai beliau berubah pikiran karena moodnya ilang *garis bawah ya, ini penting*. Suweerrr!. Service kudu excellent. Makin sering pergi berarti baik baikinnya kudu tiap hari yaaaa....hahahha. Sebenernya ini kan udah kewajiban juga, pokoknya bikin kita enak dipandang, nyaman disandang, cantik dilirik, baik dan selalu eksotik *halah ngepas pasin 

4. Siapkan semua keperluan anak anak dan suami sebelum pergi

Pas hari H pastikan kita meninggalkan suami dan anak anak dalam kondisi logistik penuh, sudah bersih dan wangi, rumah juga rapih jali. Saya pribadi nggak bisa janji buat berangkat pagi, ya itu sih, karena hati suami harus legowo melepas kepergian kita dengan senyum manis. Kalau masih acakadul ya wassalam saja bisa dapet ijin keluar.

5. Sempatkan berkabar

Selama aktivitas kita, sempatkan untuk memberi kabar suami, menanyakan kondisi rumah seperti apa. Have fun bukan berarti kita melupakan  yang di rumah loh ya. Kadang ucapan seperti "Anak anak baik baik aja, Ayah?" atau " Wait ya, ini bentar lagi selesai kok. See you" buat saya cukup ampuh untuk meredakan ketegangan suami mengurus anak di rumah. 

6. Berikan ide aktivitas tanpa kita.

Buat saya pribadi, anak anak cowok tampaknya lebih happy main sama ayahnya. Suami yang notabene suka travelling dan hiking seneng dong ya kita kasih kesempatan untuk "Boys Time" tanpa teriakan histeris emaknya. Mereka lebih bebas bermain dan berekspresi tanpa bunda yang selalu gatel ngelarang ini itu. Sering loh, saya buka whatsapp dan tiba tiba dapat kiriman foto suami dan anak anak di negeri antah berantah, tempat yang saya pun belum pernah menjejakkan kaki disitu *laluenvy.

Boys time di Goa Selarong (tanpa saya)
7. Jangan ngeluh

Kebiasaan ayahnya Shoji suka nanyain, "Gimana tadi? Seru?" 
Dan jawaban saya pasti penuh keceriaan dan bisa cerita sampai berbusa busa. Suami sih biasanya senang, karena refreshing saya murah meriah euyyy. 

Kebayang gak pulang dari acara trus kita marah marah gak karuan 

"Ah, tadi tau gitu nggak berangkat"; 
"Capek banget niih, disana malah kepanasan, Aisha rewel, gak lagi lagi deh". 

Kalau sampai ngomong begitu, dijamin! Dijamin besokannya kita nggak bakalan diijinin keluar lagi. Niatnya buat refreshing malah bikin kita makin butek. Tentu saja suami bakalan mikir 2x untuk kasih ijin.

8. Tanyakan Kondisi Selama Kita Nggak Ada

Kalau udah pulang dan sampai di rumah, langsung peluk anak anak dan berikan waktu untuk melepas kangen. Pun dengan suami ya. Tanyakan " Gimana tadi, so far so good?" 
Dengarkan dulu laporan dari suami dan ladeni cerita anak anak yang ingin berbagi cerita sama kita. Hape ditaruh dulu sebentar boleh laah...biar sama sama nyaman.

9. Bawakan Oleh Oleh

Oleh oleh itu salah satu hal yang menyenangkan buat anak anak, pun juga suami. Jangan salah lho, suami saya termasuk yang suka dikasih oleh oleh sama istrinya. 

Oleh oleh nggak harus berupa sesuatu yang mahal atau gimana gimana.  Sekedar cemilan untuk dinikmati bareng sesampai kita di rumah sudah bikin mereka bahagia kok. Voucher ngopi atau jalan jalan dari goodiebag juga mau #ehh. Apalagi kalau sebelum kita pergi sudah dipesenin anak anak barang atau makanan tertentu. Meski nanti risiko saat kita sampai, yang disambut duluan adalah tas plastik kresek bawaan kita dan bukan kita #hayatisedihbang.

10. Baik Baikin Suami (LAGI)

Nah, pulang dari pergi, pasti kan suami capek tuh ikut bantu handle anak anak. Kalau saya biasanya langsung saya tawarin, "Mau dibikinin teh apa kopi?" atau bikinin cemilan yang cepet masaknya misal roti bakar atau jamur crispy gitu hahaha... Tinggal goreng goreng doang, anget anget dimakan bareng bareng. Atau juga oleh oleh makanan kecil yang sempet kita beli. Biasanya sih suami yang kecapekan bisa sumringah lagi.

11. Kalau Mentok?

Nah, kalau misal udah melakukan 10 hal diatas namun kemudian tetep gak dapet ijin keluar yaaa.... Ikhlaskan saja hohoho. Karena kalau di agama Islam memang ridho suami adalah ridho Allah. Kalau suami gak ridho, masak mau maksa ridho Roma #ehh 

Dan intinya sih tetep baik baikin suami sambil didoain terus supaya tersentuh hatinya #eaa...

Yak, kiranya 11 tips dari saya cukup lah ya? Masih kuraaaaang? Hahaha...nanti saya tak cari wangsit duluk. 

Jadi istri dan ibu itu nggak mudah. Tapi jadi istri ideal buat semua itu nggak bisa. Jadi istri yang paling pas aja buat suami masing masing kan sandal jepit pasangannya emang cuma satu, dipasangin sama yang lain model juga gak serasi toh. Selamat menjadi istri yang bahagia yaaa...

Salam
/Aya