Mengintip Rahasia Panjang Umur a la Kaisar China




Di sebuah tayangan televisi,


"Istriku.... Aku akan mencari tanaman obat, kau tinggal di rumah ya, jaga rumah baik baik"
"Baik, suamiku. Jangan lama lama ya, semoga kau segera menemukan tanaman obat mujarab".

Ada yang sudah bisa menebak potongan adegan tersebut? Yes, buat yang abegeh (anak baru gede badannya berkat hamil anak 3 biji) kaya saya mungkin akan langsung terbayang sosok tabib Han Wen dan istrinya si siluman ular putih, Pai Su Cen.

Serial dari negri Cina itu tertanam di otak saya sejak usia SD hahaha, makannya tiap denger Cina yang terbayang di saya bukan produk KW KW-an tapi pengobatan herbalnya, salah satunya ya gara gara serial ular putih itu.

Tapi beneran gak sih kalau di Cina itu sangat mempercayai pengobatan herbal? Rasa penasaran saya sedikit terjawab setelah membaca beberapa literatur tentang jamur. Eh, jamur? Iya J.A.M.U.R

Siapa nggak kenal dengan jenis tumbuhan ini. Sekilas saya mau cerita soal jamur Ling Zhi, ya tanaman yang sudah menjadi obat sejak 2000 tahun yang lalu.
Saya dan keluarga sendiri termasuk yang suka mengkonsumsi jamur, mulai dari jamur merang, jamur tiram, jamur kuping. Kadang jadi campuran oseng oseng dan tak jarang digoreng krispi saja.




Jamur Ling Zhi
Jamur Ling Zhi (Ganoderma sp) biasa disebut jamur Reishi di Jepang. Ada cerita yang menyebutkan bahwa seorang kaisar dari Dinasti Wei sampai mengerahkan 3000 orang prajurit ke Jepang untuk mencari tanaman sebagai jamu awet muda. Jamu awet muda ini tak lain dan tak bukan adalah jamur Ling Zhi. Gimana caranya jamur bisa bikin awet muda ya? Kalau kata Dr Paulus Wahyudi Halim, Ling Zhi mampu memperbaiki aliran darah dan meningkatkan distribusi zat gizi ke kulit. Kandungan antioksidannya juga tinggi, namun bagi penderita sakit jantung koroner dan kanker, tidak disarankan mengkonsumsi Ling Zhi. Sementara sifatnya yang neovaskularitas disebut cukup efektif untuk mengatasi stroke. Pengobatan dengan herbal tentunya butuh waktu yang relatif tidak singkat. Harus telaten dan rajin.

Beberapa manfaat bagi kesehatan jika mengkonsumsi jamur Ling Zhi antara lain:

1. Meningkatkan kekebalan tubuh
2. Menormalkan tekanan darah tinggi
3. Mencegah stroke
4. Antioksidan
5. Antinyeri
6. Antiradang
7. Antivirus
8. Antijamur
9. Anti alergi
10. Menurunkan kadar lemak, kolesterol dan gula darah
11. Menyembuhkan bronchitis dan Hepatitis
12. Menekan efek samping kemoterapi
Khasiat tersebut berkaitan dengan kandungan asam ganoderat dan asam lusidenat, yaitu senyawa polisakarida yang berfungsi menghambat tumor.




Wow! Banyak juga ya khasiatnya! Seperti madu juga nih, pengobatan alami dengan mengkonsumsi makanan sehat :)

Apakah jamur bisa dibudidayakan? Kan enak ya kalau bisa budidaya jamur sendiri. Kebetulan kakak angkatan saya jaman kuliah saat ini menekuni budidaya jamur Ling Zhi ini loh, mba Puri namanya. Selain jamur Ling Zhi juga ada jamur kuping dan jamur tiram juga.

Jamur Tiram
Jamur tiram (pkeurotus sp) merupakan salah satu jamur yang bisa dikonsumsi. Umumnya diproduksi secara organik tanpa bahan kimia dalam budidayanya. Fungsinya selain dapat mengurangi kolesterol dan jantung lemah, juga membantu penurunan berat badan karena kadar seratnya yang tinggi dan dapat membantu proses pencernaan.

Jamur Kuping

Jamur kuping, bahasa sundanya "lember" biasanya tumbuh di kayu kayuan lembab. Jamur kuping sering kita temui pada masakan SOP, sayur kimlo, nasi goreng jamur, Sukiyaki karena pengolahannya cukup mudah. Biasanya dijual dalam bentuk kering dan bila direndam air akan kembali ke bentuk segarnya. Fungsinya dapat memperbaiki kondisi penyakit darah tinggi, kurang darah, datang bulan tidak lancar jika dikonsumsi rutin dan sesuai takaran.


Saat ini jamur malah tersedia juga dalam bentuk camilan yang siap "lhep". Camilan ini selain enak dan juga sehat loh. Kemarin dapet kiriman jamur crispy dari mba Puri waaah, langsung jadi rebutan sama anak anak. Mereka sukaaa..

Ada dua varian rasa, rasa pedas dan rasa gurih. Enak juga buat kriukan teman makan nasi pengganti kerupuk. Ada juga jamur Ling Zhi yang sudah dikeringkan untuk dikonsumsi sebagai obat.

Untuk pemesanan bisa hubungi:
Puri Riliana / Dwi Purnomo
HP 081398665160
Atau lewat IG @shoreafood (081328362823)

Kalau mau berkunjung ke tempat budidayanya
Dukuh RT 09/RW 02 Kelurahan Sucenjurutengah Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Salam Sehat

/Aya

Gambar cover : suwaldi321.blogspot.com

Ketika Tawaran Kuliah S2 di Depan Mata

Hai Bundas,

Gambar dari www.blog.studentadvisor.com

Menjadi mahasiswa, yang terbayang adalah orang orang yang berjiwa muda, penuh prestasi, haus ilmu dan aktif berorganisasi. Ya setidaknya itu bayangan saya saat akan masuk ke jenjang kuliah (yang mana saya ternyata gak begitu wkwkwk).  

Masa kuliah buat saya adalah masa mencari jati diri. Karena semasa SMA adalah masa ABeGeh LabiL yang sedang cari eksistensi wohoooo. Tapi ada juga yang masa masa ini juga sudah memikirkan jenjang pernikahan looh. 

Baca: nikah muda

Nah, kemudian ketika sudah selesai masa perkuliahan dan segala romantika masa remaja matang #tsaah... Maka pilihan selanjutnya adalah:
1. Bekerja
2. Menikah
3. Lanjut kuliah.

Pilihan saya adalah yang pertama, meski akhirnya saya bekerja di bidang yang jauh banget dari pendidikan formal yang saya ambil. Gapapa lah yaaa... Kuliah kan tujuannya cari ilmu bukan cari ijazah *oh yaaa? #pasangtampangRaisakaget.

Lanjut yah, jadi ketika akhirnya pilihan jatuh pada nomor satu dan dua, apakah kemudian harus mengubur jauh jauh impian melanjutkan masa kuliah penuh romantika? Tentu tidaaaak, setelah bekerja atau menikah-pun melanjutkan kuliah S2 selalu jadi impian (termasuk bagi saya *hiks)

Dan ternyata sah sah saja untuk para pekerja atau bapak dan ibu rumahtangga untuk kembali meneguk bangku perkuliahan dengan berbagai alasan. Macam macam ternyata alasan alasannya ya, mulai dari yang remeh temeh, sampai yang jadi alasan standar. Apa aja siiiih, pengen tau? Atau salah satu alasan dibawah ini adalah alasan bunda mengambil S2?

Cekidot...

1. Bingung gak dapet dapet kerjaan dengan bekal ijazah S1.
Alasan klasik dan standar banyak mahasiswa S2. Biasanya sebulan sampai setahun mencoba peruntungan cari kerja di dunia yang penuh persaingan ini. Well, lulusan S1 sekarang udah bejibun cuuuy, saingannya kalau jaman dulu udah kaya lulusan SMA atau SMK laaah... Jadi untuk bisa memenangkan persaingan, mereka perlu senjata andalan dan (semoga bukan jadi) senjata pamungkas....tetereeeeteeeeet.....ijazah S2.

2. Pengen lebih mendalami ilmu yang dipelajari pada kuliah sebelumnya.
Nah yang seperti ini adalah contoh mahasiswa yang dulu pas masuk udah nemu ada yang klik sama bidang ilmu kuliah S1. Ibaratnya orang baru naksir naksiran, kenalan, lalu pengen masuk ke hubungan yang lebih serius #eaa. Rasa penasaran itu memang harus dituntaskan, bener gak? Karena apa? Karena darah itu merah, Jendral! Lanjuuut...

3. Ngikutin nasehat orang tua.
Jadi ada beberapa orangtua yang memang punya standar tertentu untuk anak anaknya. Kaya saya nih, ibu S1, bapak S2, anak kalau bisa standar kuliahnya S3. Hayo ngacung, ortu mana yang cita citanya sama kaya saya? Jadi sah sah aja yah sebenarnya. Yang penting kasih pijakan sama anak, beri kebebasan bertanggungjawab untuk bisa menjalankan cita cita mulia idaman ayah bundanya :D

4. Pengen ngejar syarat untuk profesi idaman.
Jadi dosen, peneliti, ilmuwan, penulis, dokter subspesialis dan beberapa profesi idaman lain tentunya mempersyaratkan jenjang pendidikan minimal. Maka itu, ini jadi motivasi untuk melanjutkan kuliah demi profesi. Biasanya kalau semangat kendor, diingat ingat lagi nih profesi impian, langsung balik lagi semangatnya hahaha

5. Menggunakan status mahasiswa demi aneka diskonan
Nah, ini agak unik nih. Kalau di kota lain, saya kurang tau. Tapi di Jogja; karena terkenal kota pelajar; banyak banget fasilitas yang bisa dinikmati dengan harga khusus. Tak terkecuali untuk mahasiswa S2. Seminar seminar atau workshop dan banyak pelatihan bisa diikuti dengan harga diskon jika kita menunjukkan kartu mahasiswa. Asik ya? Kesempatan seperti itu harus dimanfaatkan juga loh, selain mengejar keilmuan di bidang yang kita minati, mengejar berbagai ilmu tambahan dengan harga istimewa jangan sampai terlewat.

6. Pengen bernostalgia dengan suasana kampus
Sebagai seorang yang sudah menjalani kehidupan berkeluarga, atau bekerja tentu kesehariannya berbeda dengan yang berstatus mahasiswa. Bukan dalam artian cari gebetan atau untuk dolan dolan yaaa...tapi ada hal hal yang membuat hidup lebih refresh lagi ketika duduk kembali (dalam artian sebenarnya) di bangku dan ruang kuliah. Dan untuk pasangannya, dapat benefit diajak berkencan di kampus hahahah *itu saya sih. Abaikan!

7. Pengen mencari banyak relasi.
Kuliah lagi berarti menemukan komunitas baru. Komunitas yang isinya orang orang yang juga memiliki minat ilmu yang sama. Akhirnya, tidak hanya teman S1 saja yang bisa kita ajak joinan kerjasama, tapi juga temen teman kuliah S2. Umumnya mahasiswa S2 ini sudah semakin mengerucut tujuan kedepannya. Jadi jangan sampai kuliah S2 tapi nggak sosialisasi sama teman kuliahnya yaaa...

Nah, salah satu *eh banyak denk* alasan diatas juga menjadi alasan sahabat saya Ardiba Sefrienda untuk mengambil kuliah S2. Sebagai ibu rumahtangga 1 putra, Diba (panggilan akrabnya) punya berbagai harapan ketika memutuskan melanjutkan S2. Berawal dari keinginannya menjadi dosen atau peneliti, kini justru melirik bidang kepenulisan.

Ardiba dan saya di satu acara blogger

Tengok saja blog www.ardiba.com. Blog ini berisi aneka tulisan Diba mulai yang bertema teknologi pangan sampai yang curcol. Menurut Diba, menulis hal hal yang sesuai dengan bidang ilmu pasti lebih mudah kalau kita mempelajari ilmunya lebih dalam, tapi paling mudah adalah menuliskan curcolan hohoho.

Tips dari Diba, untuk Bundas yang mengambil kuliah S2 saat sudah berkeluarga, diantaranya:

1. Pastikan untuk menciptakan kondisi yang nyaman untuk semua anggota keluarga. Pastikan atmosfernya kondusif untuk semua. Gak dipungkiri akan ada lebih banyak waktu tersita untuk urusan kuliah ya, jadi time management kudu dipikirkan sungguh sungguh
2. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk kerjasamanya. Ini termasuk eyang eyang dan pembantu rumahtangga (jika ada) dan suami (ini yang utama) untuk berbagi tugas menghandle anak dan pekerjaan rumahtangga.
3. Jalani dengan happy

Nah, temen temen yang akhirnya melanjutkan S2, apakah salah satu alasannya adalah yang saya sebutkan tadi, atau ada alasan lain? Sharing sharing yuk

Salam
/Aya

Mengulik Keunikan Surabaya

Icon Surabaya

Bundas,

Hai hai *sapuin halaman blog biar gak ada sarang laba-laba* 
Sesekali kita gosip gosip boleh lah ya. Kali ini saya pengen flashback ke jaman kecil hihihi, jaman lagu diobok obok masih ngeheitz abis. Iya ituuh, lagu yang bikin ikan terdzalimi. Coba tengok lirik lagunya: 

Diobok obok airnya diobok obok.
Ada ikannya kecil kecil pada mabok

Nah, kasian kan. Masih kecil aja udah disuruh mabok-mabokan #ehh. 
Eniwei, kita lagi mau ngomongin Joshua nih. Yang angkatan tua kaya saya pasti nggak asing. Yup, doi yang biasa disamasamain mukanya sama Vidi Aldiano hihihi (padahal mah jauuuh) Joshua Suherman fans maap yee...

Kalau saya ngomongin Joshua, Ahmad Dhani, Gisela Idol, Ita Purnamasari, Mus Mulyadi, Maia Estianty, kira kira apa persamaan artis artis ituh? Yupz, logat Jawa Timur lebih tepatnya Suroboyoan yang kental. Sebutan "arek arek" dan "bonek" juga pasti langsung membawa kita ke kota Rujak cingur ini.

Apa istimewanya sebenarnya si kota Surabaya ini? Yuk kita kulitin bareng bareng. Surabaya berasal dari bahasa Sansekerta Sura (ikan Hiu yang melambangkan berani) dan Baya (buaya yang melambangkan bahaya). Jadi kota Surabaya artinya berani bahaya. Well, keliatan ya dari penduduknya yang punya sifat pemberani. Termasuk fakta peperangan 10 November yang akhirnya kita ingat sebagai hari pahlawan, ini juga sepertinya menjadi bukti bahwa Surabaya adalah kotanya para pemberani. Sampai sampai dibuat juga film animasi Battle of Surabaya karya anak Indonesia yang sampai diulas di stasiun televisi ABC Australia loh.

Berani dalam bentuk berani berjuang, dan berani dengan hal hal mistis hohoho. Di Surabaya ada Museum Kesehatan yang lebih dikenal dengan museum Santet. Nah lho, saya dengar namanya saja sudah ciut. Di musium ini ada berbagai koleksi alat alat kesehatan medis maupun non medis di masa lampau. Selain alat kesehatan, dipamerkan juga beberapa benda benda yang (katanya) punya energi mistis yang besar seperti jelangkung dan nini thowok. Bahkan, ada bagian dari museum ini yang dinamai "dunia lain". Tertarik mencoba? Saya kalau ada malam Sekaten di Jogja dan ada wahana rumah hantu sudah dipastikan memilih "lambaikan bendera putih".

Tata kota Surabaya saat ini makin cantik, karena walikotanya, Ibu Tri Rismaharini (yang menjabat untuk keduakalinya sejak 17 Februari 2016 lalu) merupakan sarjana arsitektur lulusan Institut Teknologi Sepuluh November dan Magister Manajemen Pembangunan Kota. Jadi kalau berkunjung ke Surabaya, selain bisa menikmati kuliner khas seperti Rujak Cingur Ahmad Jaiz, Lontong Balap Garuda Pak Gendut, Sate Ondomohen Ny Asih, kita juga bisa menikmati tata kota Surabaya yang ciamik.

Bangunan bangunan menarik di Surabaya antara lain: Monumen Jalesveva Jayamahe, Jembatan terpanjang se-Asia Tenggara (Suramadu), Juga patung icon Surabaya di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

Rasa rasanya jadi ingin berkunjung ke Surabaya yah kalau sudah ngintip beberapa hal unik tentang Surabaya. Buat saya yang tinggalnya gak di Surabaya tentu saja harus memikirkan akomodasi disana. Tapi tenang, banyak kok pilihan hotel di Surabaya yang bisa kita sewa untuk menginap beberapa hari sembari berwisata ke Surabaya. Karena menikmati Surabaya dalam sehari saja dijamin gak akan cukup.

Jadi, siapa yang mendadak dangdut, eh mendadak pengen siapin liburan ke Surabaya? Atau ada tempat tempat, kuliner atau fakta unik di Surabaya yang teman teman temui. Sharing sharing di komen boleh lhoooo

Salam Travelling

/Aya

Bertumbuh Dengan Merangkul Internet Baik

Photo courtesy: www.tamasyaku.com
Bundas,

Berapa banyak dari kita yang geleng geleng lihat anak anak jaman sekarang? Karena mereka tumbuh dan berkembang bersama teknologi, kayanya sudah bukan hal aneh lagi ketika melihat balita bermain gadget. Yes or yes? *yes laaah yaaa*

Buka konten YouTube udah bukan hal asing. Bahkan menyalakan gadget dari posisi off hingga bertemu dengan icon berwarna merah itu sudah mahir sekali dilakukan oleh anak anak. Ya, setidaknya Shoji pun sudah melakukannya saat dapat jatah kesempatan main gadget mingguan.

Sudah benar belum sih pola didik kita saat ini? Ada yang merasa masih salah? Enggak? Jadi salah siapa doong? Salah gue?
Salah temen temen gue?
*abaikan intermezo minim manfaat tadi yaaa *LOL*

Nah, kemarin saya berkesempatan ikutan pelatihan Internet BAIK bersama Ima Satrianto (blogger www.tamasyaku.com) dan mak Siti Hairul (blogger www.catatansiemak.com)

BAIK? Kenapa internet baik? Suka traktir traktir gitu? Hahaha...enggak siih...BAIK-nya ini ada udang dibalik bakwan, eh ada kepanjangannya maksudnya
B = Bertanggung Jawab; dengan ini diharapkan kita memanfaatkan media sosial dengan menjunjung tinggi etika dan norma yang ada. Jadi nggak akan terjadi lagi tuh kasus bullying atau hacking hingga pelanggaran privasi pribadi atau hak cipta.
A = Aman; bisa membedakan mana dunia nyata dan dunia Maya, jadi lebih berhati hati melindungi dirinya.
I = Inspiratif; menjadi sumber inspirasi positif yang akan membawa manfaat untuk orang lain.
K = Kreatif; memantikkan ide ide segar yang akan makin mengambangkan daya cipta dan bisa dinikmati oleh lebih banyak pengguna internet.

Seperti kita ketahui bersama bahwa kulit manggis ada ekstraknya #eh, bahwa internet itu nggak bisa lepas dari kehidupan kita kan ya? Sesuai dari sumber APJII & Puskakom UI/2015, rentang usia netizen Indonesia terbesar adalah digital natives yaitu sebesar 49% dari total pengguna internet dalam range usia 18-25 tahun, yah seusia saya sih (sekitar 10 tahun yang lalu tapi).
Pengguna internet kian bertambah seiring bertambahnya penduduk Indonesia. Maka itu, bekal untuk hidup bersama internet mau gak mau, suka nggak suka kudu kita pahami. Ini supaya kita bisa menggunakan internet sesuai dengan porsinya.

Lewat survey terhadap 2064 anak usia 9 hingga 12 tahun (YKBH, 2015), internet dipakai sebagai sarana belajar (21%), bermain games (20%), menonton video (16%) dan berjejaring sosial (14%). Sisanya penggunaan internet untuk anak usia ini adalah untuk jual beli, membaca berita, download dan mendengarkan lagu. Tambahan info juga bahwa anak anak dibawah 2 tahun seharusnya tidak dikenalkan pada gadget #owowow

Kalau dilihat prosentase diatas, penggunaan internet anak untuk belajar ternyata gak signifikan dengan penggunaan internet untuk bermain games, nah ini nih yang bikin para orangtua ketar ketir, khawatir, berpikir, lalu nyengir nyengir.

Orangtua takut anaknya kecanduan games, padahal bermain games (terutama online) sangat menyenangkan untuk anak anak yang notabene memang usianya adalah usia bermain.

Photo courtesy : Instagram @indahjuli

Jadi sebenarnya gak perlu perlu juga sih antipati sama internet. Orang tua penyayang akan membangun tembok setinggi tingginya jika punya rumah di tepi sungai; tapi orang tua yang bijak adalah orang tua yang mengajarkan anaknya berenang. Quote ini langsung menghentak seiring mak Irul membuka presentasinya *tsaaah (mak Irul kibas Hoodie Telkomsel :D) Selama ini saya termasuk orang tua penyayang (so sweet ya) tapi belum cukup bijak :D

Jadi dari presentasi mak Irul ini saya jadi ngerti bahwa aplikasi aplikasi yang punya potensi memunculkan konten dewasa (nggak sesuai usia anak) bisa diatur sedemikian rupa sehingga bisa tetap diakses oleh anak anak.

Contohnya beberapa aplikasi ini

1. Google : aktifkan telusur aman; mengaktifkan pencarian terbatas
2. YouTube  filtering : perhatikan balon balon yang ada di bagian atas buat memulai pengaturan, masuk ke restricted mode
3. Playstore filter: masukkan ke mode parental control
4. Pengawasan oleh orangtua secara berkala.

Dan ada beberapa aplikasi yang memang dikhususkan untuk anak, seperti kakatu; aplikasi yang memang dibuat untuk memproteksi anak supaya nggak kecanduan gadget ataupun konten porno. Must try nih! Jadi yaa...pas anak anak berselancar di dunia maya kita bisa ngupi ngupi cantik. Siapa yang mau bikinin kopiiiii? *Jessica wongso ngacung* *lalu kemudian hening*

Tapi kenapa sih kita perlu mengajarkan anak "berenang"? Karena kalau tidak dibatasi, internet akan menyebabkan kecanduan. Bagi anak anak kecanduan games ini akan merusak bagian PFC otak mereka. Kronologinya begini, dibuat singkat supaya nggak nyaingi episode sinetron tersanjung bo! *ketauan angkatan berapa deh eik*

Jika terlalu sering main games, otak bagian emosi menjadi overstimulasi. Dan kemudian akan dibanjiri oleh dopamin (zat yang menimbulkan rasa senang). Hal ini kalau terus menerus akan membuat PRe Frontal Cortex (bagian yang mengatur emosi, kontrol diri, mengambil keputusan, merencanakan masa depan, dan menganalisa) bisa kurang terstimulasi dan sampai pada kondisi rusak. Jadi bisa dibilang kalau udah kecanduan games, masa depan bhaayyy.....

Nah, setelah tau bahayanya games, sebagai orangtua kita wajib ngerti rating rating panduan yang memang dibuat untuk melindungi anak anak kita dari paparan game online yang membanjiri playstore. Selain itu, beberapa tips ini bisa dipakai untuk meminimalisir hal negatif di internet, yang merupakan visi dari internet baik. Diantaranya adalah:

1. Merangkul anak sebagai teman sehingga bisa berdiskusi dan menjelaskan dengan hati, tentunya akan membuat anak merasa dihargai pikiran dan perasaannya.
2. Memahami bahwa anak anak kita adalah digital native yang masih punya semangat tinggi dan rasa ingin tau yang besar. Dengan digital literasi dan memperkenalkan rating kepada anak, diharapkan mereka juga dapat membatasi dirinya sendiri.
3. Punya kesepakatan bersama mengenai porsi internet serta gadget dan berikan alasan kenapa dilakukan pembatasan penggunaannya. Dengan aturan, maka konsekuensi bisa diberlakukan jika anak anak mulai melanggar kesepakatan tersebut.

Internet baik
Yes, begitu yah kira kira hasil meguru elmu sama pakar pakar internet baik kemarin, silakan ya bunda yang punya cerita tentang bagaimana suka duka menerapkan internet baik di rumah boleh sharing di kolom komentar :)

Salam
/Aya

Elektroensefalogram (Test EEG) Aisha di RSA UGM

Suasana tes elektroensefalografi

Hai Bundas,

Ada rasa deg degan setiap kali Aisha diminta menjalani berbagai test. Ya iyalah, pas testnya  gak deg degan, tapi pas ambil hasilnya itu loooh...

Dan seperti biasa saya nggak pernah bisa tidur (abaikan tadi sempet nyeruput kopi) tapi memang kalau mau ada acara keesokan hari, mau pergi jauh, atau apapun lah, saya emang susah tidur. Kepikiran dan kurang kekinian (maksudnya merasakan masa kini/sekarang) jadi terlalu takut mikirin yang akan terjadi kedepannya.

Baca: ASSR test untuk Aisha

Begitu pun saat Aisha di awal awal terdeteksi Global Developmental Delay, rasanya seperti dunia mau runtuh kali ya...semua harapan saya yang saya pupuk jauh jauh hari kalau punya anak cewek berasa jauh di awang awang.

Nah, besok pagi kami akan ambil hasil test EEG Aisha nih, dan saya masih aja deg degan

Baca : Screening pendengaran dengan OAE

Ijinkan saya cerita sedikit tentang pengalaman test EEG Aisha yaaaa.

Menurut Wikipedia:
Elektroensefalogram (EEG) adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk mendeteksi adanya kelainan dari otak. Tindakan ini menggunakan sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan dihubungkan melalui kabel menuju komputer.

Sedangkan Elektroensefalografi (EEG) adalah merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala. EEG mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan oleh arus ion di dalam neuron otak. Dalam konteks klinis, EEG mengacu kepada perekaman aktivitas elektrik spontan dari otak selama periode tertentu, biasanya 20-40 menit, yang direkam dari banyak elektroda yang dipasang di kulit kepala.


EEG (elektroensefalogram)

Awalnya adalah saat dokter Vetria menanyakan apakah Aisha sering kejang. Kami jawab Aisha memang sering kejang, meskipun kejangnya tidak keseluruhan sampai ke mata. Hanya saja beberapa anggota badannya bergerak berulang dan tidak bisa tenang kembali saat kita pegang. Dari situ dokter Vetria menduga bahwa memang Aisha masih sering kejang. Beliau juga meresepkan obat untuk Aisha berupa piracetam yang fungsinya untuk pengobatan mioklonus (kelainan kontraksi otot yang terjadi tanpa disadari, seperti cegukan, tremor dan kedutan). Mioklonus bisa disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf (misalnya epilepsi, stroke dan tumor otak).

Piracetam diberikan bersama alinamin dalam bentuk puyer racik dan phenobarbital untuk meredakan aktivitas kelistrikan yang berlebihan di dalam otak dan dengan demikian, membantu mencegah timbulnya kejang.

Persiapan test EEG

Akhirnya kami membuat janji untuk test EEG. Yang perlu dipersiapkan untuk test EEG adalah:
1. Kalau bisa anak diajak main hingga larut, sehingga dia tidur lebih malam
2. Anak dibangunkan pagi pagi, usahakan tidak tidur sampai di rumah sakit. Supaya anak mengantuk dan tidak perlu minum obat tidur.
3. Sorenya anak dikeramas supaya kulit kepalanya bersih, karena mau ditempel elektroda elektroda untuk keperluan testnya.

Pengalaman Aisha kemarin sudah kami ajak main dan tidurnya larut. Aisha juga bangunnya pagi sekitar jam 4, cuma setelah itu Aisha tidur lagi. Sampai di RS Aisha masih tidur hiks...
Akhirnya terpaksa deh, Aisha disuntik obat bius.

Bukan cerita lucu namanya kalau bukan Aisha.

Baca: cerita CT scan Aisha

Kejadian terulang lagi. Aisha tidak tidur setelah diberi obat tidur hiks...dia masih sering bangun bangun, sehingga pas pemasangan elektrodanya saya harus nyusuin untuk menjaga dia tetap tenang. Pun saat test dilakukan, Aisha tampaknya belum benar pulas tertidur. Matanya masih terbuka dan bergerak ke sana kemari. Apalagi rambut Aisha cenderung lebat, hihihi... Perawatnya sampai kaya kapster salon jadinya. Sisir sana, sisir sini, sibak sana, sibak sini. Saya nyusuin sambil berdoa, semoga pas tes EEG nya Aisha dalam kondisi tidur pulas.

Tes EEG dimulai, perawat mulai menyiapkan komputer untuk merekam aktivitas gelombang otak Aisha. Aisha masih gelisah, geleng kiri geleng kanan. Saya nggak tau yaa...apakah itu udah lelap Aisha-nya, tapi dia masih geliat geliat intinya.
Ada kamera juga diatas kepala Aisha dan perawat minta wajah Aisha diusahakan menghadap kamera.

Selanjutnya ada semacam lampu disko (apalah ya namanya, kelap kelip gitu) awalnya pelan, lalu kemudian cepat juga. Nah ada lampu begitu Aisha tetap aja nggak merespon.

Tak berapa lama, perawat bilang kalau test EEG sudah selesai. Aisha masih tetep gelisah geliat geliut. Begitu saya gendong, Aisha puleeeees banget.

Sebelumnya perawat sudah menyampaikan, bahwa kalau disuntik obat bius begini efeknya lama. Alhasil, benarlah dari pagi sampai sore Aisha tidur lama sekali. Sudah coba dibangunkan juga gak bangun bangun, tapi tetep aja saya "paksa" untuk minum susu. Untungnya meski mata merem tetep aja Aisha bisa micubun.

Pengangkatan elektroda elektroda di kepala (EEG)

Setelah EEG selesai

PR selanjutnya adalah membersihkan rambut Aisha dari pasta super lengket ituuu...rambutnya sempet saya coba cobain gaya mohawk segala *emakusil* tapi dimarahin sama eyang utinya hahaha....jadi segeralah saya siapkan air hangat untuk keramas. Tak berapa lama, rambut indah dan lembut Aisha sudah kembali yeaaayy...
Nah, sekarang tinggal tunggu hasil EEG yang bisa diambil seminggu kemudian :)

Mengenai hasilnya? Mari kita pindahan ke postingan berikutnya :)

Adakah temen temen yang pernah test EEG atau diminta tes EEG juga sama dokter? Sharing yuk indikasinya apa sampai diminta test EEG.

Love,
/Aya