Showing posts with label kandungan. Show all posts

Global Developmental Delay apa dan bagaimana?

Neurotam + enchepabol

Hai Bundas

Akhirnya terbit juga postingan ini. Setelah 4 hari terpending karena Rey sakit (diduga) ISK dan Aisha sedang masa adaptasi Dengan terapi terapi pertamanya.

Baiklah, saya lanjutkan cerita tentang Aisha yaa. Setelah sebelumnya postingan mengenai Screening gangguan pendengaran dengan OAE dan ASSR test untuk Aisha, kali ini saya mau cerita hasil kami menemui dokter Anak spesialis tumbuh kembang.

Setelah observasi pendengaran kemarin, Aisha dinyatakan kondisi pendengarannya baik. Namun ada hal yang menjadi concern dokter Ashadi, yaitu kemampuan Aisha untuk merespon sangat jauh tertinggal dari anak seusianya.

Saat ini Aisha sudah 7 bulan, namun kompetensinya masih seperti anak usia 1 bulan!

Bagaimana bisa begitu?

Well, setelah menemui Dr Suroyo Mahfudz, Sp.A TK, berdasar observasi beliau tentang kondisi Aisha, maka beliau mengatakan Aisha adalah bayi dengan Global Developmental Delay.

Apa itu Global Developmental Delay?

Dalam pertumbuhannya, anak anak akan terus dipantau perkembangannya secara berkala. Ada tahapan tahapan yang sudah harus dikuasai anak pada range usia tertentu. 

Pada kasus Aisha, banyak ditemukan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Diantaranya, saat ini Aisha masih kesulitan untuk mengangkat kepala dengan stabil. Hal ini seharusnya sudah mampu dilakukan anak usia 3 sampai 4 bulan. Begitu juga dengan kemampuan motorik kasar seperti berguling, atau fokus pandangan matanya.

Itulah mengapa, Aisha membutuhkan banyak test untuk menegakkan diagnosa dan mencari penyebab terjadinya GDD ini. Hal ini akan selalu dipantau berkala oleh dokter anak, psikolog, terapis (terapi wicara maupun okupasi) lalu dievaluasi.

Aisha sendiri kata Dokter Royo saat melihat riwayat kelahirannya adalah bayi berisiko tinggi. Bayi berisiko tinggi itu punya kemungkinan lebih besar untuk punya hambatan dalam tumbuh kembangnya ke depan. 

Yang mempengaruhi diantaranya saat kehamilan kena infeksi toksoplasma, TORCH, hiperemesis, ketuban berlebihan, anemia, minum obat obatan juga.

Selain itu, ternyata bayi berisiko juga diakibatkan saat proses persalinan yang lama, bayi tidak menangis/ asfiksia berat, BBLR. 

Aisha kemarin juga terdeteksi mengalami hiperbilirubinemia, selain itu dia pernah kejang, hipoglikemia dan hipotermia.

Dalam kasus Aisha ternyata terdapat komplikasi berbagai indikasi, sehingga efeknya gangguan tumbuh kembang yang meliputi pertumbuhan fisik maupun perkembangan motoriknya. Hal ini juga berpengaruh terhadap gangguan pendengaran dan psikososialnya.

Nah, karena penanganan Aisha butuh banyak proses, kami perlu bersabar. Saat ini selain terapi fisik rutin dan minum obat tiap pagi sore, obatnya neurotam +enchepabol. Aisha juga perlu menjalani pemeriksaan CT Scan untuk mengetahui lebih lanjut dan mendeteksi kemungkinan kalsifikasi intrakranial, mikrosefali, hidrosefalus, ataupun perdarahan intrakranial.

Bismillah, semoga Allah melancarkan segala ikhtiar dan beri yang terbaik untuk Aisha yaaaa..

Love, /Aya


Anakku bukan anakku (Deassy M Destiani)



Hai bundas
Gak ada kata terlambat yaaa... meskipun saya berharapnya punya buku ini sejak hamil anak pertama, tapi ternyata setelah lahiran anak ke 3 pun buku ini bermanfaat banget.

Saya ucapkan terimakasih pada mba Deassy, kado yang indah untuk ibu ibu hamil dan setelah melahirkan, juga kado untuk para bidan dan nakes yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.

Sedikit review tentang buku ini, terdiri dari 6 bab dengan pembahasan yang sangat mengena. Membaca buku ini, membuat saya pribadi flashback ke masa masa kehamilan Shoji dan Rey dulu. Hamil ketoga todak berarti semua berjalan mulus mulus saja bukan?


Untuk saya, kelahiran Aisha yang BBLR dan dengan infeksi bakteri yang membuat dia harus berada di rumahsakit selama 14 hari bukan perkara mudah bagi psikologi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Belum juga kondisi fisik pulih seperti semula, beban psikologis pun menjadi teramat berat.

Di buku ini diceritakan mengenai kisah ibu ibu dalam menghadapi anak anak dan hal hal yang dapat mempengaruhi psikisnya. Di bab 1 lebih banyak berbicara mengenai peran suami dan pengaruhnya terhadap potensi depresi seorang ibu. Ternyata perhatian suami sekecil apapun sangat besar dampaknya terhadap kondisi ibu hamil atau ibu melahirkan.
Yang bisa saya petik adalah bahwa ayah adalah pemberi support terbesar sekaligus pemicu depresi terbesar bagi ibu ibu hamil dan menyusui, sehingga peran ayah harus sebaik mungkin dalam menghadapi ibu hamil atau ibu melahirkan.



Bab kedua, ketiga dan keempat lebih pada bagaimana seorang ibu harus bisa mengelola emosinya. Sementara bab kelima da keenam adalah solusi solusi untuk menghadapinya.

Overall buku ini padat berisi, dilengkapi dengan studi kasus dan pendekatan solusi masing masing kasus. Bisa membuat saya introspeksi diri juga jadi pembelajaran bagaimana mengkomunikasikan kebutuhan kita sebagai ibu kepada orang orang di sekitar kita dengan baik.

Mengutip kata teh Indari Mastuti, anak yang bahagia dibesarkan oleh ibu yang bahagia. Jadi semua ibu harus bisa menjadi ibu bahagia untuk keluarganya. Buku ini cocok banget untuk kado pernikahan juga lhooo.. supaya calon ibu sudah siap menghadapi proses kehamilan dan persalinan dengan lebih bahagia

Salam
/Aya

Merawat bayi BBLR dan metode Perawatan Model Kangguru Aisha

Haiii...

Postingan kali ini saya akan melanjutkan kisah Aisha (bisa dibaca disini)

Aisha terlahir cukup bulan (39 week) namun memang beratnya amat sangat kurang. Dengan berat 1910 gram, Aisha seharusnya langsung dimasukkan inkubator. Namun karena saya yang kurang ilmu, ngotot minta Aisha rooming in.

Setelah sampai di UGD PKU, saya diminta menemui kepala ruang bayi untuk mendengarkan penjelasan tentang kondisi Aisha malam itu.
Hancur hati saya saat perawat ruang bayi mulai menjelaskan kondisi Aisha saat diterima disana.
- Nafasnya tersengal sengal karena sebelumnya Aisha menangis kencang
- Detak jantung tidak teratur dan amat sangat cepat seperti orang habis berlari lari
- Level GDS nya 0 (seperti orang puasa 3 hari)
- Suhu tubuh dingin
- Kulit sudah mulai membiru
Intinya kondisi sudah amat sangat kritis.

Hasil lab pada pemeriksaan darahnya mengatakan Aisha terkena infeksi bakteri terlihat dari kandungan leukositnya yang tinggi. Jadi Aisha harus menjalani terapi antibiotik.

22 September 2015
Kata Dokter Komar, Aisha sempat kejang, sehingga dokter memberikan obat anti kejang. Ada juga infus glukosa 10% untuk menaikkan kadar gula darahnya. Detak jantungnya juga masih dipantau mesin, begitu juga sensor untuk mendeteksi kejang Aisha. Hari pertama di inkubator, badan Aisha masih kaku kaku.

Sebagai seorang ibu, miris rasanya melihat Aisha tanpa bisa menyentuhnya. ASI diberikan lewat selang, Alhamdulillah ASI adalah ikhtiar saya untuk pengobatan Aisha.
Karena stress, ASI saya sempat macet, Alhamdulillah berkat doa dan support orang orang tersayang, saya selalu ditenangkan. Hanya tasbih yang menemani malam malam saya, lantunan dzikir untuk kesembuhan Aisha.

Beruntung di PKU ada kamar untuk ibu bayi beresiko. Jadi kami bisa beristirahat dan pumping disana. Berkumpul dengan ibu ibu kuat dan tegar yang lain, bisa menguatkan hati saya yang sat itu sedang remuk.

Selama di TPI saya sempat menulis beberapa catatan...

Hari kedua
23 September 2015 23:00

Hari ini hari Rabu. Satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Kata Uti, bunda lahir juga sewaktu malam takbiran. Tapi, malam takbiran kali ini ternyata harus bunda harus lewati di bangsal rumah sakit tempat penitipan ibu untuk bayi beresiko tinggi.
Menunggu tirai dibuka di jam besuk untuk bisa melihat Aisha 2 kali sehari.

Alhamdulillah, syukur pada Allah, diberikan teman teman baru. Mba Maya, ibu baby prematur 8 bulan (1,7 kg) dan mba Murti, ibu baby prematur 7 bulan 2,2 kg. Kami saling menyemangati disini. Memerah bareng, jam menyusui mereka adalah alarm bunda untuk memerah

Jadwal perah ASI Aisha
05.30, 08.30, 11.30, 14.30, 17.30, 20.30, 23.30, 03.00

Asi bunda kian bertambah, dan sampai saat ini Aisha masih bisa menerima ASI. Lewat ASI bunda, semoga Aisha tau kalau bunda disini menanti Aisha sehat dan kuat lagi...

Hasil perah setelah hari ke 3

Hari kelima
28 September 2015 23:25

Ini hari ke 5. Kondisi Aisha semakin membaik kata perawat, namun memang belum bisa menyusu langsung. Secara fisik Aisha semakin membaik.Alhamdulillah
Saat ini Aisha masih harus menyelesaikan terapi antibiotik. Katanya kalau sudah 7 hari baru bisa di cek lagi untuk test darah.
Jadi ingat, saat Rey sakit demam tinggi tiga mingguan sebelumnya, Rey juga nggak mau makan dan selama 7 hari harus menghabiskan antibiotik.

Aisha sayang,
Kata perawat mereka sedang mencoba menyuapimu menggunakan sendok. Bunda juga mau lhoooo. Bunda akan menyuapimu sambil bercerita nak...
Bunda sempat menangis di depan ayah tadi. Setegar tegarnya bunda, bunda tetap hanya manusia biasa. Hanya seorang ibu yang sudah 5 hari tidak bisa memeluk buah hatinya

Hari kedelapan
30 September 2015 17:10

Sejak kemaren Aisha sudah nenen langsung sama bunda jam 14.30
Rasanya bahagia banget bisa neneni Aisha lagi. Kata dokter, infus Aisha sudah bisa dilepas yeaaayy

Hari ini Oksigen Aisha juga dilepas dan bunda sudah diajari KMC (Kangaroo Mother Care) Atau PMK (PrawatanModel Kangguru) bunda pilih gendongan yang motifnya cantik secantik Aisha, motif batik :)

Gak sabar nunggu sesi KMC berikutnya...
Oh iyaaaa bunda bawakan buku Aisyah, buku pemberian ayah saat nikah dulu loh, untuk dibacakan ke Aisha...
Inspirasi nama Aisha dari Siti Aisyah, istri Rasulullah...

Bismillah ya Aisha
Sampai hari ini
Tante Maya sudah pulang
Tante Murti juga
Tante Fitri menyusul
Tante Esthi dan tante Fatma sudah pulang juga
Tinggal bunda, tante Fathin, tante Mita.

Yuuuk Aisha pulang, gk usah lama lama yaaa :)

Metode KMC /metode PMK


Hari ke duabelas
02 Oktober 2015

Hari ini adalah jadwal KMC yang ke 3. Bunda belajar membedong (lagi) Aisha plus dikasih edukasi
Untuk bayi terlahir BBLR metode perawatan yang baik adalah:
- KMC paling baik selama 20 jam
- nafas 60 kali/menit
- suhu tubuh 36,5 - 37,5°C
- minumi setiap 2 atau 3 jam sekali, jika bayi tidur, bangunkan dan sendoki ASI nya
- jaga selalu dalam kondisi hangat karena bayi rentan hipotermia dan hipoglikemia.

Biasakan mencuci tangan sebelum memegang bayi, siapapun yang menengok sebaiknya tidak memegang atau mencium bayi

Akhirnya di hari ke 13 Aisha bisa pulang kembali ke rumah. Ayah bunda dan Uda Shoji Rey senang sekali Aisha sudah pulang ke rumah

Mohon doa Aisha sehat sehat selalu yaaaa

Love
/Aya




Menantimu Aisha (VBAC part 2)

Baby Aisha


Hai haaaiiii....

Akhirnya kembali lagi menulis, setelah blog ini cukup berlumut.
Setelah bercerita tentang Yusuf, Shoji, Rey, kali ini jatahnya saya cerita tentang Aisha...

Alhamdulillah, 20 September 2015 kemarin telah lahir putri cantik adik Shoji Rey. HPL Aisha sebenernya 27 September 2015, sama seperti tanggal lahir saya (ngarep ultahnya barengan, jadi bermuhasabah barengan heheheh). Ternyata seminggu sebelum HPL Aisha sudah ingin nongol, jadilah tanggal 20 September itu sebagai hari lahirnya.

Cerita tentang Aisha bisa panjang sekali dan harus ditulis 2 postingan sepertinya. Postingan ini saya ingin cerita tentang menyambut kelahiran Aisha hingga kelahirannya.

Seperti juga kakak kakak yang lain yang mau punya adik, Rey dan Shoji excited sekali dengan perut saya yang kian membesar. Rey terutama, tak henti henti mencium dan mengelus perut saya. Tapi memang saya rasakan perut saya tidak sebesar kehamilan kehamilan sebelumnya, well tapi karena tidak ada masalah, saya pikir baik baik saja.

Minggu ke 35 saya cek USG, berat janin 2200 gr, maaih kurang sekali dan saya diminta konsumsi lebih banyak protein dan lemak untuk menambah berat janin. Di saat yang sama, Rey sedang sakit flu berat. Batuk, pilek dan pakai panas hingga 39 derajat pula.  Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata Rey kena infeksi bakteri jadi harus minum antibiotik.

Selama sakit, Rey selalu nempel sama saya. Tidur bareng saya, mintanya digendong dan dipangku terus. Kadang sampai perut saya kerasa amat panas kena transfer dari badan Rey. Alhamdulillahnya, saya nggak ketularan (ini ternyata efeknya lebih berbahaya, saya ceritakan di postingan berikutnya)

Sabtu, 19 September 2015 saya datang kondangan, ternyata sudah mulai terasa gelombang cinta dari baby Aisha kala itu, tapi memang masih belum teratur. Baru malamnya, kontraksi makin teratur dan makin kuat.

Pagi jam 08.00 saya berangkat ke rumahsakit dan ternyata baru bukaan 3, diminta menunggu di kamar hingga cukup bukaan untuk dibawa ke ruang VK. Jam 12 siang sudah bukaan 7, tapi belum ada tanda tanda bloody show, jadi saya diminta menunggu hingga jam 2.

Pukul 2 siang saya dibawa ke ruang bersalin, kontraksi kian kuat dan intens, tapi pembukaan tidak bertambah. Jam 19.00 saya mulai panik, tapi ayah Shoji dan dokter Farah (dokter yang membantu persalinan selalu menenangkan dan menyemangati saya)

Shoji mendoakan bunda di dalam ruang bersalin


Pukul 19.55, Aisha akhirnya lahir. Saya sudah merasa lega, tapi ternyata belum selesai sampai disitu. Aisha lahir tidak menangis, ketubannya keruh dan hijau. Perawat segera melakukan tindakan. Sementara saya dijahit, saya tidak merasakan kepanikan itu, tapi ayah Shoji melihat semuanya. Saya diberitahu kalau anak saya perempuan, tapi lahir Kecil, 1910 gram.

Akhirnya Aisha bisa menangis, segera ia diberi oksigen dan diobservasi. Saya yang tidak paham, ingin Aisha dirawat gabung saja. Perawat membolehkan dan tetap dengan membawa tabung oksigen.

Lahir jam 19.55, aisha jam 22.00 sudah bisa menyusu dan kuat. Berikutnya ia juga menyusu per 2 jam. Hingga pagi hari, 21 September 2015 Aisha masih terlihat sehat.

Jam 15.00 Aisha terakhir minum ASI, menjelang maghrib dia tampak pucat, menangis keras dan tidak mau menyusu. Akhirnya ayah Shoji membawa dia ke perawat. Pukul 8 malam saya diminta memerah susu saya untuk coba diminumkan ke Aisha, ternyata lewat sendok dan selang pun tidak bisa. Pukul 10 malam, dokter minta Aisha dirujuk ke RS yang punya PICU, karena harus masuk inkubator.

Jam 24.00 ambulance membelah Jogja menuju RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dari RS Griya Mahardika. Saya dan shoji ikut ambulance dengan perasaan tidak menentu. Aisha masuk ke ruang UGD dan segera dicarikan tempat di kamar bayi beresiko.

Apa yang terjadi selanjutnya? Kita lanjut ke postingan berikutnya yaaa :)

Love
/Aya

Yusuf Muhammad Shalda

Nama itu masih sering terngiang di benakku. Tiap mengingat namanya, tak terasa titik bening meleleh dari sudut mataku. semua berawal dari tanggal 13 Desember 2009 lalu. Ketika jawaban atas segala doa kurasa telah dijawab oleh-Nya. Dua strip merah tampak nyata pada sebuah alat pengukur kehamilan yang kupegang dengan tangan tak henti bergetar...
Bahagia rasanya ada makhluk yang kini berdiam di rahimku.

Hadiah akhir tahun, mungkin juga hadiah ulang tahun untuk suami dan ayahku yang merayakan hari jadi di bulan Desember. Bagiku itu adalah anugrah terindah yang kudapatkan dari penantianku yang tidak sebentar (menurutku sih...tapi sebentar itu relatif, memang)

Karena tidak percaya dengan hasil test pack, aku memilih untuk cek langsung ke dokter kandungan. Namun karena kantong kehamilan belum terlihat, kami menunda untuk memberitahu siapapun sampai dokter mampu menunjukkan bukti bahwa aku benar-benar sudah mengandung.

Dua minggu kemudian kami pergi ke dokter untuk melihat apakah sudah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan gejala positif kehamilanku. kata dokter, kantongnya sudah ada, tapi janinnya belum kelihatan. Setidaknya kami bisa sampaikan pada orangtua kami bahwa mereka akan segera punya cucu.

Di awal kehamilanku sering sekali aku merasa mual dan nafsu makan yang melonjak gila-gilaan. Tiap 3 jam harus ada makanan yang masuk untuk ku kunyah, jika tidak aku akan kelabakan mencari apa saja (i mean it...apa saja) yang bisa kumakan. Tubuhku bertambah lebar dan bajuku kian sesak... tapi aku tidak peduli, selama aku tau Yusuf tumbuh sehat di dalam sana.

Rasa mual memang sering kurasakan, namun aku tidak pernah muntah-muntah ataupun mengalami morning sickness seperti yang banyak orang keluhkan. aku juga tidak punya permintaan aneh-aneh (yang orang kebanyakan bilang sebagai "ngidam") Aku bersyukur, dan banyak yang memuji kalau Yusuf sangat pengertian pada bundanya. Dia tahu kalau bundanya tiap pagi harus mengajar, jadi mual hanya terjadi setelah aku pulang kantor dan tidak pernah sampai muntah.

Minggu ke 10 kami mengunjungi dokter lagi untuk cek keadaan Yusuf. Dari hasil USG terlihat Yusuf tumbuh sehat dengan panjang 3 cm. karena begitu senangnya, kami minta print-out foto Yusuf (yang tidak kami sangka bahwa itu adalah foto pertama dan terakhirnya).

Minggu ke 13, aku mengalami flek, namun aku tidak langsung ke dokter dan menunggu jadwal periksaku 3 hari setelahnya. Senin, 8 Februari 2010 aku cek ke dokter Ivanna sekaligus menanyakan gangguan-gangguan yang kurasakan seperti pegal-pegal di bagian tulang belakang bagian bawah. Dokter memintaku untuk USG lagi. Tak seperti biasanya, Dokter Ivanna tampak kesulitan menemukan posisi janin dan mengernyit sambil meminta asistennya memeriksa berkas-berkasku.

Dokter Ivanna menanyakan apakah benar kehamilanku sudah mencapai usia 14 minggu, beliau kembali menghitung dengan kalender miliknya dan tampak tidak yakin. Kata beliau, di usia itu, janin sudah menunjukkan pergerakan dan detak jantung sudah terdeteksi. Tapi Yusuf tidak bergerak dan detak jantungnya belum terdeteksi. Ia memintaku untuk istirahat total seminggu dan jika dalam minggu yang sama terjadi perdarahan, aku harus segera ke Rumah Sakit.Yang sedikit mengherankan, Dr Ivanna juga bilang kalau janinku mengecil dari 3 minggu sebelumnya, perasaanku sudah semakin tidak nyaman apalagi saat beliau memberikan obat penguat kandungan dosis tinggi untukku.

sampai di rumah, aku tak kuasa menahan tangis, yang bisa kulakukan hanya berdoa semoga Yusuf baik-baik saja di dalam sana.

Rabu, 10 Februari 2010 jam 3 sore, aku pendarahan lagi, segera kuminta sahabatku untuk mengantarkan ke Rumah Sakit. kata dokter jaga, jalan lahirnya belum terbuka, jadi janin kemungkinan masih bisa selamat, aku boleh pulang lagi tanpa diberi obat tambahan.

Kamis pagi, perdarahanku berhenti total, tapi seusai maghrib, aku perdarahan lagi (dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya). Aku segera diantarkan ke dokter dan dimita untuk cek urin. Kata dokter jaga, kandungan HCG dalam urinku tidak mampu memberi hasil positif untuk uji kehamilan dengan test pack, segera infusku dipasang dan darahku diambil untuk test lab.

Jam 9 malam dokter Ivanna datang untuk memeriksa jalan lahirnya. "Masih tertutup" kata beliau. "Besok pagi kita cek lagi dengan USG ya Bu, jika ada pergerakan atau detak jantung janin, kemungkin kehamilan Ibu bisa dipertahankan" karena sampai jam 8 malam, Yusuf belum menunjukkan pergerakan atau detak jantungnya.

Malam itu aku tidak mampu memejamkan mata, diiringi suamiku yang membacakan surat Yusuf, aku terus berdoa dan berharap Yusuf bangun dari tidurnya dan menunjukkan tanda-tanda bahwa ia "hidup". Kami masih merasa bahwa Yusuf pasti mendengar apa yang kami bisikkan padanya.

Pagi jam 9, aku dibawa ke ruang USG. Kami menunggu cukup lama untuk memastikan pergerakan Yusuf. ternyata ia tidak juga bergerak ataupun berdetak. setelah di cek, panjang Yusuf tidak mencapai 3 cm, yang berarti berkurang dari panjang terukurnya yang terakhir. bahkan, panjang Yusuf yang sekarang adalah ukuran janin usia 8 minggu, padahal usianya sudah 14 minggu.

Dokter memberi pilihan, jika kami berniat mempertahankan, kemungkinan yang terjadi ada 2, perdarahan lebih hebat dan janin akan keluar sendiri, atau janin tak akan keluar selamanya, namun akan membatu dan mengganggu kehamilah selanjutnya. Namun jika kami mengikhlaskan, Yusuf harus dipaksa dikeluarkan dengan kuret.

Dengan pertimbangan bahwa jalan ini adalah jalan terbaik untuk Yusuf dan untukku, kami menandatangani surat persetujuan pemasangan alat pembuka jalan lahir dan persetujuan pelaksanaan kuret.

Jam 9.30 alat pembuka jalan lahir dipasang. Rasanya sungguh sakit luar biasa, tapi yang lebih menyakitkan rasa sakit yang ada di dalam hatiku. Aku bersyukur suamiku menemaniku di saat-saat tersulit itu dan selalu mengingatkan aku untuk istighfar dan menyebut nama Allah.

Selesai pembukaan jalan lahir, aku harus menunggu jam 13.00 (setelah sholat Jumat) untuk pelaksanaan kuret. Beruntung bapak dan ibu datang dari Jogja, begitu juga teman-teman kerja tercintaku yang datang memberi semangat. mereka membawa surat berisi doa yang dibuat oleh anak-anak didikku di TK.

Jam 12.15, aku disiapkan di ruang operasi. tidak ada yang boleh menemaniku masuk ruang operasi. Dokter anestesi memintaku untuk berdoa terlebih dahulu, selanjutnya aku sudah tak ingat apa-apa.

Sayup-sayup kudengar suara Adzan yang dikumandangkan suamiku, namun aku masih belum mampu bicara atau membuka mata. saat akhirnya aku sadar, aku langsung menanyakan dimana Yusuf. Antara sadar dan masih dalam pengaruh obat bius, aku melihat Yusuf. Tak ada airmata, hanya senyap...

Untuk Yusufku yang kini sudah tenang disana, Bunda cuma ingin bilang "Bunda sayang Yusuf, Allah pasti sudah menyiapkan tempat terindah untukmu di sisi-Nya nak...Doa kami senantiasa menyertaimu"

Maaf ya sayang, Bunda belum bisa tengok Yusuf di Jogja, kalau Bunda sudah kuat, Bunda pasti tengok Yusuf. Yusuf dijagain Eyang dan uncle kok di sana. Baru 2 hari berpisah darimu, Bunda sudah rindu kamu sayang...

"Dan aku beruntung, sempat memilikimu..."