Showing posts with label demam saat hamil. Show all posts

Global Developmental Delay apa dan bagaimana?

Neurotam + enchepabol

Hai Bundas

Akhirnya terbit juga postingan ini. Setelah 4 hari terpending karena Rey sakit (diduga) ISK dan Aisha sedang masa adaptasi Dengan terapi terapi pertamanya.

Baiklah, saya lanjutkan cerita tentang Aisha yaa. Setelah sebelumnya postingan mengenai Screening gangguan pendengaran dengan OAE dan ASSR test untuk Aisha, kali ini saya mau cerita hasil kami menemui dokter Anak spesialis tumbuh kembang.

Setelah observasi pendengaran kemarin, Aisha dinyatakan kondisi pendengarannya baik. Namun ada hal yang menjadi concern dokter Ashadi, yaitu kemampuan Aisha untuk merespon sangat jauh tertinggal dari anak seusianya.

Saat ini Aisha sudah 7 bulan, namun kompetensinya masih seperti anak usia 1 bulan!

Bagaimana bisa begitu?

Well, setelah menemui Dr Suroyo Mahfudz, Sp.A TK, berdasar observasi beliau tentang kondisi Aisha, maka beliau mengatakan Aisha adalah bayi dengan Global Developmental Delay.

Apa itu Global Developmental Delay?

Dalam pertumbuhannya, anak anak akan terus dipantau perkembangannya secara berkala. Ada tahapan tahapan yang sudah harus dikuasai anak pada range usia tertentu. 

Pada kasus Aisha, banyak ditemukan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Diantaranya, saat ini Aisha masih kesulitan untuk mengangkat kepala dengan stabil. Hal ini seharusnya sudah mampu dilakukan anak usia 3 sampai 4 bulan. Begitu juga dengan kemampuan motorik kasar seperti berguling, atau fokus pandangan matanya.

Itulah mengapa, Aisha membutuhkan banyak test untuk menegakkan diagnosa dan mencari penyebab terjadinya GDD ini. Hal ini akan selalu dipantau berkala oleh dokter anak, psikolog, terapis (terapi wicara maupun okupasi) lalu dievaluasi.

Aisha sendiri kata Dokter Royo saat melihat riwayat kelahirannya adalah bayi berisiko tinggi. Bayi berisiko tinggi itu punya kemungkinan lebih besar untuk punya hambatan dalam tumbuh kembangnya ke depan. 

Yang mempengaruhi diantaranya saat kehamilan kena infeksi toksoplasma, TORCH, hiperemesis, ketuban berlebihan, anemia, minum obat obatan juga.

Selain itu, ternyata bayi berisiko juga diakibatkan saat proses persalinan yang lama, bayi tidak menangis/ asfiksia berat, BBLR. 

Aisha kemarin juga terdeteksi mengalami hiperbilirubinemia, selain itu dia pernah kejang, hipoglikemia dan hipotermia.

Dalam kasus Aisha ternyata terdapat komplikasi berbagai indikasi, sehingga efeknya gangguan tumbuh kembang yang meliputi pertumbuhan fisik maupun perkembangan motoriknya. Hal ini juga berpengaruh terhadap gangguan pendengaran dan psikososialnya.

Nah, karena penanganan Aisha butuh banyak proses, kami perlu bersabar. Saat ini selain terapi fisik rutin dan minum obat tiap pagi sore, obatnya neurotam +enchepabol. Aisha juga perlu menjalani pemeriksaan CT Scan untuk mengetahui lebih lanjut dan mendeteksi kemungkinan kalsifikasi intrakranial, mikrosefali, hidrosefalus, ataupun perdarahan intrakranial.

Bismillah, semoga Allah melancarkan segala ikhtiar dan beri yang terbaik untuk Aisha yaaaa..

Love, /Aya


Screening gangguan pendengaran dengan OAE

 test OAE

Hai Bundas,

Bagaimana rasanya saat mendengar dokter mengatakan bahwa anak kita memiliki gangguan pendengaran? 
Kaget?
Sedih?
Tidak percaya?


Hmm...campur aduk mungkin ya rasanya. Kurang lebih seperti yang saya rasakan saat dokter mencurigai Aisha punya gangguan pendengaran.

Awalnya adalah saat screening rutin usia 6 bulan. Kami cek tumbuh kembang Aisha terlambat dibanding teman teman seusianya. Benar sih, perkembangan anak berbeda beda. 

Namun, rasa rasanya kok terlalu jauh kompetensi yang saat ini dimiliki Aisha dengan standar kompetensi anak seusianya.


Pada usia anak 6 bulan, seharusnya Aisha sudah mampu melakukan hal hal berikut:

Motorik kasar:
- berguling balik badan dua arah
- duduk dengan / tanpa bantuan tangan
- mampu mencoba berdiri dan bertumpu pada kaki
- memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain

Penglihatan:
- melihat berbagai warna
- jarak penglihatan makin jauh
- bisa melihat dan mengikuti objek bergerak

Bahasa:
- merespon saat dipanggil namanya
- merespon saat kita mengucap "tidak"
- membedakan emosi dari nada suara
- merespon suara dengan babling
- menggunakan suara untuk mengekspresikan rasa senang dan tidak senang
- babling berbagai huruf konsonan

Kognitif: 
- mampu mencari objek yang hilang
- bereksplorasi dengan tangan dan mulut
- mau meraih benda diluar jangkauannya

Sosial:
- menyukai permainan
- tertarik dengan bayangannya di cermin
- merespon ekspresi orang-orang di sekitarnya .


Nah, berawal dari screening tersebut, saya memutuskan untuk berdiskusi dengan psikolog. Dari Psikolog, kami disarankan untuk cek lebih lanjut ke dokter anak. 

Kami akhirnya kembali pada dokter Komar. Dokter yang menangani Aisha saat dirawat di kamar bayi (NICU). Ceritanya bisa dibaca disini myvioletya.blogspot.co.id/2015/11/menantimu-aisha-vbac-part-2.html?m=1

Dan disini myvioletya.blogspot.co.id/2015/11/merawat-bayi-bblr-dan-metode-perawatan.html?m=1

Dari dokter Komar kami disarankan untuk screening lebih lanjut pendengaran Aisha. Begitu pula untuk lingkar kepalanya. 

Lingkar kepala Aisha termasuk kecil untuk usianya. Seharusnya sudah sekitar 38 hingga 40 cm, tapi lingkar kepala Aisha cuma 37 cm. 
Kekhawatiran dokter adalah kepala dan volume otak tidak berkembang sebagaimana mestinya. Untuk memastikan, perlu test CT scan juga.

Nah untuk test pendengaran Aisha, akhirnya dilakukan test ulang OAE. Karena saat bayi (sebelum pulang dari rumah sakit) Aisha juga sudah screening pendebgaran dan hasilnya REFER di sebelah kiri. 

OAE itu apa sih?
OAE adalah test menggunakan sebuah alat yang bekerja dengan tehnik Oto-Acoustic-Emissions. Alat ini berupa kotak pemeriksaan. Ujung alat pemeriksaan ditempelkan ke liang telinga bayi. 


Proses pemeriksaan tidak lama, kurang lebih 2-5 menit. Saat itu kebetulan sekali Aisha sedang tidur, jadi bisa diperiksa saat dalam gendongan saya. Selama kepala bayi tenang dan tidak bergerak gerak, OAE bisa dilakukan.


Hasil akhir pemeriksaan OAE Aisha untuk telinga kanan REFER dan telinga kiri REFER, padahal sudah dilakukan dua kali ulangan. REFER itu artinya apa? Artinya dari hasil test Aisha memang memiliki gangguan pendengaran di bagian kanan dan kiri telinganya. 


Saat hasil test dibacakan oleh dokter, berdesir dada saya. Dokter menanyakan apakah Aisha tidak pernah terganggu dengan suara suara kakaknya?

Saya sedikit heran, karena terkadang Aisha memang susah tidur kalau masih ada suara Shoji atau Rey berteriak teriak. Dokter lalu menyarankan Aisha diperiksa lebih lanjut dengan tes ASSR. 


Apakah itu ASSR test? Kita lanjut ke postingan berikutnya yaaa?


Salam, 

/Aya

Merawat bayi BBLR dan metode Perawatan Model Kangguru Aisha

Haiii...

Postingan kali ini saya akan melanjutkan kisah Aisha (bisa dibaca disini)

Aisha terlahir cukup bulan (39 week) namun memang beratnya amat sangat kurang. Dengan berat 1910 gram, Aisha seharusnya langsung dimasukkan inkubator. Namun karena saya yang kurang ilmu, ngotot minta Aisha rooming in.

Setelah sampai di UGD PKU, saya diminta menemui kepala ruang bayi untuk mendengarkan penjelasan tentang kondisi Aisha malam itu.
Hancur hati saya saat perawat ruang bayi mulai menjelaskan kondisi Aisha saat diterima disana.
- Nafasnya tersengal sengal karena sebelumnya Aisha menangis kencang
- Detak jantung tidak teratur dan amat sangat cepat seperti orang habis berlari lari
- Level GDS nya 0 (seperti orang puasa 3 hari)
- Suhu tubuh dingin
- Kulit sudah mulai membiru
Intinya kondisi sudah amat sangat kritis.

Hasil lab pada pemeriksaan darahnya mengatakan Aisha terkena infeksi bakteri terlihat dari kandungan leukositnya yang tinggi. Jadi Aisha harus menjalani terapi antibiotik.

22 September 2015
Kata Dokter Komar, Aisha sempat kejang, sehingga dokter memberikan obat anti kejang. Ada juga infus glukosa 10% untuk menaikkan kadar gula darahnya. Detak jantungnya juga masih dipantau mesin, begitu juga sensor untuk mendeteksi kejang Aisha. Hari pertama di inkubator, badan Aisha masih kaku kaku.

Sebagai seorang ibu, miris rasanya melihat Aisha tanpa bisa menyentuhnya. ASI diberikan lewat selang, Alhamdulillah ASI adalah ikhtiar saya untuk pengobatan Aisha.
Karena stress, ASI saya sempat macet, Alhamdulillah berkat doa dan support orang orang tersayang, saya selalu ditenangkan. Hanya tasbih yang menemani malam malam saya, lantunan dzikir untuk kesembuhan Aisha.

Beruntung di PKU ada kamar untuk ibu bayi beresiko. Jadi kami bisa beristirahat dan pumping disana. Berkumpul dengan ibu ibu kuat dan tegar yang lain, bisa menguatkan hati saya yang sat itu sedang remuk.

Selama di TPI saya sempat menulis beberapa catatan...

Hari kedua
23 September 2015 23:00

Hari ini hari Rabu. Satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Kata Uti, bunda lahir juga sewaktu malam takbiran. Tapi, malam takbiran kali ini ternyata harus bunda harus lewati di bangsal rumah sakit tempat penitipan ibu untuk bayi beresiko tinggi.
Menunggu tirai dibuka di jam besuk untuk bisa melihat Aisha 2 kali sehari.

Alhamdulillah, syukur pada Allah, diberikan teman teman baru. Mba Maya, ibu baby prematur 8 bulan (1,7 kg) dan mba Murti, ibu baby prematur 7 bulan 2,2 kg. Kami saling menyemangati disini. Memerah bareng, jam menyusui mereka adalah alarm bunda untuk memerah

Jadwal perah ASI Aisha
05.30, 08.30, 11.30, 14.30, 17.30, 20.30, 23.30, 03.00

Asi bunda kian bertambah, dan sampai saat ini Aisha masih bisa menerima ASI. Lewat ASI bunda, semoga Aisha tau kalau bunda disini menanti Aisha sehat dan kuat lagi...

Hasil perah setelah hari ke 3

Hari kelima
28 September 2015 23:25

Ini hari ke 5. Kondisi Aisha semakin membaik kata perawat, namun memang belum bisa menyusu langsung. Secara fisik Aisha semakin membaik.Alhamdulillah
Saat ini Aisha masih harus menyelesaikan terapi antibiotik. Katanya kalau sudah 7 hari baru bisa di cek lagi untuk test darah.
Jadi ingat, saat Rey sakit demam tinggi tiga mingguan sebelumnya, Rey juga nggak mau makan dan selama 7 hari harus menghabiskan antibiotik.

Aisha sayang,
Kata perawat mereka sedang mencoba menyuapimu menggunakan sendok. Bunda juga mau lhoooo. Bunda akan menyuapimu sambil bercerita nak...
Bunda sempat menangis di depan ayah tadi. Setegar tegarnya bunda, bunda tetap hanya manusia biasa. Hanya seorang ibu yang sudah 5 hari tidak bisa memeluk buah hatinya

Hari kedelapan
30 September 2015 17:10

Sejak kemaren Aisha sudah nenen langsung sama bunda jam 14.30
Rasanya bahagia banget bisa neneni Aisha lagi. Kata dokter, infus Aisha sudah bisa dilepas yeaaayy

Hari ini Oksigen Aisha juga dilepas dan bunda sudah diajari KMC (Kangaroo Mother Care) Atau PMK (PrawatanModel Kangguru) bunda pilih gendongan yang motifnya cantik secantik Aisha, motif batik :)

Gak sabar nunggu sesi KMC berikutnya...
Oh iyaaaa bunda bawakan buku Aisyah, buku pemberian ayah saat nikah dulu loh, untuk dibacakan ke Aisha...
Inspirasi nama Aisha dari Siti Aisyah, istri Rasulullah...

Bismillah ya Aisha
Sampai hari ini
Tante Maya sudah pulang
Tante Murti juga
Tante Fitri menyusul
Tante Esthi dan tante Fatma sudah pulang juga
Tinggal bunda, tante Fathin, tante Mita.

Yuuuk Aisha pulang, gk usah lama lama yaaa :)

Metode KMC /metode PMK


Hari ke duabelas
02 Oktober 2015

Hari ini adalah jadwal KMC yang ke 3. Bunda belajar membedong (lagi) Aisha plus dikasih edukasi
Untuk bayi terlahir BBLR metode perawatan yang baik adalah:
- KMC paling baik selama 20 jam
- nafas 60 kali/menit
- suhu tubuh 36,5 - 37,5°C
- minumi setiap 2 atau 3 jam sekali, jika bayi tidur, bangunkan dan sendoki ASI nya
- jaga selalu dalam kondisi hangat karena bayi rentan hipotermia dan hipoglikemia.

Biasakan mencuci tangan sebelum memegang bayi, siapapun yang menengok sebaiknya tidak memegang atau mencium bayi

Akhirnya di hari ke 13 Aisha bisa pulang kembali ke rumah. Ayah bunda dan Uda Shoji Rey senang sekali Aisha sudah pulang ke rumah

Mohon doa Aisha sehat sehat selalu yaaaa

Love
/Aya




Menantimu Aisha (VBAC part 2)

Baby Aisha


Hai haaaiiii....

Akhirnya kembali lagi menulis, setelah blog ini cukup berlumut.
Setelah bercerita tentang Yusuf, Shoji, Rey, kali ini jatahnya saya cerita tentang Aisha...

Alhamdulillah, 20 September 2015 kemarin telah lahir putri cantik adik Shoji Rey. HPL Aisha sebenernya 27 September 2015, sama seperti tanggal lahir saya (ngarep ultahnya barengan, jadi bermuhasabah barengan heheheh). Ternyata seminggu sebelum HPL Aisha sudah ingin nongol, jadilah tanggal 20 September itu sebagai hari lahirnya.

Cerita tentang Aisha bisa panjang sekali dan harus ditulis 2 postingan sepertinya. Postingan ini saya ingin cerita tentang menyambut kelahiran Aisha hingga kelahirannya.

Seperti juga kakak kakak yang lain yang mau punya adik, Rey dan Shoji excited sekali dengan perut saya yang kian membesar. Rey terutama, tak henti henti mencium dan mengelus perut saya. Tapi memang saya rasakan perut saya tidak sebesar kehamilan kehamilan sebelumnya, well tapi karena tidak ada masalah, saya pikir baik baik saja.

Minggu ke 35 saya cek USG, berat janin 2200 gr, maaih kurang sekali dan saya diminta konsumsi lebih banyak protein dan lemak untuk menambah berat janin. Di saat yang sama, Rey sedang sakit flu berat. Batuk, pilek dan pakai panas hingga 39 derajat pula.  Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata Rey kena infeksi bakteri jadi harus minum antibiotik.

Selama sakit, Rey selalu nempel sama saya. Tidur bareng saya, mintanya digendong dan dipangku terus. Kadang sampai perut saya kerasa amat panas kena transfer dari badan Rey. Alhamdulillahnya, saya nggak ketularan (ini ternyata efeknya lebih berbahaya, saya ceritakan di postingan berikutnya)

Sabtu, 19 September 2015 saya datang kondangan, ternyata sudah mulai terasa gelombang cinta dari baby Aisha kala itu, tapi memang masih belum teratur. Baru malamnya, kontraksi makin teratur dan makin kuat.

Pagi jam 08.00 saya berangkat ke rumahsakit dan ternyata baru bukaan 3, diminta menunggu di kamar hingga cukup bukaan untuk dibawa ke ruang VK. Jam 12 siang sudah bukaan 7, tapi belum ada tanda tanda bloody show, jadi saya diminta menunggu hingga jam 2.

Pukul 2 siang saya dibawa ke ruang bersalin, kontraksi kian kuat dan intens, tapi pembukaan tidak bertambah. Jam 19.00 saya mulai panik, tapi ayah Shoji dan dokter Farah (dokter yang membantu persalinan selalu menenangkan dan menyemangati saya)

Shoji mendoakan bunda di dalam ruang bersalin


Pukul 19.55, Aisha akhirnya lahir. Saya sudah merasa lega, tapi ternyata belum selesai sampai disitu. Aisha lahir tidak menangis, ketubannya keruh dan hijau. Perawat segera melakukan tindakan. Sementara saya dijahit, saya tidak merasakan kepanikan itu, tapi ayah Shoji melihat semuanya. Saya diberitahu kalau anak saya perempuan, tapi lahir Kecil, 1910 gram.

Akhirnya Aisha bisa menangis, segera ia diberi oksigen dan diobservasi. Saya yang tidak paham, ingin Aisha dirawat gabung saja. Perawat membolehkan dan tetap dengan membawa tabung oksigen.

Lahir jam 19.55, aisha jam 22.00 sudah bisa menyusu dan kuat. Berikutnya ia juga menyusu per 2 jam. Hingga pagi hari, 21 September 2015 Aisha masih terlihat sehat.

Jam 15.00 Aisha terakhir minum ASI, menjelang maghrib dia tampak pucat, menangis keras dan tidak mau menyusu. Akhirnya ayah Shoji membawa dia ke perawat. Pukul 8 malam saya diminta memerah susu saya untuk coba diminumkan ke Aisha, ternyata lewat sendok dan selang pun tidak bisa. Pukul 10 malam, dokter minta Aisha dirujuk ke RS yang punya PICU, karena harus masuk inkubator.

Jam 24.00 ambulance membelah Jogja menuju RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dari RS Griya Mahardika. Saya dan shoji ikut ambulance dengan perasaan tidak menentu. Aisha masuk ke ruang UGD dan segera dicarikan tempat di kamar bayi beresiko.

Apa yang terjadi selanjutnya? Kita lanjut ke postingan berikutnya yaaa :)

Love
/Aya

Waaaa...39 derajat

Hmm...lama absen bukan karena tanpa sebab. Sejak memasuki minggu 15 kemarin Senin, 6 September 2010, saya dihantui oleh kecemasan yang beralasan. Pulang kerja, *saya sengaja minta ijin untuk pulang cepat karena badan sedang tidak enak-enaknya* disertai hujan lebat beretir-petir *hayyyaahhh* saya sempat kehujanan sepanjang perjalanan pulang. Sampai rumah buru-buru melepas jas hujan lalu menuju ke kamar mandi 

HHOOEEEKKKKSSSS....Seumur-umur dari saya hamil sampe minggu ke 15 baru kali itu saya muntah. rasanya sungguh sangat tidak enak. Usai muntah, badan saya lemasss...dan saya terlentang dengan manisnya di tempat tidur. Sambil mengembalikan energi yang keluar bersama cairan asam itu, saya usahakan ngemil-ngemil karena makanan susah sekali untuk bisa ditelan.

Malamnya, saya menggigil hebat, tampaknya saya demam sudah sejak Maghrib, tapi karena hujan tak jua berhenti, saya belum sempat ke dokter. Akhirnya saya dan Uda menunggu keesokan hari untuk konsultasi ke dokter kandungan saya. Meminta ijin kantor untuk tidak masuk, saya ke dokter untuk cek kondisi janin *waktu itu saya juga mengidap penyakit flu dan batuk yang membuat perut saya sering sekali kontraksi*

Saya dan Uda datang paling awal *ngalah-ngalahin pegawai yang datang 20 menit kemudian* karena udah janjian, saya langsung dapat kesempatan masuk ruang periksa. Dr Ivanna menanyakan keadaan saya lalu segera minta saya untuk USG dan ukur suhu. 

"Waaahh, ini panasnya udah 38.9 derajat bu, kalau panasnya lebih tinggi lagi, kasihan dengan janinnya"
Saya yang nggak tau menahu apa-apa kontan panik "emang janinnya kenapa dok?" Dr Ivanna ngeliatin kunang-kunang yang menyalanya kian cepat "Ini jantung janinnya bu, kalau demam ibu tidak turun, dia berdetak makin cepat dan kalau gak kuat bisa berhenti." 

DeGGG!!! *itu suara jantung saya yang ikutan lebay* waduh, Dr Ivanna malah meminta saya untuk opname di Klaten, padahal saya sudah berencana untuk mudik ke Jogja *huhuuuu...masak berlebaran di kampung orang??? gakreladotcom*

Akhirnya saya nekad untuk tidakopname hari itu, sambil terus berdoa semoga panas saya tidak naik lagi.

Semalaman saya deg-deg plas juga.bentar-bentar cek termometer, sambil terus berdoa semoga tidak menembus angka 39. Allhamdulillah...malam terlalui dan suu tertinggi saya adalah 38,9. 

Rabu pagi saya langsung diantar Uda ke stasiun. Saya naik kereta jurusan Jogja, apapun yang terjadi. Badan panas saya berpadu dengan suara yang kian sengau dan batuk-batuk kecil membuat perjalanan saya ke Jogja yang tidak beroleh tempat duduk di kereta terasa makin dramatis. Untungnya di dalam kereta tidak terlalu lama.

Sampai di rumah, ibu sudah menunguku dengan harap-harap cemas, karena suhu badanku yang mencapai 39,2, aku langsung dilarikan ke RS bagian UGD. Perawat yang memeriksa bekerja sigap, cek suhu tubuh, cek detak jantung bayi dengan alat doppler dan minta saya cek darah sekalian. Menunggu tak berapa lama, saya sudah mendapat hasilnya, ternyata tidak ada sakit serius hanya panas dan demam karena masa inkubasi virus flu aja. saya boleh pulang.

Mulai tanggal  9 malam saya juga diberi obat penguat rahim (cygest progesteron) yang efeknya bikin mual abis n gak doyan makan. Waa...gagal deh rencana mau makan enak di Jogja karena semua makanan yang masuk ke mulut jadi gak ada rasanya. Tapi sudahlah mungkin memang begitu efek obatnya, berarti obatnya bekerja dengan baik ya...konsumsi obat baru dihentikan tgl 13 malam, tapi sampai sekarang rasa mual dan kebas rasanya kok belum hilang juga huhu...padahal tinggal 4 hari lagi masa liburan di jogja, belum sempat ke PH, WS, mie ayam Santika, dan tempat makan enak yang bikin saya ngiler semasa di Klaten. Besok pagi semoga lidah sudah mampu merasa ya....udah pengen nyobain kuliner Jogja yang yummie abiss.... :) ada usulan tempat makan yang enak gakk????